PENGGUNAAN MULSA DAUN KERING UNTUK PEMELIHARAAN TANAMAN PADA SISTEM AGROFORESTRI DAN PERHUTANAN SOSIAL

Oleh : Drs. Riskan Efendy, M.Sc.
(Mantan Peneliti Utama Litbang Kehutanan)

APA ITU MULSA DAUN KERING?

Kata mulsa berasal dari bahasa Inggris yaitu mulch yang artinya mulsa, jerami dan rumputan, campuran jerami basah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti mulsa /mul·sa/ bahan seperti jerami (serbuk gergaji, de-daunan dan sebagainya) yang disebarkan pada permukaan tanah untuk melindungi akar tanaman dari pengaruh air hujan (pemadatan tanah dan sebagainya); pemulsaan (pe·mul·sa·an)   teknik untuk menjaga tetapnya suhu tanah di sekitar akar tanaman, menahan uap air dalam tanah, mencegah erosi, dan menghilangkan tumbuhnya gulma dan penyakit.

Mulsa daun kering (MDK) adalah mulsa yang berasal hanya dari daun yang sudah kering, bukan daun yang masih basah atau belum kering. Daun kering mudah diperoleh dan banyak terdapat di berbagai tempat dibanding daun yang masih basah. Di lahan pertanian dan perkebunan saat ini terdapat banyak penggunaan mulsa plastik seperti mulsa plastik perak hitam (MPPH) dengan dua warna yaitu warna perak dan hitam yang berfungsi untuk menekan gulma, tetapi penggunaan MPPH tidak ramah lingkungan dan lama hancurnya, sebaiknya MPPH tidak digunakan di kawasan hutan.

Hasil review Iqbal et al (2020) terkait mulsa (mulching) intinya mengemukakan bahwa secara potensial mulsa dapat menurunkan evaporasi tanah, konservasi kelembaban, mengontrol suhu tanah, mengurangi pertumbuhan gulma, dan memperbaiki ktivitas mikroba. Selanjutnya Harsono (2012) melaporkan bahwa aplikasi mulsa organik  sebanyak 6 ton/ha pada musim kering telah menaikkan suhu tanah, kelembaban tanah, kapasitas tukar kation, pH, C organik, bahan organik tanah, total N, ketersediaan K dan rasio C/N. Hasil penelitian menunjukkan produksi tertinggi diperoleh pada perlakuan mulsa organik yaitu jerami padi dengan bobot buah segar, sekitar 1.29 kg pertanaman. Tanaman yang menerapkan perlakuan mulsa organik dapat menghasilkan buah perplot 18% lebih besar bila dibandingkan dengan tanaman yang diberi perlakuan mulsa plastik polietilen hitam perak.

SUMBER-SUMBER MULSA DAUN KERING

  1. Pekarangan rumah, berupa daun-daun kering yang jatuh dari pohon-pohon buah atau tanaman hias yang terdapat dipekarangan. Pohon-pohon buah tersebut misalnya pohon mangga, rambutan, jambu, pepaya dll. Masyarakat sering membakar daun kering di mana menimbulkan asap yang berbahaya bagi manusia. Sebaiknya daun kering disimpan dalam lobang atau karung yang selanjutnya dijadikan MDK yang sangat bermanfaat.
  2. Lahan pertanian, biasanya sehabis panen banyak terdapat daun-daun yang kering dari tanaman pertanian seperti jagung, kacang tanah, kedelai, tanaman sayuran yang kering atau telah mati seperti tanaman cabe, terong dan kacang panjang. Daun kering tersebut tidak boleh dibakar.

Gambar 1. Akar baru di sekitar tanaman

  1. Lahan hutan, khususnya di bawah pohon baik hutan alam maupun hutan tanaman banyak ditemui daun-daun kering. Daun kering tersebut dapat dimanfaatkan untuk pemeliharaan tanaman. Di Hutan Tanaman Rakyat (HTR) sekala kecil khususnya dalam sistem agroforestri dan perhutanan sosial banyak terdapat daun kering di bawah tegakan. Daun-daun tersebut dapat dimanfaatkan untuk dijadikan MDK.
  2. Hasil pemotongan rumput seperti di pekarangan rumah, lapangan olahraga, taman atau pekarangan yang punya rumput yang luas.

MANFAAT MULSA DAUN KERING (MDK)

Menekan pertumbuhan gulma. Bila kita mananam suatu tumbuhan apakah bentuknya tanaman pohon buahan atau tanaman pohon maka di sekitarnya akan tumbuh gulma atau rumput liar, yang tidak diinginkan kehadirannya. Gulma ini juga akan mengganggu tanaman yang kita tanaman sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan cepat dan bahkan bisa mematikan tanaman tersebut. MDK bisa kita gunakan untuk menekan gulma sehingga gulma tidak bisa tumbuh karena gulma tidak mendapat sinar matahari. Seperti kita ketahui tanpa sinar matahari tumbuhan tidak bisa tumbuh.

Menjadi kompos setelah lapuk. Mulsa daun kering berupa daun, lama kelamaan akan lapuk dan hancur. Dengan hancurnya daun tersebut akan terurai menjadi zat organik. Zat organik tersebut akan diserap oleh akar tumbuhan. Semakin banyak MDK yang hancur maka akan semakin banyak zat organik yang bisa diserap oleh akar tanaman. Di sekitar bagian bawah batang banyak terdapat akar baru, bahkan muncul akar-akar dari batang. Hal ini juga akan mempecepat pertumbuhan pohon.

Menjaga kondisi tanah sekitar tanaman. Kondisi tanah di sekitar tanaman juga penting agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Tanah akan tetap dalam kondisi yang baik karena terlindung oleh MDK.

Mengundang datangnya cacing. Tanah yang berada di bawah MDK akan tetap lembab dan banyak terdapat nutrisi. Hasil penelitian di Cikampek menunjukkan bahwa di sekitar perakaran di bawah MDK banyak terdapat cacing. Cacing juga membuat lobang sehingga terjadi aerasi yang baik di bawah MDK di sekitar tanaman. Hal ini juga menyebabkan sistem perakaran yang baik yang akhirnya menyebabkan tanaman tumbuh lebih cepat. (Effendi 2013; Effendi dan Mindawati 2015).

Ramah lingkungan. Pengumpulan MDK akan membersihkan pekarangan rumah, taman dan secara umum membersihkan lingkungan yang akhirnya membuat lingkungan lebih asri nyaman dan terutama sehat bagi mata dan jiwa. Lingkungan yang indah dan asri dan sehat sangat disukai oleh msayarakat.

Membuat tanah tidak kering. Pemberian MDK di sekitar tanaman akan menyebabkan tanah sekitar tanaman tidak kering karena terlindung dari sinar matahari. Bila tanah kering akan menyulitkan perakaran tanaman. Sebaliknya kondisi tanah yang tidak kering atau lembab akan menyebabkan akar mudah memasuki tanah untuk mencapai hara yang sangat berguna untuk pertumbuhan tanaman.

Membuat tanah menjadi lembab dan suhu yang rendah dan cocok untuk pertumbuhan. Tanah disekeliling tananam yang ditutupi oleh MDK akan menjadi lembab, di mana suhu tanah menjadi relatif rendah bila dibandingkan dengan tanah yang terbuka tanpa menggunakan MDK. Ini akan membuat akar tumbuhan mudah menembus tanah.

Mempercepat pertumbuhan tanaman. Tanaman yang diberi MDK akan tumbuh lebih cepat karena tidak ada saingan dalam mencari makanan di tanah. MDK yang hancur menjadi sumber makanan yang baik bagi tanaman.

Mengurangi biaya pemeliharaan tanaman. Pemeliharaan tanaman merupakan satu paket dengan penanaman, misalnya pada pembangunan HTI, HTR, Hutan Desa, HKm, dan ptoyek regenerasi hutan dan lahan di mana pemeliharaan harus dilakukan sejak tanaman masih muda. Pemeliharaan dilakukan sampai tanaman berumur tiga tahun untuk tanaman hutan. Frekuensi pemeliharaan tanaman umumnya setiap tiga bulan atau sebanyak empat kali per tahun bahkan lebih tergantung kondisi gulma di sekitar tanaman. Penggunaan MDK di sekeliling tanaman hutan, tanaman buahan atau tanaman pertanian akan mengurangi biaya pemeliharaan karena MDK dapat menekan pertumbuhan mulsa selama kurang lebih enam bulan tergantung ketebalan mulsa. Biasanya mulsa akan hancur setelah enam bulan dan pada saat itu dilakukan pemberian kembali MDK dengan ketebalan sekitar 20 cm. Pemeliharaan setiap empat kali setahun dapat dikurangi menjadi hanya dua kali setahun. Hal ini tentu saja akan mengurangi biaya pemeliharaan pada tanaman hutan, tanaman buah-buahan bahkan tanaman sayuran di sistem agroforestri dan perhutanan sosial.

Mencegah sinar matahari menembus langsung ke tanah. Pemberian MDK di sekeliling tanaman akan menghalangi sinar matahari mencapai tanah, karena adanya MDK yang cukup tebal. Hal ini memberikan berbagai manfaat bagi tanah disekeliling tanaman di antaranya tanah tidak kering melainkan tetap lembab.

Mencegah terjadinya erosi permukaan. Pada lahan yang miring sering terjadi erosi permukaan atau surface run-off bila tanah dalam kondisi terbuka tanpa penutup misalnya rumput atau tananam. Pemberian MDK pada permukaan tanah di sekitar tanaman akan menghindari terjadinya erosi permukaan karena air akan tertahan oleh MDK dan akhirnya akan meresap kedalam tanah.

Biaya penggunaan MDK untuk pemeliharaan tanaman tidak mahal. Biaya yang diperlukan adalah upah kerja untuk mengumpulkan MDK, mencincang MDK dan menyimpannya dalam lubang atau karung untuk digunakan setelah tumpukan MDK sudah hancur.

CARA PEMBERIAN MDK PADA TANAMAN

Daun yang digunakan adalah daun yang sudah kering. Daun yang berukuran besar seperti daun ketapang atau daun sukun, maka daun itu harus dicincang agar menjadi kecil. Daun yang berukuran besar menyebabkan tumpukan daun akan terdapat celah untuk sinar matahari sehingga gulma yang berada di bawah MDK akan tumbuh. Daun yang berukuran kecil sekitar 3-5 cm bila ditumpuk setebal sekitar 20 cm, maka sinar matahari tidak akan bisa menembus MDK.

Gambar 2. MDK di sekitar pohon

Pemberian MDK di sekelilimg tanaman dengan lebar atau jaraknya sekitar 30 cm atau satu jengkal setengah dari tanaman sehingga garis tengahnya 60 cm atau jari-jari 30 cm. Ketebalan MDK yang diletakkan di sekitar tanaman adalah 20 cm. Beratnya MDK yang kita perlukan untuk setiap pohon kurang lebih 3 kg. Hal ini bertujuan agar sinar matahari tidak menembus ke tanah sehingga gulma atau rumput tidak bisa tumbuh.

Tumpukan MDK di sekitar tanaman sebaiknya dipadatkan atau diinjak agar padat dan tidak bisa ditembus sinar matahari. Setelah MDK hancur dalam waktu sekitar 6 bulan maka dilakukan pemberian MDK lagi setebal 20 cm dan dilakukan sampai tanaman berumur 3 tahun untuk tanaman hutan dan pohon buahan, sedangkan untuk sayuran seperti cabe rawit dan cabe besar tergantung kondisi dan kesuburan tanah.

PENGGUNAAN MDK PADA SISTEM AGROFORESTRI DAN PERHUTANAN SOSIAL

Sistem agroforestri atau tumpang sari (taungya system) dan perhutanan sosial pada intinya adalah pemanfaatan lahan secara berdampingan dalam waktu yang sama untuk tanaman hutan dan tanaman pertanian dalam arti luas meliputi pertanian, perkebunan, buah-buahan, perikanan, tanaman rempah dan bahkan tanaman obat.

Umumnya jenis tanaman hutan yang ditanam adalah jenis cepat tumbuh dan mempunyai pasaran yang baik dan mudah dijual untuk menambah penghasilan para petani hutan. Jenis pohon seperti sengon, kayu Afrika, suren, mangium, kayu bawang, cempaka dan jenis-jenis andalan setempat menurut lokasi banyak ditanam oleh masyarakat dalam luasan yang kecil. Di samping pohon hutan pada lahan tersebut yaitu di bawah tegakan tanaman hutan, juga ditanami pohon buahan seperti pisang, pepaya, jeruk, cocoa, cengkeh dan kopi, Juga ditanami sayuran seperti cabe rawit, terong dan tanaman yang tahan naungan seperti tanaman rempah. dan bahkan tanam-an obat. Pohon-pohon buah di antaranya alpu-kat,rambutan, sukun, mangga, manggis, dan kelapa.

Pemeliharaan setelah penanaman sangat diperlukan oleh tanaman hutan, paling tidak sampai umur 3 tahun. Hal yang sama juga untuk pohon buah. Pemakaian MDK sangat membatu petani agroforestri dan perhutanan sosial untuk memelihara tanamannya. Akan lebih baik bila MDK di kombinasikan dengan pupuk kandang dan pupuk organik lainnya. Pemakaian MDK untuk pemeliharaan mudah dilaksanakan, biaya murah, bahan baku MDK tersedia di bahkan lahan hutan agroforestri dan lahan perhutanan sosial. Sehubungan dengan itu, para petani hutan hendaknya didorong untuk menggunakan MDK yang telah terbukti sebagai penyubur tanah, murah, banyak manfaat, meningkatkan produksi pohon dan pertanian serta ramah lingkungan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, R. 2013. Mulsa daun kering, penyubur tanah, menekan gulma dan ramah lingkungan. Booklet. Pusat Litbang Hutan Tanaman Badan Litbang Kehutanan Bogor.

Effendi, R dan N. Mindawati. 2015. Budidaya Jenis Pohon Nyawai (Ficus variegata Blume.). Pusat Litbang Hutan Badan Litbang Kehutanan Bogor.

Harsono, P. 2012. Mulsa organik: pengaruhnya terhadap lingkungan mikro, sifat kimia tanah dan keragaan cabai merah di tanah vertisol Sukoharjo pada musim kemarau. Jurnal Hortikultura Indonesia, 3(1), 35-41. DOI: https://doi.org/10.29244/jhi.3.1.35-41. Diakses dari internet tanggal 12 Oktober 2023.

Iqbal, R., Raza, M.A.S., Valipour, M., Saleem, M.F.,Zaheer,M.S., Ahmad, S., Toleikiene,M., Haider, I.,Aslam, M.U. and Nazar, M.A., 2020. Potential agricultural and environmental benefits of mulches—a review. Bulletin of the National Research Centre, 44(1), pp.1-16. https://bnrc.springeropen.com/articles/10.1186/s42269-020-00290-3. Diakses dari internet tanggal 12 Oktober 2023.