SUKUN (Artocarpus altilis) ALTERNATIF CADANGAN PANGAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN

Oleh : Dedi Setiadi, S.TP., M.Sc.- Ir. Harry Budi Santoso Sulistiadi, M.P.
Ir. Mashudi, M.Sc. – Ir. Sugeng Pudjiono, M.P.
(Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional)

 

PENDAHULUAN

Tanaman sukun (Artocarpus altilis) merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak dikembangkan di berbagai negara. Di beberapa negara di kawasan Pasifik, buah sukun bahkan merupakan salah satu bahan makanan pokok dan menjadi komoditas andalan untuk ekspor. Meskipun bukan sebagai bahan makanan pokok, masyarakat Indonesia telah lama mengenal dan membudidayakan tanaman sukun baik sebagai tanaman pekarangan maupun di kebun. Hal ini terbukti dengan adanya sebaran tanaman sukun sangat luas mulai dari Aceh sampai dengan Papua. Selain buahnya, pemanfaatan tanaman sukun terus diteliti dan dikembangkan dari bagian daun dan kulit batang sebagai bahan obat untuk mengatasi berbagai macam gangguan penyakit, namun pengembangan-\nya masih secara tradisional dengan memanfaatkananakan dari daerah setempat. Terbatasnya informasi mengenai teknik budidaya dan ragam kultivar sukun yang ada di nusantara dan ragam pemanfaatan buah sukun menyebabkan pengembangan jenis tanaman ini tidak pesat. Padahal dengan sebarannya yang sangat luas di Indonesia sangat potensial untuk dikembangkan sebagai alternatif substitusi bahan makanan pokok masyarakat.
Berdasarkan hasil pengamatan dari beberapa populasi diketahui adanya variasi morfologi dan kandungan gizi buahnya. Oleh karena itu pengembangan ke depan diperlukan seleksi klon-klon sukun unggulan yang memiliki kandungan gizi buah yang tinggi dan daya adaptasi yang lebar terhadap kondisi lingkungan tumbuhnya. Demikian pula diperlukan pengembangan iptek pembibitan yang mudah diterapkan oleh masyarakat dan dapat menghasilkan bibit dalam jumlah yang memadai untuk kegiatan penanaman.

KANDUNGAN GIZI BUAH SUKUN

Penanaman klon sukun dilakukan di Playen, Gunung Kidul Yogyakarta. Plot uji klon tersebut dibangun pada tahun 2003-2006 dengan menggunakan materi genetik yang dikoleksi dari berbagai sebaran populasi tanaman sukun di Indonesia yaitu Banten, Sukabumi, Cilacap, Yogyakarta, Kediri, Banyuwangi, Bali, Mataram, Lampung, Bone, Malino, Sorong dan Manokwari. Pengamatan secara langsung terhadap semua karakter pertumbuhan tanaman untuk menggambarkan setiap kondisi tanaman dari masing-masing populasi asal sukun. Karakter pertumbuhan yang diamati yaitu persentase hidup tanaman, tinggi pohon, diameter batang, gejala serangan hama/penyakit dan produksi buahnya. Dipergunakan pula data hasil analisis kandungan gizi buah sukun dari masing-masing populasi seperti kadar air, karbohidrat, lemak, protein, pati, vitamin C, fosfor, kalsium dan serat. Berdasarkan hasil seleksiyang dilakukan pada plot uji klon sukun di Gunung kidul diperoleh 5 populasi yang menunjukkan daya adaptasi terbaik terhadap kondisi lahan penanaman serta memiliki rerata tingkat pertumbuhan tanaman yang lebih baik dari populasi-populasi lainnya. Kelima populasi tersebut adalah sebagai berikut:

1.  Sukun lokal Yogyakarta

Tanaman sukun di Yogyakarta ada 2 kultivar yaitu sukun yang buah berbentuk bulat sampai lonjong dan tidak berduri dan sukun yang buahnya bulat dan berduri dengan ukuran buah yang lebih kecil serta rasanya lebih manis.  Buah sukun yang tidak berduri diduga berasal dari daerah Cilacap, sedangkan sukun yang berduri dikenal dengan sukun lokal Yogyakarta seperti tampak pada Gambar 1. Sukun lokal beratnya berkisar antara 1-1,5 kg sedangkan suku gundul dapat mencapai 2-4 kg/buah. Penyebaran sukun di Yogyakarta merata di seluruh kabupaten yang ada yaitu Bantul, Gunung Kidul, Sleman dan Kulonprogo. Tanaman sukun sudah umum dibudidayakan oleh masyarakat sebagai tanaman pekarangan atau di kebun terutama untuk tipe buah sukun yang tidak berduri. Adapun tanaman sukun lokal sebarannya tidak merata yang terdapat diwilayah Sleman dan Gunung Kidul. Berdasarkan hasil analisis kandungan gizi per 100 gram daging buah sukun yang dilakukan di laboratorium diperoleh hasil sebagai berikut: kadar air 73,32,03%, abu 1,03%, karbohidrat 23,69%, lemak 0,23%, protein 1,73%, pati 15,63%, vitamin C 14,22 mg/100g, phosphor 49,50 mg/100g, kalsium 45,40 mg/100g dan serat kasar 1,40%.

Sukun Yogyakarta

Gambar 1A. Pohon induk                                                            Gambar 1B Buah sukun lokal dari Yogyakarta

2. Sukun Bone Sulawesi Selatan

Penyebaran tanaman sukun di Sulawesi Selatan terdapat di kabupaten Gowa, Maros, Bone, Sopeng, Enrekang, Wajo dan Bulukumba. Buah sukun dari daerah-daerah tersebut menunjukkan kesamaan yaitu tipe buah lonjong dan berduri sampai tua/matang dengan warna kulit buah hijau muda. Sebaran tanaman sukun di Sulawesi Selatan relatif merata mulai dari dataran rendah sampai daerah dataran tinggi/perbukitan. Masyarakat sudah turun temurun membudidayakan sukun sebagai tanaman pekarangan maupun di tegalan/kebun bercampur dengan jenis komoditas lainnya seperti coklat, kemiri, mangga, pisang, kelapa, tanaman pertanian/ semusim (ketela pohon dan ubi jalar).

Bentuk buah sukun lonjong dengan ukuran sedang sampai besar yaitu panjangnya 14-20 cm, diameter buah 11-15 cm dan beratnya 850-1350 gram seperti disajikan pada Gambar 2. Hasil panen buah sukun umumnya dijual ke pasar dan sebagian dikonsumsi sendiri. Pengolahan buah sukun menjadi makanan ringan kripik sudah berkembang di masyarakat dan sudah dipasarkan secara luas ke wilayah Makassar dan sekitarnya. Hasil analisis kandungan gizi buahnya diperoleh kadar air buah 74,65%, abu 1,23%, kandungan karbohidrat 19,82%, lemak 0,56%, protein 2,50%, pati 16,55%, fosfor 31,68 mg/100 g, kalsium 251,45 ppm, vitamin C 38,92 mg/100g dan serat kasar 1,64%.

Gambar 2A. Pohon induk                                                               Gambar 2B. Buah sukun dari Bone, Sulawesi Selatan

3. Sukun Papua Barat

Sebaran sukun di Papua Barat relatif luas antara lain di Sorong dan Manokwari yang sudah terkenal dan menjadi sentra produksi makan ringan berupa keripik dari buah sukun sebagai oleh-oleh bagi para wisatawan yang berkunjung ke wilayah tersebut. Berdasarkan informasi dari masyarakat sukun yang paling enak berasal dari Pulau Jefman yang biasa dijadikan oleh-oleh khas daerah setempat. Penyebaran tanaman sukun umumnya banyak ditemukan di daerah pesisir pantai sampai dataran rendah di perkampungan penduduk dengan ketinggian 1-100 m di atas permukaan laut. Habitus pohon sukun di kawasan ini umumnya monopodian namun memiliki percabangan yang rendah dan sudut percabangan yang lebar. Musim buah sukun umumnya sekitar bulan Maret dan September. Buah sukun berbentuk lonjong dan berduri sampai tua/matang dengan ukuran sedang sampai besar dan berwarna hijau kekuningan seperti disajikan pada Gambar 3.

Sebaran tanaman sukun di daerah Sorong terdapat diwilayah Sorong Daratan (Tanjung Kasuari, daerah Kampung Baru dan Kilo Sepuluh) dan Sorong Kepulauan seperti di P. Dom, P. Jefman, P. Buaya dan P. Soop. Hasil pengamatan di Manokwari juga sama dilaporkan bahwa sebaran tanaman sukun ditemukan mulai dari pesisir sampai daratan dengan ketinggian 1 s.d. 44 mdpl antara lain di daerah Sanggeng, Kampung Suwen dan Amban di Distrik Manokwari. Hasil analisis kandungan gizi buah sukun dari Papua Barat adalah sebagai berikut: kadar air buah 75,96%, abu 0,964%, karbohidrat 18,19%, lemak 0,58%, protein 2,55%, pati 16,94%, fosfor 35,68 mg/100g, kalsium 89,84 ppm, vitamin C 47,74 mg/100g dan serat kasar 1,25%.

Gambar 3 A. Pohon induk                                                             Gambar 3B. Buah sukun dari Sorong, Papua Barat

4. Sukun Bali

Bali dan Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu daerah sebaran tanaman sukun meskipun sebarannya sebarannya tidak merata di seluruh kawasan pulau. Pertumbuhan tanaman umumnya soliter atau tegakan kebun campuran dengan jenis tanaman lainnya. Jenis sukun dari kawasan ini adalah tipe buah sukun yang berbentuk bulat dan tidak berduri pada tua dengan warna kulit buah hijau kekuningan (Gambar 4).  Sebaran sukun di Pulau Bali antara lain di Denpasar Selatan seperti di Desa Sempidi, Poan, Pregaya, Batang Asem dan Sading. Hasil analisis kandungan gizi buah sukun dari Bali diperoleh kandungan protein yang rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan sukun dari beberapa daerah lainnya yaitu berkisar antara 2,41 – 4,21% sedangkan umumnya kandungan protein pada buah sukun sekitar 1,3-2,0% (Widowati, 2003). Hasil analisis kandungan gizi buah selengkapnya yaitu kadar air buah 74,78%, abu 0,66%, karbohidrat 14,047%, lemak 0,65%, protein 3,67%,pati 10,18%, fosfor 21,24 mg/100g, kalsium 165,18 ppm, vitamin C 26,28 mg/100g dan serat kasar 1,69% dengan jumlah kalori per 100 gram sekitar 72,89   kalori.

Gambar 4A. Pohon induk                                                                          Gambar 4B. Buah sukun dari Bali

5. Sukun Cilacap

Penyebaran tanaman sukun diwilayah Cilacap, Jawa Tengah cukup luas dan relatif merata mulai dari daerah sekitar pesisir seperti Desa Widarapayung sampai ke dataran rendah. Masyarakat sudah lama membudidayakan sukun sebagai tanaman pekarangan. Daerah Cilacap juga merupakan salah satu sentra produksi buah sukun dan sentra produksi bibit sukun yang telah lama dikembangkan dan dipasarkan ke berbagai daerah lain di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Sukun Cilacap berasal dari Pulau Bawean, Jawa Timur sehingga memiliki kesamaan morfologi pohon maupun buahnya dengan sukun yang berasal dari Kediri dan Banyuwangi yang merupakan daerah sentra produksi buah sukun di Jawa Timur. Hasil pengamatan pohon sukun di Cilacap menunjukkan rerata tinggi pohon 11-16 m dan diameter batang/dbh 34,39-70,06 cm. potensi produksi buah sukun per tahun rata-rata 60-200 buah dengan 2-3 kali musim panen. Bentuk  buah sukun termasuk tipe buah bulat – lonjong dan tidak berduri atau dikenal “sukun gundul” dengan ukuran buah bervariasi dari sedang sampai besar rata-rata beratnya 960-1475 gram, panjang buah 15-18 cm, lebar 13,8 cm dengan warna kulit buah hijau kekuningan seperti tampak pada Gambar 5. Hasil analisis kandungan gizi buah sukun Cilacap yaitu kadar air 67,42%, abu 1,10%, karbohidrat 29,24%, lemak 0,30%, protein 1,94%, pati 20,49%, posfor 52,51 mg/100g, kalsium 51,17 mg/100g, vitamin C 11,73mg/100g dan serat kasar 1,74%.

Gambar 5A. Pohon induk                                                 Gambar 5B. Buah sukun dari Cilacap, Jawa Tengah

TEKNIK PERBANYAKAN

Pembibitan sukun dilakukan secara vegetatif karena buah sukun bersifat partinokarpi atau tidak memiliki biji. Teknik pembibitan yang dapat diterapkan di persemaian yaitu stek akar, stek pucuk, stek batang dan kultur jaringan. Tingkat keberhasilan tumbuh stek akar sukun rata-rata 71,80- 85,20%. Tingkat keberhasilan tumbuh stek pucuk sukun dapat mencapai rata-rata 90-100%. Sementara tingkat keberhasilan tumbuh stek batang sukun rata-rata 72-97%. Pembibitan sukun dengan stek akar, stek pucuk dan stek batang dapat dilakukan dengan cara yang relatif mudah, dengan menggunakan media pasir sungai pada bedengan yang ditutup sungkup plastik. Stek yang sudah berakar selanjutnya disapih ke media pertumbuhan berupa campuran tanah dan pupuk organik (kompos/pupuk kandang) dengan perbandingan 3:1 pada bedengan terbuka atau tidak disungkup. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan tunas dan akar pada bedengan sungkup sekitar 2-3 bulan dan setelah itu bibit disapih ke media pertumbuhan berupa campuran tanah dan kompos (3:1) selanjutnya dipelihara di bedeng sapih selama 3-4 bulan. Bibit sukun yang sudah berumur 6 bulan di persemaian sudah siap untuk ditanam di lapangan (Gambar 6).

A                                                                            B

Gambar 6. Stek batang di persemaian (A; baru ditanam, B; umur 3 bulan)

Kegiatan pengembangan materi genetik sukun unggulan dilakukan dalam rangka pembuatan tegakan hutan cadangan pangan, menyebarluaskan informasi teknik budidaya sukun mulai dari teknik pembibitan, kegiatan penanaman di lapangan sampai dengan informasi teknik pengolahan hasil buah sukun. Pembangunan plot hutan cadangan pangan dilakukan dalam rangka menyediakan demplot-demplot tanaman sukun unggulan yang pembangunannya dilakukan secara bekerja sama dengan para pihak/pengguna baik instansi pemerintah, swasta, pondok pesantren dan masyarakat. Pembangunan hutan cadangan pangan sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat yang sering mengalami kerawanan pangan terutama desa-desa di sekitar hutan.

Berdasarkan hasil pengamatan tanaman sukun di Gunungkidul pada umur 5 tahun, produksi buah per pohon sukun sebanyak 6-36 butir. Dalam satu buah sukun kandungan karbohidratnya dapat mencapai 28,2% sehingga sangat potensial bahan makanan pokok pengganti beras. Dari satu buah sukun yang beranya sekitar 1500 gram tersedia karbohidrat 365 gram yang cukup untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat 3-4 orang dalam sekali makan. Mengingat sebarannya yang sangat luas di seluruh nusantara, maka  pengembangan tanaman sukun  merupakan salah satu upaya penting dalam  mendukung ketahanan pangan nasional melalui program diversifikasi pangan.

OLAHAN BUAH SUKUN 

Tanaman sukun dimanfaatkan buahnya sebagai sumber bahan makanan yang memiliki kandungan gizi tinggi dan dapat diolah dengan bermacam-macam cara dari cara tradisional sampai modern. Buah sukun dapat diolah menjadi tepung yang selanjutnya dapat diolah menjadi beraneka menu makanan yang bernilai ekonomi tinggi seperti terlihat pada Gambar 7, 8 dan 9 di bawah ini.

Gambar 7. Olahan sukun tradisional

Gambar 8. Olahan sukun masuk warung dan pasar

Gambar 9. Olahan sukun sudah dalam kemasan (Supermarket)

 

PUSTAKA

Abdassah, M., Sumiwi, S. A., & Hendrayana, J. (2009). Formulasi Ekstrak Daun Sukun (Artocarpus altilis ( Parkins .) Fosberg ) Dengan Basis Gel Sebagai Antiinflamasi. J. Far. Indonesia, 4(4), 199–209.

Adinugraha, H. A. (2011). Pengaruh Umur Pohon Induk Dan Jenis Media Terhadap Pertumbuhan Stek Akar Sukun. Wana Benih, 12(1), 21–29.

Adinugraha, H. A., & Kartikawati, N. K. (2012). Variasi morfologi dan kandungan gizi buah sukun. Wana Benih, 13(2), 99–106.

Adinugraha, H. A., & Setiadi, D. (2015). Pengembangan Teknik Budidaya Sukun (Artocarpus altilis) Untuk Mendukung Pembangunan Hutan Cadangan Pangan. Prosiding Seminar Agroforestry, 59–64.

Adinugraha, H. A., & Wahyuningtyas, R. S. (2018). Pertumbuhan Stek Batang Sukun Dari Lima Populasi Sebaran. Prosiding Seminar Nasional Silvikultur Ke-V, 307–311.

Arung, E. T., Wicaksono, B. D., Handoko, Y. A., Kusuma, I. W., Yulia, D., & Sandra, F. (2009). Anti-cancer properties of diethylether extract of wood from Sukun (Artocarpus altilis) in human breast cancer (T47D) cells. Trop. J. of Pharm. Res., 8(4), 317–324. https://doi.org/10.4314/tjpr.v8i4.45223

Bangsawan, I., & Diprabowo, H. (2012). Hutan Sebagai Penghasil Pangan Untuk Ketahanan Pangan Masyarakat: Studi Kasus di Kabupaten Sukabumi. JURNAL Pen. Sos. dan Ekon. Kehut, 9(4), 185–197.

Deivanai, S., & Bhore, S. J. (2010). Breadfruit (Artocarpus altilis Fosb.) An Underutilized and Neglected Fruit Plant Species. MId. East J. of Sci.c Res., 6(5), 418–428.

Elevitch, C. R., & Ragone, D. (2018). Breadfruit Agroforestry Guide: Planning and implementaton for regenerative organic methods. Breadfruit Institute of the National Tropical Botanical Garden, Kalaheo,Hawaii and Permanent Agriculture Resources, Halualoa Hawaii.

Kartikawati, N. K., Adinugraha, H. A., Setiadi, D., & Prastyono. (2010). Variasi Produktivitas dan Morfologi Buah Sukun (Artocarpus altilis) Pada Uji Klon di Gunungkidul. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian Balai Besar Penelitian Bioteknologi Dan Pemuliaan Tanaman Hutan, 97–104.

Mariska, I., Supriati, Y., & Hutami, S. (2004). Mikropropagasi Sukun (Artocarpus communis Forst), Tanaman Sumber Karbohidrat Alternatif. Kumpulan Makalah Seminar Hasil Penelitian Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Bioteknologi Dan Sumberdaya Genetic. Badan Penelilitian Dan Pengembangan Pertanian. Bogor Pertanian, 180–188.