Pengantar Redaksi

Pada saat kami mempersiapkan penerbitan MRI kali ini, wabah covid 19 sedang menjadi tranding topic. Pandemi covid 19 telah menempatkan kita semua dalam situasi krisis. Siapa yang menyangka betapa cepatnya pusaran arus krisis ini sudah menyeret kita ke dalamnya. Suatu yang awalnya kita kira hanya terjadi jauh di luar sana, tiba-tiba sampai di depan mata kita.

Dampak dari pandemi inipun begitu luas terhadap 184 dari 195 negara di dunia ini. Tidak hanya pada bidang kesehatan, tetapi juga terutama terhadap kehidupan perekonomian sebagian besar warga dunia ini. Begitu banyak bisnis yang berguguran akibat individu membatasi eksposurnya keluar rumah.

Inilah tantangan terbesar yang dihadapi setiap pemimpin organisasi di dunia ini, mulai dari pemerintahan dan perusahaan besar di seluruh dunia, sampai pada organisasi non profit sekalipun. Semua mata memandang kepada mereka, bagaimana mereka akan membawa organisasinya bertahan bahkan keluar dari situasi krisis yang belum ketahuan kapan akan berakhir ini. Siapa sangka kebiasaan-kebiasaan yang telah mapan sontak berubah drastis. Serba cepat. Tidak bertele-tele. Perubahan tatanan yang mapan menjadi serba baru itu, terjadi gara-gara dipaksa virus corona yang telah mewabah. Kebaruan yang serba efisien, efektif, dan bermanfaat. Sering orang mau berubah karena ketakutan yang tidak pernah diharapkan atau tidak terduga (unintended consequences). Pertanyaannya, bila wabah ini telah berlalu apakah kebiasaan atau tatanan lama harus kembali lagi? Atau harus diciptakan ketakutan buatan (artificial fear) agar ada inovasi dan kreatifitas? Apa boleh buat daripada semuanya dibikin kegiatanyang biasa-biasa saja (business as usual).

Situasi dan kondisi seperti sekarang ini, sebenarnya adalah kesempatan sangat berharga untuk menghasilkan perubahan di bidang kehutanan yang esensinya adalah penyederhanaan dan pembaruan. Menggunakan filsafat hukum tentang kebijakan, maka ada empat parameter atau batu uji, yaitu: Pertama, kebijakan harus berdasarkan kemaslahatan bagi rakyat. Kedua, salah satu tujuan berhukum adalah memelihara kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, tidak dibenarkan upaya-upaya yang berakibat pada hilangnya keberadaan manusia. Ketiga, menghindari keburukan harus diutamakan daripada meraih kemaslahatan. Keempat, keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Pendek kata, hukum/aturan sebagai instrumen kebijakan adalah untuk melayani manusia –bukan sebaliknya. Keempat hal tentang kebijakan itu, harus berbasis kebajikan utama. Menurut para filsuf Stoa (aliran Stoisisme), kebajikan utama itu ada empat hal, yaitu: Pertama, kebijaksanaan (wisdom): kemampuan mengambil keputusan terbaik dalam situasi apapun. Kedua, keadilan (justice): memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur. Ketiga, keberanian (courage): keberanian berbuat yang benar, berani berpegang pada prinsip yang benar. Keempat, menahan diri (temperance): disiplin, kesederhanaan, kepantasan, dan kontrol diri (atas nafsu dan emosi).

Berangkat dari keinginan seperti itu, maka MRI volume 65 ini menurunkan artikel-artikel bertemakan Kebijakan yang Bajik dalam Pembaruan Kehutanan. Semoga bermanfaat, dan selamat dalam mengatasi wabah covid-19. Mari bersatu melawan covid-19.