Artikel Utama

MENCARI ARTI DAN MAKNA KEBANGKITAN NASIONAL

Oleh: Ir. Suhariyanto, IPU, ASEAN Eng.

(Pengasuh Majalah Rimba Indonesia)

 

PROLOG

Hari Rabu, tanggal 20 Mei 2026, Persatuan Pensiunan Kehutanan Indonesia (Penshutindo) mengundang para anggotanya untuk berziarah ke salah satu tokoh Rimbawan yang sekaligus salah satu Pejuang Kemerdekaan RI, yaitu Bpk. Walman Sinaga yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dredet-Bogor. Mengisi agenda peringatan Hari Kebangkitan Nasional dengan bentuk ini, layak untuk diberikan respect dan apresiasi yang tinggi kepada jajaran Pengurus Penshutindo. Semalam sebelum pagi hari keberangkatan ke Bogor, sambil rebahan di atas tempat tidur, saya merenung: untuk apa saya ikut ziarah itu? Sekedar mengikuti acara ritual ziarah, atau hanya sekedar ramai-ramai ikut nglencer gratis ke Bogor?

Rombongan peziarah naik satu bis Kementerian Kehutanan, berangkat dari kompleks Manggala Wanabakti Jakarta sekitar pukul 8.30. Bis berjalan pelan menembus rutinitas kemacetan jalan-jalan kota Jakarta di pagi hari. Ditambah, waktu itu ada demonstrasi besar di jalan depan DPR-RI. Dari kelompok Masyarakat mana? – tidak tahu. Barangkali juga mengekspresikan tuntutan dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Sah-sah saja; toh menyatakan pendapat/tuntutan itu dijamin oleh konstitusi – asal tidak anarkis. Bis yang ditumpangi rombongan peziarah terus melaju diiringi hujan yang cukup lebat menuju TMP Dredet-Bogor melalui jalan tol Jagorawi. Suasana di dalam bis sepi-hening; masing-masing sedang asyik berdialog dengan dirinya sendiri. Entah sedang membongkar memori yang ada di lipatan otak, atau sedang merancang kehidupan ke depan sejalan dengan usia yang semakin bertambah banyak.

Sekitar pukul 10.15 sampailah rombongan pejiarah di TMP Dredet-Bogor. Rombongan anggota Penshutindo dari Bogor yang dipimpin mbak Cherita bergabung demikian pula rombongan dari Kemenhut yang dipimpin seorang Kepala Pusat mewakili Sekjen Kemhut.

Di pusara makam Almarhum Bapak Walman Sinaga, acara seremonial dimulai – dibuka oleh Bung Haryadi Himawan yang menjelaskan kisah nyata siapa almarhum yang sedang kita ziarahi ini, dan peran apa yang dilakukan di alam kemerdekaan sampai wafatnya di tahun 1993. Bung Haryadi Himawan telah menuangkannya dalam suatu tulisan ringkas/padat, harapan saya tulisan/artikel itu dapat diterbitkan oleh Majalah Rimba Indonesia (MRI) volume 84 yang akan terbit sekitar pertengahan Agustus 2026. Dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin sejawat kita Bung G. Siboro, yang pada intinya menyampaikan terima kasih dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Penshutindo dapat melaksanakan ziarah ini dengan sehat, damai dan sejahtera, memohon berkat Tuhan kiranya Rimbawan yang masih hidup ini dimampukan untuk meneruskan perjuangan dan mewujudkan cita-cita dari Almarhum Bapak Walman Sinaga, serta segenap keluarga yang ditinggalkan Almarhum diberi kekuatan dan damai sejahtera. Agenda sambutan-sambutan di awali dengan samputan dari pihak keluarga yang diwakili salah satu putranya, sejawat kita yaitu Bung Gunung Sinaga. Sambutan yang sangat mengharukan dan menginspirasi kita. Dijelaskan bagaimana keluarga Sinaga tersebut. Almarhum ibundanya juga seorang pejuang kemerdekaan yang dimakamkan di sebelah TMP Dredet, yaitu Taman Makam Bahagia. Betapa anak-anak begitu bersyukur, makam kedua orang tuanya diurus dan dipelihara oleh negara – tanpa membebani anak-anak yang ditinggalkannya. Begitu keras dan kuat prinsip almarhum bapaknya, kelima anaknya laki-laki harus bekerja atau mengabdi di bidang kehutanan khususnya di bidang konservasi. Sambutan selanjutnya berurutan: Kapus Kemenhut, mbak Yetty Rusli, Bung Susilo, dan Bung Slamet Soedjono (seorang senior Rimbawan peziarah yang umurnya paling banyak – hampir mencapai 90 tahun). Bung Slamet Soedjono adalah saksi pelaku yang hidup sezaman dengan almarhum Bpk. Walman Sinaga. Jadi, penjelasan beliau dalam metoda studi kesejarahan dikualifikasikan sebagai sumber data primer. Saya mendapat giliran menyampaikan sambutan yang terakhir. Bertolak dari berbagai sambutan yang telah disampaikan, ditambah perenungan saya semalam sebelum berangkat berziarah ini, saya sampaikan: kita datang berziarah ke sini ini bermaksud untuk mengenang, menghormati dan menghargai perjungan almarhum. Dari sini, kita bermaksud menemukenali warisan keteladanan yang telah almarhum lakukan. Pada saat perang kemerdekaan, bukanlah dalam keadaan yang nyaman – penuh penderitaan dan kesulitan secara fisik. Tetapi secara batiniah ada api semangat yang semakin berkobar-kobar – berjuang tanpa pamrih – taruhannya nyawa demi tegaknya kemerdekaan yang telah diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Kita ingin mendapatkan api semangat ini, bukan abunya. Keteguhan prinsip dan kuatnya cita-cita almarhum diwujudkannya secara continues dan consistent ikut membangun dunia kehutanan Indonesia khususnya dibidang konservasi  – tanpa berkeluh kesah – sampai akhir hayatnya. Sedangkan tujuan kita berziarah ini adalah untuk membangun dan memelihara relasi antar generasi Rimbawan Indonesia dalam bentuk memperkokoh soliditas dan solidaritas dengan terus mengembangkan belarasa (empaty) yang genuine. Kita sebagai kelompok Masyarakat yang telah pensiun dari PNS, memang tidak punya kekuasaan apapun dalam pemerintahan. Tetapi, dengan pengalaman berpuluh tahun yang kita jalani, kita punya kedalaman dan kematangan di sisi cognitive (otak/pemikiran), affirmation (emosi/perasaan), dan psychomotoric (perbuatan/tindakan). Arena perjuangan kita beralih ke arena pemikiran yang diekspresikan baik dalam kata-kata dalam diskusi maupun tulisan di berbagai media cetak baik dalam bentuk offline maupun online. Peziarahan ini, selanjutnya diakhiri dengan tabur bunga yang dipimpin oleh Ketua Umum Penshutindo, Bung Prie Supriyadi. Peziarahan yang sederhana, penuh khidmad, dan meninggalkan kesan dan pesan yang sangat mendalam. Bis rombongan para peziarah pulang kembali ke Jakarta, dan sampai di Kompleks Manggala Wanabakti sekitar pukul 13.30. Sesuatu yang benar, baik, dan tepat telah dimulai Penshutindo. Selanjutnya, Que Siera-Siera – apa yang mau terjadi, terjadilah.

Sebelum otak dan perasaan saya terpolusi oleh dinamika ruang dan waktu, keesokan harinya sepulang dari ziarah tersebut, segera saya tulis artikel ini. Apa sesungguhnya arti dan makna Kebangkitan Nasional itu, dan apa relevansinya dengan dunia hutan dan kehutanan Indonesia?

TINJAUAN FILOSOFIS

Arti Bangkit. Secara harafiah berdiri dari duduk/jatuh, bangun dari tidur, atau muncul kembali setelah terpuruk. Kata kerja yang menunjukkan gerakan dari bawah ke atas.

Makna Filosofis Bangkit.

  1. Transformasi dari kelahiran kembali

Bangkit itu bukan cuma berdiri lagi, tetapi jadi versi yang berbeda. Filosofisnya mirip phoenix yang terbakar lalu lahir dari abu. Kegagalan bukan akhir, tetapi bahan bakar untuk menjadi lebih kuat, Nietzsche menyebut ini amor fati – mencintai nasibmu, termasuk jatuhmu, karena itu yang membikin kamu bangkit.

  1. Kesadaran setelah kejatuhan

Jatuh membikin kita sadar kelemahan. Bangkit membikin kita sadar kekuatan. Dalam Stoikisme, musibah itu latihan. Kita tidak bisa mengontrol apa yang membuat kita jatuh, tetapi kitab isa mengontrol pilihan kita buat bangkit atau tidak.

  1. Perlawanan terhadap determinisme

Bangkit adalah pernyataan Aku tidak mau didikte keadaan. Eksistensialisme Sartre menyatakan, bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Meskipun dunia menekan kita ke bawah, kita tetap bebas memilih untuk bangkit.

  1. Siklus kehidupan

Banyak tradisi melihat bangkit sebagai hukum alam. Siang-malam, pasang-surut, gugur-semi. Intinya, kehancuran bukan akhir siklus, tetapi jeda sebelum fase baru.

  1. Harapan aktif

Bangkit berbeda dengan berharap. Berharap itu pasif Sedangkan bangkit itu berharap + bertindak. Camus menyatakan, di mitos Sisifus: batu bakal jatuh lagi, tetapi kita dorong lagi. Pemberontakan sejati adalah terus bangkit, meski tahu hidup itu absurd.

Singkatnya, bangkit adalah momen manusia merebut kembali makna setelah sempat kehilangan.

ARTI KEBANGKITAN NASIONAL 20 MEI

Tanggal 20 Mei adalah Hari Kebangkitan Nasional. Ini momen yang sangat penting buat Indonesia. Tanggal 20 Mei 1908, itu hari lahirnya Boedi Oetomo, organisasi modern pertama yang digagas pribumi. Dipelopori Soetomo dan para pelajar STOVIA. Meski awalnya buat pendidikan orang Jawa-Madura, ini menjadi pemantik. Eh kita bisa bersatu dan mengatur diri sendiri ternyata. Oleh karena itu, tanggal 20 Mei dijadikan simbol hari saat bangsa Indonesia mulai sadar: kita dijajah dan kita harus bangkit bareng-bareng.

Makna Filosofis Kebangkitan Nasional

  1. Kesadaran sebagai titik awal

Sebelum tahun 1908, perlawanan masih bersifat kedaerahan: Aceh ya Aceh,  nasib kita sama. Filosofisnya: perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran. Bangsa yang tidur tidak akan bisa bangkit.

  1. Bangkit lewat ilmu, bukan cuma senjata

Boedi Oetomo bergeraknya di bidang pendidikan dan beasiswa. Ini simbol bahwa kebangkitan sejati itu dari otak yang tercerahkan. Tidak bisa hanya marah-marah kepada penjajah, tetapi harus lebih pintar dari penjajah. Ini sangar relevan dengan sekarang: mau bangkit ya harus upgrade diri.

  1. Persatuan di tengah keberagaman

Anggota  Boedi Oetomo waktu itu masih terbatas Jawa-Madura. Tetapi ide-idenya menular ke Jong Sumatranen Bond, Jong Java, Sarekat Islam, sampai lahir Sumpah Pemuda 1928. Filosofinya: kebangkitan butuh tumbal ego kedaerahan. Kita harus rela bilang Indonesia dulu, baru sukunya.

  1. Keberanian untuk mulai meski kecil

Boedi Oetomo bukan langsung menjadi organisasi raksasa. Awalnya hanya kumpulan mahasiswa kedokteran. Tetapi, dari Langkah kecil itu, 37 tahun kemudian Indonesia merdeka. Maknanya, jangan menunggu sempurna untuk mulai bangkit. Mulai dulu dari apa yang kita bisa dilakukan.

  1. Kebangkitan itu proses, bukan acara

20 Mei itu simbol, tetapi bangkitnya tidak selesai di 1908. Sampai sekarang kita masih berjuang bangkit dari korupsi, kebodohan, perpecahan, dan lain sebagainya. Jadi, kebangkitan nasional itu bukan nostalgia, tetapi pekerjaan tiap generasi.

Relevansinya buat kita hari ini

Kalau dulu bangkit dari penjajahan fisik, sekarang bangkit dari antara lain:

  • Mental terjajah: minder, gampang diadu domba
  • Kebodohan: hoax, malas membaca
  • Perpecahan: SARA, benci karena beda pilihan.

Jadi, 20 Mei itu remainder: leluhur kita saja berani bangkit dalam keadaan dan kondisi susah. Masa kita yang sudah pegang ponsel dan internet malah rebahan terus.

Makna Filisofis buat Kita Sekarang

  1. Bangkit = sadar dulu

Dulu bangsa kita dipecah belah oleh Belanda. Jawa lawan Jawa, raja lawan raja. Boedi Oetomo membuat kita sadar; Lho musuh kita sama kok. Filosofinya: kita tidak bisa bangkit kalau tidak sadar sedang jatuh. Bangsa yang denial tidak akan maju.

  1. Bangkit pakai otak, bukan otot saja

Boedi Oetomo tidak langsung angkat senjata. Mereka membuat sekolah, memberikan bea siswa, menyebarkan ide lewat majalah. Maknanya, kebangkitan sejati itu kalau menunggu kaya, tidak menunggu menjadi pejabat; 37 tahun kemudian Indonesia merdeka. Artinya, jangan remehkan Langkah kecil buat bangkit. Kita belajar 1 jam hari ini, itu sudah bagian dari kebangkitan nasional.

  1. Dari Kedaerahan menjadi Kebangsaan

Awalnya Boedi Oetomo masih Jawa minded. Tetapi idenya menyebar, Lahir Jong Java, Jong Sumatranen Bond, dan lain-lain sampai menyatu di Sumpah Pemuda 1928. Filosofinya: kebangkitan butuh mengalahkan ego kelompok. Berani bilang Kita Indonesia dulu sebelum kita suku x.

  1. Mulai kecil, dampaknya besar

Boedi Oetomo hanya dimulai dari anak-anak muda STOVIA berumur sekitar 20-an tahun. Tidak menunggu kaya, tidak menunggu jadi pejabat. 37 tahun kemudian Indonesia merdeka. Artinya, jangan meremehkan langkah kecil buat bangkit. Kita belajar 1 jam hari ini, itu sudah merupakan bagian dari kebangkitan nasional

  1. Kebangkitan itu kata kerja, bukan sekedar Sejarah

1908 sudah lewat. Tantangan kita sekarang beda: mental inferior, korupsi, gampang diadu domba, gap teknologi, dan lain-lain. Jadi, 20 Mei itu bukan buat nostalgia, tetapi buat bertanya: Tahun ini kita sudah bangkit dari apa?

 Cara Memaknai 20 Mei Biar Tidak Hanya Seremonial

  • Bangkit dari Kebodohan: baca satu buku satu bulan, check fakta sebelum share
  • Bangkit dari perpecahan: Nongkrong dengan teman yang beda suku/agama/pikiran politik
  • Bangkit dari Mental Inlander: berhenti bilang Orang Indonesia memang begini. Ganti menjadi Kita mulai dari diri kita
  • Bangkit dari Apatis: ikut kerja bakti RT, bayar pajak dengan benar, jangan nyogok.

Bung Karno bilang Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit, karena melawan bangsamu sendiri.

RELEVANSI KEBANGKITAN NASIONAL DENGAN HUTAN DAN KEHUTANAN INDONESIA

Fakta Singkat Hutan Indonesia

Indonesia itu paru-paru dunia nomor 3 setelah Brazil dan Kongo. Luas Hutan kita lebih kurang sekitar 95,6 juta ha tahun 2024. Itu setara 50% daratan Indonesia. Jenisnya lengkap:

  • Hutan Hujan Tropis: Kalimantan, Papua, Sumatera. Paling kaya keanekaragaman hayati.
  • Hutan Bakau/Mangrove: kita punya 23% dunia. Penting buat nahan tsunami dan menyimpan karbon.
  • Hutan Gambut: Sumatera dan Kalimantan. Menyimpan karbon paling banyak, tetapi rawan kebakaran.
  • Hutan Musim: Nusa Tenggara. Gugur daun pada musim kemarau.

Masalah Besar Kehutanan Kita

MasalahDampakFilosofinya
Deforestasi2001-2023 kita kehilangan 30,8 juta ha hutanKita merampok warisan anak cucu untuk untung secara cepat
Kebakaran dan GambutAsap lintas negara, melepas emisi karbon sangat besarAlam itu menuntut balas kalau kita serakah
Konflik LahanMasyarakat adat vs. Perusahaan vs. PemerintahHutan bukan hanya kayu, tetapi identitas dan rumah
Illegal LoggingMerugikan negara sekitar      Rp30Trilun/tahunMental miskin mengambil yang bukan hak demi kepentingan sesaat

Makna Filosofis Hutan bagi Indonesia

  1. Ibu & Guru. Hutan memberikan makan, air, obat, udara. Tetapi juga mengajarkan kepada kita hukum alam: siapa serakah kena banjir, tanah longsor, dan lain-lain. Filosofi Jawa: Memayu Hayuning Bawana – ikut menjaga keindahan dunia
  2. Identitas Bangsa. Banyak suku lahir dari hutan, seperti Dayak, Mentawai, Papua, dan lain-lain. Menghancurkan hutan = menghancurkan kebudayaan. Kita bukan hanya NKRI, tetapi NKRH (Negara Kesatuan Republik Hutan)
  3. Ujian Keberlanjutan. Hutan itu suatu tes. Bisa tidak kita kaya tanpa merusak? Bisa tidak generasi ini berpikir 100 tahun ke depan? Kalau gagal, kita bukan bangsa maju, tetapi hanya bangsa yang numpang menghabisi.
  4. Spirit kebangkitan. Dulu pejuang gerilya bersembunyi di hutan. Hutan menjadi benteng terakhir kemerdekaan. Sekarang hutan harus menjadi benteng terakhir melawan krisis iklim. Bangkitnya Indonesia = bangkitnya kesadaran menjaga hutan.

 Kebangkitan Nasional 20 Mei & Hutan

Koneksinya di mana? Boedi Oetomo bangkit karena sadar dijajah. Kita sekarang harus bangkit karena sadar hutan kita sedang sekarat. Dulu melawan penjajah Belanda, sekarang melawan keserakahan dan kebodohan kita sendiri.

EPILOG

Senin, 17 Agustus 2026, bangsa Indonesia genap 81 tahun menyatakan kemerdekaannya. Bendera merah-putih telah dikibarkan di depan rumah masing-masing sejak 1 Agustus 2026. Lomba-lomba di kampung masing-masing diadakan dengan penuh kegembiraan, yang melibatkan anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Upacara bendera tidak saja dilakukan di kantor-kantor pemerintah, tetapi juga di kampung-kampung dan komunitas-komunitas masyarakat dengan penuh kegairahan; atau justru dengan keterpaksaan dan keengganan? – seakan hanya mengikuti kegiatan ritual-seremonial  belaka. Padahal tujuannya tidak lain untuk merayakan sekaligus mengenang semangat perjuangan bangsa dalam melepaskan diri dari jerat penjajahan dan bertekad bebas menentukan nasib dirinya sendiri. Merdeka. Sementara banyak keluarga yang memanfaatkan hari libur dengan berwisata ke tempat-tempat yang indah dan nyaman, tanpa mau ambil pusing apa itu makna kemerdekaan. Yang penting senang. Tidakkah sedikit kita kasih waktu untuk merenungkannya, bahwa kita bisa melakukan semua itu karena Soekarno – Hatta yang mengatasnamakan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 – 81 tahun yang lalu – menyatakan atau memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia, lepas dari belenggu penjajahan yang tidak saja memiskinkan baik dari segi materi tetapi juga mental yang menghilangkan harga diri sebagai manusia? Dan untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan itu harus ditebus dengan perjuangan yang heroik dengan menumpahkan air mata dan darah dari banyak anak bangsa ini? Di sini penapisan terjadi, ada yang jadi pahlawan dan ada yang jadi penghianat. Kita diingatkan oleh George Santayana (1863-1952), seorang filsuf dan penulis Spanyol: Those who cannot remember the past are condemmed to repeat it – mereka yang tidak bisa mengingat masa lalu ditakdirkan mengulanginya. Oleh karena itu, kita harus terus mengingat detik-detik proklamasi agar semangat untuk merdeka dan memerdekakan seluruh rakyat selalu membara di hati. Bukan sebaliknya. Kata Nelson Mandela, tokoh revolusioner anti apartheid dari Afrika Selatan: For to be free is not merely to cast off one’s chains, but live in a way that respect and enhances the freedom of others – menjadi bebas tidak hanya sekedar melepaskan rantai, tetapi hidup dengan cara yang menghormati dan meningkatkan kebebasan orang lain.

 Harian Kompas, Sabtu 16 Agustus 2024, menurunkan tulisan yang dimuat di latar depan (headline) dengan judul Sudah Merdeka, Belum Sungguh Memerdekakan. Ada beberapa pertanyaan skeptis. Sudahkah seluruh rakyat Indonesia merdeka dan kita merdekakan? Proklamasi kemerdekaan Indonesia telah mengantarkan seluruh rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Namun, setelahnya, apakah seluruh rakyat Indonesia sudah menikmati alam negara merdeka yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur? Seberapa banyak rakyat yang bisa menikmati bukit kemakmuran? Sudah seberapa sedikit rakyat yang harus hidup dalam lembah kemiskinan? Seberapa banyak rakyat yang mudah mendapatkan akses pendidikan setinggi-tingginya? Seberapa sedikit rakyat yang masih hidup dalam keterbelakangan? Seberapa banyak rakyat yang bekerja keras mendapatkan imbalan yang setimpal dengan keringat yang dikeluarkannya? Seberapa sedikit elit atau penguasa yang hidup berleha-leha tetapi malah mendapatkan banyak kemudahan? Seberapa banyak rakyat yang kewenangannya terbatas diberi keleluasaan meraih impiannya untuk terlepas dari kemiskinan? Sebaliknya, berapa banyak elit yang memiliki kewenangan dan akses luas justru diberi banyak keistimewaan mengeruk semaunya sumber-sumber kemakmuran? Sudahkah terbentuk Pemerintah Negara RI yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial itu? Atau malah sebaliknya, menciptakan ekosistem yang memudahkan terjadinya eksploitasi manusia oleh manusia lain? Sudahkah Indonesia menjadi Indonesia Raya? Tentu masih banyak sederet pertanyaan bila ingin didaftarkan.

Mengutip pendapat seorang Iran bernama Firuz dalam bukunya Nasir Tamara (2026): Revolusi Iran, menyatakan bahwa Imperialisme bukanlah pendudukan politik dan militer belaka. Itu juga penjajahan cara berpikir dan cara hidup yang datang dari luar, terkadang secara halus tak terlihat, merasuki suatu bangsa. Bukankah sadar atau tidak nilai-nilai asing seperti konsumerisme, hedonisme, individualisme, egoisme, dan semakin memudarnya perasaan belarasa (empaty) telah merasuki kehidupan kita – bangsa Indonesia? Jelas ini adalah suatu ancaman yang serius terhadap kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat kita sekarang dan di masa depan.

Kita sebagai manusia merdeka, melekat 3 kebebasan: free will, free choice, free action, sepanjang alasannya realistik, obyektif, logis dan rasional; ini adalah pilihan.

Momentum perayaan dan peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan ini, merupakan kesempatan berharga untuk melakukan refleksi, mawas diri, atau self evaluation. Dirgahaya NKRI. Soli Deo Gloria.

  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *