IR. WAHJUDI WARDOJO, M.SC.

LATAR BELAKANG  

Ir. WAHJUDI WARDOYO, M.Sc.  adalah sosok rimbawan Indonesia yang memulai kariernya dari bawah, bekerja di lapangan sejak dari mahasiswa, sampai penguasaan area diplomasi internasional terkait kehutanan, ligkungan hidup, dan perubahan iklim.  Sebagia besar Rimbawan Indonesia tentu telah mengenal Ir. Wahjudi Wardoyo, M.Sc. sebagai sosok rimbawan, mantan pejabat, sekaligus pembelajar aktif.  Beberapa  seniornya sering menjuluki Wahjudi sebagai birokrat yang LSM, karena kedekatannya dengan berbagai LSM nasional maupun internasional.  Spektrum pengalamannya boleh dikatakan lengkap dari lokal hingga global atau internasional.

Bapak rimbawan yang beranggapan bahwa Wahjudi Wardojo adalah rimbawan konservasionis, yang sejak belajar di perguruan tinggi sampai meniti kariernya senantiasa di bidang konservasi sumber daya alam.  Anggapan tersebut sesungguhnya tidak salah karena lebih dari tiga perempat masa kerjanya baik sebagai pegawai negeri sampai pensiun,  bekerja dibidang konservasi.   Namun ternyata tidak sepenuhnya benar, karena Wahjudi Wardojo sering menyebut dirinya sebagai “mualaf” bidang konservasi.

Ketika belajar di Fakultas Kehutanan UGM, Wahjudi Wardojo mengambil Jurusan Teknologi Hasil Hutan yang tentu tidak ada pelajaran bidang konservasi, termasuk pengelolaan satwa liar (wildlife management).  Kemudian setelah lulus dari kuliah, Wahjudi Wardojo sebagai staf Sub Direktorat Pengolahan Hasil Hutan, Direktorat Bina Produksi Hutan, Direktorat Jenderal Kehutanan selama 5 tahun.  Kemudian sejak tahun1981, Wahjudi Wardojo memperoleh promosi awal sebagai Kepala Seksi Pengelolaan Hutan Lindung, Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam (Dit. PPA), yang sering diplesetkan sebagai Direktorat Persatuan Pegawai Aneh, karena banyak rimbawan menganggap direktorat ini hanya mengurusi hal hal aneh terkait satwa liar saja.

Pada masa itu peran Kehutanan sebagai penghasil devisa nomor dua di negeri ini, berasal dari eksport kayu, maka Direktorat PPA tidak banyak menarik lulusan Sarjana Kehutanan.   Sebagian rimbawan Indoensia akan menghindar kalau memperoleh penugasan di Dit. PPA ini, sehingga ketika Wahjudi Wardojo mau pindah ke Dit. PPA, sebagian besar seniornya mencelanya.   Namun ternyata pilihan tersebut tidak  salah kalau melihat jalan kariernya setelah itu.

Untuk mengejar ketertinggalan pengetahuandan ilmu konservasi, di samping belajar dari berbagai buku, dia menerapkan kiat yang unik.  Hampir setiap ada rapat di sub direktorat lain yang membahas tentang konservasi, dia minta dibolehkan ikut, walaupun sekedar duduk (semacam sit-in kalau kita mengikuti kuliah).  Kiat ini ternyata memberi kesempatan bagi Wahjudi untuk setapak demi setapak mempercepat pemahamannya tentang konservasi.

Lahir di Tuban, Jawa Timur, 22 Juli 1950 anak ke lima dari enam bersaudara dari pasangan Soetomo Gondodinoto, seorang Pegawai Pamong Praja (ASN) di Kabupaten Tuban dengan Soehandimah Tjitroadidjojo, seorang Ibu rumah tangga.   Saudara-saudaranya tersebut adalah Prof. Dr. Wuryadi,  Dra. Psi. Wurdiyati Susanto, alm. Prof. Ir. Kapti Rahayu Kuswanto (wafat tanggal 20 April 2020), Wuryani suhartini (wafat ketika masih usia 8 tahun), dan Ir. Wahyuningsih Machi, M.Si., Wahjudi Wardojo menamatkan Sarjana dari Fakultas Kehutanan Jurusan Teknologi Hasil Hutan, UGM di Tahun 1976 dan S2 di Michigan State University, di bidang Forestry, East Lansing, Michigan, USA, Tahun 1990.

Menikah dengan Eliza Krisnawati pada 11 Desember tahun 1977 dan dikaruniai 9 cucu dari 3 anak laki-laki: Aditia Prasta, Ronni Ardhianto, dan Agha Swara Ganesha.

PERJALANAN KARIER DAN PENGALAMAN KERJA 

Wahjudi Wardojo  sering berseloroh dengan sahabat sahabatnya bahwa selama menapaki karier nya di Departemen Kehutanan, bukan karena tahyul tetapi kenyataan dari jangka waktu karier yang telah dilewati, hampir semuanya terkait dengan angka SEMBILAN. Sembilan tahun berkarier di tingkat eselon IV (1981-1990), sembilan tahun di posisi eselon III (1990-1999), sembilan bulan di Eselon II (dari April 1999 sd Januari 2000) sebagai Direktur Sarana Prasarana Perkebunan-Ditjen Perkebunan, kemudian sembilan tahun di berbagai posisi eselon I (2000-2009).

Tidak lama kembali dari Pendidikan S2 nya di Michigan State University di East Lansing, Michigan USA, Wahjudi Wardojo memperoleh tugas sebagai Kepala Sub Direktorat Taman Nasional, Direktorat Taman Nasional dan Hutan Wisata di Ditjen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam sampai akhir 1992.   Wahjudi Wardojo  senantiasa memberikan apresiasi tinggi dan menyampaikan terima kasih sebesar besarnya kepada para seniornya terutama Bapak Soebagio Hadiseputro, saat itu adalah atasan langsungnya, sebagai Direktur Taman Nasional dan Hutan Wisata, serta Alm. Bapak R. Soemarsono, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (1995-1999), yang telah memberikan kesempatan, membimbing, dan mendorong untuk mengembangkan diri serta membangun jejaring ke luar.

Selain itu, Professor Herman Haeruman, seorang rimbawan pejabat tinggi di Bappenas dan Guru Besar di Fakultas Kehutanan IPB senantiasa memberikan mentoring langsung dan membuka jejaring dengan mitra baik di dalam maupun di luar negeri.   Sejak awal tahun 1990 tersebut, Wahjudi Wardojo mengembangkan jejaringnya tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat global.   Beberapa Lembaga Internasional multilateral, seperti World Bank, FAO, UNESCO, dan IUCN, atau Lembaga kerjasama bilateral seperti USAID, GTZ (GIZ), dan JICA sering kali mengundangnya sebagai pembicara di event-event internasional di berbagai kota belahan dunia lain, seperti Amerika Latin dan Amerika Utara, Afrika, Asia, maupun Eropa.   Peluang tersebut dipergunakan untuk mengembangkan ilmu serta belajar, menyampaikan pengalaman-pengalaman dari tempat kerjanya di Indonesia, sekaligus membangun jejaring.

Pada awal tahun 1993 sampai awal 1997 mendapat tugas sebagai Kepala Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sekaligus merangkap sebagai Kepala Taman Nasional Gunung Halimun (yang saat itu belum ada Unit Pengelola Teknis-nya). Kurun waktu inilah merupakan waktu yang sangat penting bagi karier selanjutnya, karena di samping memperdalam ilmu konservasi serta mempertajam scientific temper nya,  pada kurun waktu tersebut Wahjudi Wardojo punya kesempatan untuk mengembangkan leadership, kreativitas dan inovasi terkait dengan kemitraan, networking, bekerja dengan masyarakat, juga kiat kiat penegakan hukum yang tepat.

Tanpa pernah membayangkan dan memikirkan sebelumnya, Wahjudi Wardojo selanjutnya mendapatkan tugas sebagai Atase Kehutanan di KBRI Tokyo, sejak April 1997 sampai Agustus 1999.   Tugas tersebut juga merangkap sebagai contact person Indonesia untuk International Tropical Timber Organization (ITTO) di Yokohama, Jepang.

Dari seorang yang bertugas di lapangan langsung harus merubah penampilan yang biasa berpakaian lapangan dengan rompinya,  dengan penampilan dan mind set sebagai diplomat di KBRI Tokyo.   Selanjutnya pada April 1999 dilantik sebagai Direktur Sarana Prasarana Ditjen Perkebunan, Departemen Kehutanan dan Perkebunan.    Jabatan ini diemban tidak terlalu lama, karena pada tanggal 20 Januari 2000 diangkat sebagai Staf Ahli Menteri Kehutanan dan Perkebunan bidang Perlindungan dan Konservasi, merangkap sebagai Sekretaris Menteri.

Sejak saat itu sampai awal 2009, Wahjudi Wardojo mengemban beberapa posisi penting sebagai pembuat kebijakan tingkat tinggi di Departemen Kehutanan, yaitu sebagai Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (28 Maret 2001 sampai dengan 16 Nopember 2001), kemudian Sekretaris Jenderal (16 Nopember 2001 sampai dengan 23  Nopember 2005), Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (23 Nopember 2005 sampai dengan 20 Januari 2009), dan Staf Khusus Menteri bidang Pengamanan Hutan (20 Januari 2009 sampai dengan 31 Maret 2009), kemudian mengambil Masa Persiapan Pensiun (MPP) sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Dalam karier nya sebagai Pegawai Negeri Sipil, Wahjudi Wardojo sering menyampaikan ke publik bahwa karier yang paling membahagiakan dan membanggakan adalah ketika menjabat sebagai Kepala Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun.

Kemudian karier yang paling sulit dan berat adalah ketika menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan di masa-masa transisi reformasi termasuk transisi dari pemerintahan yang awalnya lebih sentralistik menjadi desentralistik.    Tiga hal utama yang dibebankan kepada Sekretaris Jenderal dari Menteri Kehutanan, Bapak M. Prakosa, adalah membenahi tiga hal pokok yaitu: sumber daya manusia, keuangan, dan aspek legal.   Tiga hal yang sangat sulit karena harus melakukan pembenahan sekaligus perbaikan di masa awal reformasi.

Dari sisi sumber daya manusia saja, dalam proses desentralisasi, PNS Departemen Kehutanan seluruh Indonesia berjumlah lebih dari 42.500 orang harus dipangkas menjadi 17.500 orang dalam kurun waktu tidak lebih dari satu tahun, termasuk pembubaran seluruh Kantor Wilayah Departemen Kehutanan di 27 provinsi.   Bersyukur karena dengan pengertian, bantuan dan dukungan semua pihak, proses tersebut berjalan dengan baik sehingga rimbawan bisa tersebar relatif merata di seluruh Indonesia, baik di pusat dengan semua UPT nya, maupun di provinsi, kabupaten, dan kota di seluruh tanah air.

Sejak 30 April 2009 sampai saat ini Wahjudi Wardojo bekerja sebagai penasehat senior untuk kebijakan konservasi di The Nature Conservancy (TNC) Indonesia-sekarang Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).   Sejak pensiun tersebut Wahjudi Wardojo sering menulis di opini editorial (op-ed) koran Jakarta Post.   Tulisan yang terkait dengan topik perubahan iklim, dan pembangunan berwawasan lingkungan.   Di samping itu, Wahjudi Wardojo sudah menyatakan diri tidak mau bekerja sebagai eksekutif di lembaga pemerintah maupun non pemerintah, namun masih aktif mengabdikan diri, yang dia sebut sebagai ‘’punakawan’’ di berbagai lembaga nasional maupun internasional yang bergerak di bidang konservasi, lingkungan hidup, perubahan iklim dan kehutanan, antara lain:  sebagai penasihat Kepala Badan REDD (2013-2014), kemudian sampai saat ini sebagai anggota Dewan Pembina Perhimpunan Burung Indonesia,  Ketua Pembina Yayasan Owa Jawa (2013-sekarang), Ketua Majelis Perwakilan Anggota Forum Orang Utan Indonesia (FORINA) akhir 2018 sampai saat ini.    Dia juga pernah menjadi anggota Dewan Pembina Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) dari tahun 1999-2004.

Sejak 2016 sampai saat ini oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ibu Dr. Siti Nurbaya Bakar MSc, Wahjudi Wardojo bersama beberapa tokoh nasional diangkat sebagai Penasihat Senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.  Dia juga diangkat sebagai Wakil Ketua Panitia Seleksi Pejabat Tinggi Madya dan Pratama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sejak 2015 sampai sekarang.

Di samping itu, Wahjudi Wardojo adalah anggota International Advisory Committee for Biosphere Reserves untuk Direktur Jenderal UNESCO 2004-2008, Dewan Pengawas (Board of Trustees) CIFOR-Center For International Forestry Research 2006-2009 dan memimpin delegasi Indonesia ke sejumlah pertemuan terkait kehutanan internasional, misalnya UNFCCC, UNFF, UNCBD, IUCN, ITTO,  dan FAO. Wahjudi adalah Ketua Pejabat Senior ASEAN untuk Kehutanan (ASOF 2006) dan pemimpin untuk Indonesia Forest Climate Alliance (IFCA 2007-2008).   Dia adalah anggota dari United Nations on Sustainable Development Solutions Network (SDSN)-Indonesia Chapter (2013), anggota The Netherlands Academy on Land Governance (LANDac) di Universitas Utrecht, Belanda (2013-2015), Dewan Penasihat (Board of Advisorry) untuk Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)- Institut Teknologi Bandung (2014-sampai saat ini), dan tahun 2015 sampai dengan 2019 sebagai Expert Komite Warisan Dunia (World Heritage Committee) UNESCO

Wahjudi Wardojo sebenarnya tidak banyak membuat buku atau tulisan di jurnal nasional atau internasional namun ada  beberapa tulisan yang memperoleh pengakuan internasional, antara lain adalah Investing in Biodiversity, 1999 sebagai co author bersama beberapa ahli konservasi dunia (Michael Wells, Kathy MacKInnon, Paul Jepson, Scott Gugenheim dan Asmeen Khan), yang diterbitkan oleh World Bank tahun 1999.    Buku tipis ini sampai saat ini tercatat sebagai salah satu highly cited publication untuk isu terkait konservasi dan pembangunan.

Pada tahun 2002, bersama dengan Dr. Nur Masripatin menulis Trends in Indonesian Forestry Policy di Jurnal IGES (Institute for Global Environment Strategies) yang berpusat di Hayama-Kanagawa, Jepang.    Kemudian pada tahun 2004 bersama Wandojo Siswanto pada acara Seminar Seri Pertama United Nations Forum on Forests (UNFF) di Interlaken, Switzerland, menulis makalah berjudul Proses Desentralisasi Kehutanan Indonesia.   Makalah tersebut kemudian menjadi bagian dari buku yang berjudul Politik Desentralisasi, Hutan, dan Kekuasan Rakyat, yang diterbitkan oleh CIFOR tahun 2006.

Beberapa makalah di berbagai acara seminar dan workshop nasional maupun internasional telah ditulis oleh  Wahjudi Wardojo sejak awal tahun 1990 ketika menjabat sebagai Kepala Sub Direktorat Taman Nasional sampai saat ini.    Tulisan tulisan Wahjudi Wardojo senantiasa terkait dengan isu isu konservasi, perubahan iklim, dan sumber daya manusia.   Karena ke aktifan dalam berbagai penulisan, pertemuan ilmiah, workshop, seminar, maka Wahjudi Wardojo sejak tahun 2017 sampai saat ini diminta sebagai reviewer jurnal ilmiah internasional yaitu ELSEVIER, jurnal ilmiah yang didirikan sejak 125 tahun yang lalu dengan pusatnya di Amsterdam, dan sudah dikenal luas sebagai jurnal internasional di bidang Lingkungan Hidup dan Pembangunan.

Walaupun senantiasa menolak untuk menuliskan buku pengalaman selama aktif sebagai birokrat, akhirnya atas desakan pak Wiratno dan teman teman lain, Wahjudi Wardojo akhirnya selesai menulis buku semacam biografi, yang berjudul ‘’Inspirasi dari Gunung Gede Pangrango”.    Buku yang merupakan kumpulan makalah, sambutan, pidato, dan pemikirannya selama berkarier di Departemen Kehutanan sampai pengabdiannya setelah pensiun.    Topik utama buku tersebut terkait dengan sumber daya manusia, konservasi, perubahan iklim dan kehutanan ke masa depan.

PESAN DAN KESAN 

Hasil kontemplasi selama beberapa tahun, berkarya baik di pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, maupun lembaga swadaya masyarakat ditempatkan sebagai penutup perkenalan ini.

Pertama, sebagian rimbawan Indonesia masih  kurang memahami ‘’basic philosophy for valuing nature”,  memaknai betapa besar peranan rimba raya dengan keragaman hayati nya.   Masih banyak rimbawan belum secara utuh mampu membedakan peran dan kedudukan hutan alam dari hutan tanaman.   Sebagian besar masih menganggap sepanjang itu hutan, apakah alam atau tanaman, mengapa kita harus beda bedakan?  Kalau kita hidup di daerah sub tropis dengan hutan alam yang tidak terlalu banyak keragaman jenisnya (misalnya, menurut CIFOR, hanya sekitar 150 jenis pohon di seluruh daratan Eropa), barangkali anggapan tersebut benar.  Tapi sebagai rimbawan Indonesia yang hidup di daerah tropis dengan keragaman pohon lebih dari 20.000 jenis (species) dengan berbagai  jenis non pohon yang berasosiasi dengannya, maka kita harus lebih berhati hati. Para pakar juga menyatakan bahwa lebih dari 80% keragaman hayati berada di hutan.

Berbagai tulisan ilmiah telah menuliskan betapa hebatnya, betapa efektif, dan betapa efisiennya hutan alam sebagai bagian utama dari infrastruktur alami (natural infrastructure) bandingkan dengan infrastruktur ciptaan dan buatan manusia secanggih apapun di dunia ini.   Namun juga sering, kita di Indonesia atau belahan bumi lainnya dihadapkan pada pilihan pilihan sesaat yang ‘mengkerdilkan’ peran dan manfaat hutan beserta ekosistem alami nya hanya pada peran ekonomi (baca: finansial) saja.

Sayangnya sebagian (besar) dari para rimbawan sebagai penjaga gawang hutan, gamang untuk menyampaikan kepada publik, bahwa hutan dengan keragaman hayatinya adalah life supporting system (sistem penyangga kehidupan), sehingga betapa hebatnya dan signifikannya peran hutan bagi hidup dan kehidupan manusia beserta makhluk hidup yang tergantung padanya baik untuk generasi saat ini maupun masa depan.   Kita juga sering melihat dan mendengar bahwa para rimbawan kesulitan membuat argumentasi untuk mempertahankan hutan alam kalau dihadapkan pada pilihan (opsi) pembangunan yang umumnya berjangka waktu pendek dan lebih pada kepentingan ekonomi (atau tepatnya finansial) semata.

Sebaliknya, sering kita temui, teman teman dari disiplin ilmu lain, seperti sosiologi, ilmu politik, ilmu ekonomi, ilmu teknik bahkan dokter, nampak jauh lebih fasih dan percaya diri (confident) menyampaikan dasar dasar falsafah mengapa kita harus mencintai hutan dan alam (love to forests and nature) dan memberi penghargaan tinggi atas peran hutan dan alam (valuing nature).  ‘Valuing nature or forests’ tidak berarti bahwa seluruh alam dan hutan harus dikonservasi, namun lebih pada pemahaman dan pemaknaan yang cerdas, antara melindungi wilayah yang harus dilindungi dan mengambil ‘manfaat’ (benefitting) dari upaya pembangunan yang berkelanjutan.

Ke dua, rimbawan seringkali bersifat eksklusif dan defensif, sehingga sering sulit melakukan kemitraan maupun kolaborasi dengan pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya dalam menangani permasalahan terkait hutan dan kehutanan.

Berangkat dari sejarah rimbawan dan kehutanan di masa lalu, sejak jaman Belanda sampai akhir tahun 1960 an, sebagian besar rimbawan Indonesia bekerja sebagai birokrat atau sebagai pegawai badan usaha milik negara, dengan tugas utama adalah mempertahankan kawasan hutan.   Tidak jarang kita mendengar rimbawan selalu bicara tentang mandatnya. Orang lain seolah tidak boleh atau tidak perlu  intervensi pada tugasnya, sehingga terkesan sangat eksklusif. Ada kecenderungan selalu curiga dan defensive terhadap tawaran pihak lain, karena kebiasaan sebagai penegak hukum.   Sesungguhnya tidaklah sulit dan tidak perlu ada kecurigaan terhadap pemangku kepentingan lainnya, bilamana dalam menjalankan kemitraan ataupun kolaborasi senantiasa dilandasi dengan prinsip ‘Tiga M’: Mutual Respect, Mutual Trust, dan Mutual Benefits.

Ke tiga, dari sisi keragaman hayati sesungguhnya Indonesia adalah negara adi daya (super power) di dunia.   Para pakar global telah mencatat bahwa Indonesia adalah negara nomer 2 keragaman hayati nya di daratan (terrestrial) setelah Brazil, dan Indonesia adalah negara dengan keragaman hayati kelautan nomer satu di dunia.   Kalau digabungkan, maka tidak ada satu pun negara di dunia yang melebihi Indonesia.   Keragaman hayati di samping diyakini sebagai system penyangga kehidupan (life-supporting system) baik bagi Indonesia maupun dunia, sebenarnya juga asset yang luar biasa untuk masa depan Indonesia maupun dunia (our global future). Posisi sebagai masa depan dunia ini yang sering belum didaya gunakan (dikapitalisasi) dengan baik.   Yang terjadi justru sering kita sudah curiga terhadap pernyataan negara lain yang nampak menganggu kedaulatan negara kita urusan keragaman hayati kita ini. Kedaulatan negara atau state sovereignty sebenarnya telah dijamin oleh charter Persatuan Bangsa Bangsa (PBB), sehingga setiap keputusan setiap lembaga di bawah PBB harus menerapkan dan menghargai ketetapan tersebut. Keragaman hayati bukan global public goods, tapi our global future resources. Artinya aset tetap milik Indonesia yang berpotensi untuk masa depan dunia. Oleh karena itu yang seharusnya dilakukan Indonesia justru ‘’memainkan’’ peran keragaman hayati tersebut bagi upaya diplomasi dan negosiasi internasionalnya, misalnya terkait masa depan bio-medicine, dan bio-energy sehingga negara yang lain diarahkan untuk berkontribusi untuk menjaga dan melestarikan sumber daya penting tersebut.

Ke empat, rimbawan sebagai pemegang amanah di muka bumi merupakan mahluk yang tidak mudah.   Oleh karena itu harus mempunyai values yang kuat, antara lain integritas moral, profesionalisme dengan membangun kemampuan hard skills maupun soft skills nya, networking, dan komitmen yang kuat dalam menjaga kelestarian dan keberlanjutan hutan dan Kehutanan.

Ke lima, ditakdirkan sebagai rimbawan, kita harus bersyukur luar biasa. Karena sebagai rimbawan kita memperoleh kesempatan langsung untuk memahami, memaknai dan menerapkan perintah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, khususnya yang terkait dengan pernyataan bahwa : Tiada Mahluk Hidup di Dunia yang Tiada Bermanfaat.   Hampir semua agama mempunyai pesan universal yang sama.   Di Islam tercantum dalam Al Qur’an di surah  Ali Imran QS 3: 191,  Kristen di Kejadian I:21 , dan Hindu Bhagawad Gita Sloka 10:8.  Rimbawan juga ditakdirkan untuk senantiasa respect to diversity, menghargai keberagaman karena setiap saat dalam menjalankan tugasnya senantiasa melihat dan memahami betapa tidak ada mahluk hidup yang mampu hidup tanpa interaksi dan ketergantungan (interdependency) dengan mahluk lainnya.