KATA PENGANTAR

Dalam mempersiapkan Volume 66 ini, berbagai peristiwa nasional terjadi. Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional, Lebaran Idul Fitri 1441 H, Lahirnya Pancasila, dan Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Terasa beda dengan tahun-tahun yang lalu. Pandemi
covid 19 yang belum surut, mengakibatkan tidak ada acara temu muka yang penuh kegembiraan, apalagi yang berskala kolosal atau glamour. Kebahagiaan yang ditandai dengan jabat tangan penuh kehangatan, peluk cium penuh persaudaraan seolah tidak ada. Pertemuan secara daring seolah kehilangan makna kebahagiaan itu. Apakah benar demikian?

William James seorang filsuf Amerika Serikat menyatakan, bahwa kepedulian utama manusia dalam hidupnya adalah kebahagiaan. Bagaimana cara memperoleh, mempertahankan, dan memulihkan kebahagiaan merupakan motif tersembunyi dari tindakan kebanyakan orang. Banyak filsuf yang menyatakan pemikirannya tentang kebahagiaan. Tetapi ada pemikiran seorang filsuf yang pantas untuk direnungkan ketika seolah kehagiaan itu menghilang. Ia adalah Victor Frankl, yang mengajukan pandangan berbeda. Menurutnya, pencapaian kebahagiaan tertinggi itu terengkuh bukanlah dalam keberhasilan, kesenangan, dan kekuasaan, melainkan dalam keberanian untuk menghadapi kenyataan dengan segala pahit getirnya. Frankl percaya pada kehendak untuk menemukan makna, lewat kemampuan berdamai dengan kenyataan dan pengorbanan untuk menjadi lebih besar daripada diri sendiri-ini merupakan sumber kebahagiaan tertinggi.

Mari, berdasarkan kacamatanya Frankl kita coba mencari makna baru dari gotong-royong. Kata kuncinya adalah berdamai dengan kenyataan, pengorbanan diri, dan orang/pihak lain yang menjadi lebih besar daripada diri sendiri. Ini adalah bahasa cinta. Bukankah bahasa pengorbanan adalah bahasa cinta?

Ketika kita menghadapi kenyataan bahwa Kehutanan Indonesia saat ini menjadi hujatan banyak pihak terutama tertuju pada komunitas rimbawan, maka pandemi covid 19 ini merupakan kesempatan emas untuk kita terapkan nilai-nilai gotong-royong dengan makna baru itu, yaitu untuk mengisi kemerdekaan guna tercapainya tujuan nasional yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Tidak ada lagi sekat-sekat (dekonstruksi) apalagi sekat egosentrisme rimbawan. Cinta kekuasaan (the love of power) harus berubah menjadi baru, yaitu kekuasaan cinta (the power of love).

Berangkat dari keinginan seperti itu, maka MRI volume 66 ini menurunkan artikel-artikel bertemakan Gotong-royong dalam Membangun Kehutanan Indonesia. Semoga bermanfaat, dan selamat membaca.