HUTAN KRITIS MODAL RIMBAWAN

Oleh: Ir. Idi Bantara, S.Hut.T, M.Sc., IPU
Kepala Balai PDASHL Way Seputih – Way Sekampung

Degradasi sumberdaya alam di Indonesia ditengarai semakin meningkat luas lahan kritisnya, yang mencakup lahan di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Degradasi hutan dan lahan tersebut saat ini telah menjadi keprihatinan banyak pihak baik secara nasional maupun internasional. Gambaran luas lahan kritis ini merupakan dampak adanya deforestasi (pengurangan kawasan hutan) dan degradasi (penurunan kualitas hutan) yang terus meningkat. Meskipun upaya pemerintah telah dilakukan dengan program penyelamaan tanah dan air melalui kegiatan penghijauan dan rebosiasi sejak tahun 1952, awalnya melalui kegiatan “Gerakan Karang Kitri” (1952–1958) langkah awal pemerintah Indonesia dalam mendorong terbentuknya hutan rakyat terutama di Jawa. Gerakan ini bersifat instruksi agar masyarakat menanam bibit pohon pada lahan milik masyarakat (pekarangan) yang tidak produktif. Berlanjut dengan kegiatan Deptan 001–022 (1966–1973), RAKGANTANG (1972–1975), Inpres Penghijauan (1974–1983), Sengonisasi (1988–1993), dan GERHAN (2003–2007) dan kegiatan lain sampai saat ini. Upaya pengurangan lahan kritis memang belum bisa menyelesaikan tutupan lahan keseluruhannya, berdasarkan data Direktorat Jenderal PDASHL (2019) luas lahan kritis seluas 14,01 juta hektar, jika tidak didukung partisipasi masyarakat, maka berapa lama merehabilitasi hutan kita?

Degradasi diakibatkan oleh aktivitas manusia berupa penebangan liar dan pembukaan lahan pertanian baik itu yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Degradasi lahan dapat menjadi ancaman, atau justru jadi peluang bagi generasi yang cinta tantangan, untuk diusahakan menjadi produktif.

JALAN PANJANG RIMBAWAN

Paradigma timber based sudah saatnya mulai ditinggalkan karena tak lagi menarik untuk perkembangannya saat ini. Inovasi-inovasi dan kesanggupan berkarya para rimbawan muda mendapat tantangan yang serius.

Mengutip pesan ibu Menteri Siti Nurbaya saat memimpin apel peringatan Hari Bakti Rimbawan mengingatkan kepada kita, bahwa rimbawan untuk terus bekerja nyata bersama masyarakat menjaga kekayaan alam Indonesia, demikian juga pesan guru besar kehutanan IPB Profesor Dudung Darusman yang menyatkan “bangsa yang kuat di masa mendatang adalah bangsa yang mampu mengelola hutannya dengan arif, bukan negara yang kuat senjata nuklirnya”. Sebab hutan adalah kita. Tidak ada alasan kuat lain mengapa kita ditakdirkan hidup di bumi Indonesia selain sebagai generasi terpilih untuk menjaganya. Dua pesan tersebut untuk memotivasi perjuangan mewujudkan kelestarian hutan kita.

HL dan HP terdapat tanaman jagung di Lampung
Petani hutan lindung Lampung

Dengan melihat kondisi hutan yang semakin kritis seluas 14,1 juta ha diatas dan tantangan konflik hutan yang semakin tinggi disemua fungsi kawasan hutan, dan kompleksitas permasalahan sosial, ekonomi, lingkungan dan politik didepan kita. Maka, sanggupkah mewujudkan pesan mulia diatas? mampukan pengetahuan dan sikap kita mewujudkan harapan hutan yang lestari?

Tentu masih banyak sekali pertanyaan spontan laiinya yang lahir dari kegiatan lapangan. Yang pasti hutan menunggu “keberanian” rimbawan baru untuk bersedia mencurahkan buah pikir di ladang nyata. Ladang yang berisi “cara cara baru” di lapangan, ladang yang mampu menghasilkan kemakmuran baru, bukankah rimbawan dibangun, didoktrin didunia pendidikan untuk cinta pada kelestarian dan kemakmuran hutan, bukankah rimbawan juga disiapkan mampu menghadapai berbagai masalah, dengan kata lain mampu sebagai pengelola hutan yang lestari.

Sengon hasil persemaian permanen

Diawal berkarya rimbawan muda sudah pasti akan dihadapkan sebuah konklusi pembelajaran dari pengalaman di lapangan yaitu kebutuhan untuk memahami lanskap, bukan hanya secara geografis dan ekosistem, namun juga masyarakat dan nilai-nilainya secara keseluruhan, termasuk tekanan konflik hutan yang sangat kompleks. Kita dituntut mampu mengelola sebuah transformasi lanskap dengan baik, karena dilapangan justru ini menjadi kunci keberhasilan untuk mewujudkan hasil yang berkelanjutan sekaligus menyediakan manfaat sosial dan sumber penghidupan masyarakat tanpa menghabiskan biaya sosial dan lingkungan yang tidak menentu. Sumber daya alam hutan kita amatlah kaya, mengelola transformasi lanskap dengan baik memang tidaklah mudah, yang sering terjadi proses-proses yang telah direncanakan diatas meja baik oleh kalangan akademik atau birokrat, kadang tidak terwujud secara praktik. Kondisi dilapangan seringkali banyak kepentingan yang harus dicocokan dengan fakta permasalahan dan tuntutan yang kadang tidak logis, beberapa diantaranya sangat menekan dan penting, semisal meningkatkan pendapatan penduduk miskin yang sudah terlanjur menanam tanaman pangan di dalam kawasan, disisi lain hutan harus dikembalikan fungsinya dengan tanaman pepohonan.

GELIAT RIMBAWAN LAPANGAN

Sudah banyak rimbawan lapangan menunjukkan pilihan menjadi petani hutan mandiri. Mereka adalah orang orang lapangan yang bertahan dan berkembang dengan usaha keras sendiri tanpa perlu meminta-minta bantuan pihak manapun. Mereka punya tekad terus belajar, bekerja keras, dan selalu mengembangkan inovasi. Mereka adalah petani hutan yang mandiri, mereka orang orang yang tidak mudah puas dengan informasi yang datar datar saja, atau yang suka belajar tanpa mengimplementasikan. Selain membaca buku, mereka lebih senang memilih bergerilnya belajar pada petani sukses, berjejaring sesama nasibnya dan yang penting dia orang yang tidak mau dijadikan obyek bantuan.

Beberapa contoh rimbawan sukses yang telah menangani lahan kritis dan berhasil mandiri, kiprah kerja keras mereka nyata, tidak heran mereka banyak penghargaan, walau penilaian terbaik bukan dari seberapa banyak penghargaan yang mereka terima, namun seberapa besar inovasi mereka digunakan oleh masyarakat lainnya. Berikut kiprah yang mereka yang tekun dengan pemanfaatan lahan kritis, diantaranya adalah:

Kelompok Gaharu Lampung

Gaharu merupakan komoditi hasil hutan bukan kayu bernilai ekonomi sangat tinggi untuk kebutuhan bahan industri. Seiring dengan meningkatnya pengambilan gaharu dan peredaran gaharu di pasar internasional, telah menimbulkan berbagai dampak diantaranya semakin turunnya populasi pohon gaharu, bahkan Kongres CITES ke-13 di Bangkok Thailand pada tanggal 2-14 Oktober 2004 menyatakan bahwa beberapa jenis tanaman pohon gaharu saat ini digolongkan kedalam jenis tanaman yang hampir punah oleh APENDIX II yaitu dengan cara membatasi ekspor gaharu yang diambil dari hutan alam pada jumlah kuota tertentu khususnya untuk jenis Aquilaria malacensis, Aquilaria filaria, dan Gyrinops Sp.

This image has an empty alt attribute; its file name is image-12.png
Gaharu budidaya Lampung

This image has an empty alt attribute; its file name is image-13.png
Sistim tebang cabang gaharu Lampung
Penyulingan minyak Lampung

Sejak 2002 Indonesia berhenti memenuhi suplai gaharu dunia, terutama ke China. Indonesia pernah mendapat kuota sebesar 250.000 ton untuk menyuplai pasar China, tapi tidak terpenuhi, saat ini Indonesia membatasi ekspor maksimal 640 ton per tahun, itupun sangat sulit, kalau toh masih ada tersisa di hutan konservasi, yang seharusnya tidak diijinkan untuk diganggu. Kondisi tersebut justru menjadi peluang pengembangan gaharu budidaya petani gaharu lampung. Mereka secara bersama sama mengelola lahan milik petani untuk ditanammi gaharu, dengan menanam mereka juga memperbaiki penutupan lahan, mengkoleksi jenis-jenis tanaman penghasil gaharu melalui pengembangan kebun benih dan pembibitan gaharu, menumbuh kembangkan kemampuan peran serta dan swadaya masyarakat dalam menjaga kelestarian gaharu dari hutan alam beralih menjadi gaharu budidaya melalui alih tehnologi terapan karya mandiri. Beberapa varietas tanaman pun mulai dikembangkan untuk ditanam, diberi pemicu penumbuh fusarium pohon, akhirnya fusarium pohon itu sendiri yang akan merubah batang menjadi gubal gaharu. Teknologi yang telah dihasilkan rimbawan Lampung diantaranya:

  1. Pengembangan silvikultur gaharu sistim rotasi panen cabang.
  2. Pengembangan inokulan tanpa fusarium untuk pohon penghasil gaharu.
  3. Sistim produksi gaharu gubal dengan pemanfaatan pertumbuhan diameter menjadi kayu kulit bahan minyak gaharu.
  4. Sistim destilasi minyak gaharu efektif, yang menghasilkan kualitas minyak gaharu yang tinggi.
  5. Sistim pengelolaan limbah biomasa kayu penghasil gaharau menjadi bernilai tambah.

Kelompok Hutan Lindung Mangrove Bangka Belitung

Hutan Mangrove Kurau Barat (HMKB) atau Hutan Mangrove Munjang adalah sebuah kawasan tanaman mangrove yang kini dijadikan sebagai objek wisata baru bertema wisata edukasi. Meski baru berusia tiga tahunan, pesona hutan mangrove mampu memikat banyak wisatawan lokal dan international.

Ciri khas yang ditawarkan di HMKB dibandingkan dengan tempat wisata mangrove lainya adalah suasana kawasan hutan lindung yang masih alami, pengunjung dapat menyusuri melalui darat atau menggunakan speed boat mengikuti kelokan sungai yang jernih dengan tikungannya yang mampu menaikan andrenalin dan menantang serasa dihutan amazon. Pengunjung juga dapat menyusuri dalam hutan yang telah ditata sedemikian indah berupa jembatan kayu yang terhubung diantara akar akar mangrove, spot foto, selain flora dan fauna liar seperti biawak, ular sawa, ular weling yang bergelantung diatas pohon, aneka burung, monyet, dan binatang liar lainya. Jika malas berjalan dapat juga dilihat dari menara pohon yang dibuat pada pohon paling tinggi di hutan tersebut.

Selain di pulau Bangka, wisata mangrove juga dilakukan di pulau Belitung. Lokasi bekas tambang timah sejak kelompok tani HKm Seberang Bersatu merintis tahun 2013 dengan cara menanam, membuat jalan dan jembatan secara swadaya pada luas lahan 757 hektar, saat ini sudah menjadi Belitung Mangrove Park. Startegi lain yang dilakukan membangun taman wisata mangrove dan rehabilitasi lahan bekas tambang dengan tanaman buah unggul dan pohon jambu mete serta pohon untuk estetika seperti cemara laut.

Mangrov Bangka Tengah
Mangrov Monjang Bangka Tengah
Penaataan mangrov monjang Bangka Tengah
Mangrov HL Belitung

Kompos Block Reklamasi

Tailing pasca penambangan timah mempunyai sifat fisik dan kimia tanah yang buruk, dan cenderung membaik seiring dengan bertambah lamanya waktu setelah penambangan. Diperlukan upaya pemulihan yang mengkombinasikan antara pemberian pupuk kandang, inokulan mikoriza. Dalam melakukan reklamasi, tidak hanya semata harus mengembalikan kondisi bekas pertambangan semaksimal mungkin seperti sebelumnya. Yang dipikirkan adalah bagaimana membuat media yang mampu menyediakan syarat teknis tanaman terpenuhi dan akhirnya tanaman hidup. Media tersebut sebagai sarana tanaman agar mampu bertahan hidup pada kondisi lingkungan yang asam dan rendah kandungan organiknya. Upaya yang dilakukan terus menerus dengan kegigihan dan kerja keras petani Muslim, membuahkan hasil, tanaman mampu tumbuh dan subur. Uji coba dilahan eks tambang di desa Belilik terus dilakukan oleh Muslim melalui pembuatan kompos block ukuran 20 cm x 20 cm dan tinggi 15 cm, akhirnya pohonpun menghasilkan buah, saat ini kompos block menjadi usaha sampingannya, bahkan banyak dari berbagai wilayah eks tambang di Indonesia belajar ke Muslim. Dengan demikian, meskipun sudah tidak ada lagi operasi pertambangan, namun dapat tetap memberikan keuntungan bagi masyarakat khususnya dan negara pada umumnya. Dengan mempertimbangkan manfaatnya, maka tidak semua lahan bekas penambangan harus dikembalikan persis seperti sebelumnya dengan melakukan revegetasi (penanaman tumbuhan pohon kembali) maka reklamasi dapat dilakukan dengan berbagai penyesuaian sesuai kebutuhan dan manfaatnya, selain penanman kembali potensi laiiinya yang dapat dimanfaatkan adalah tempat wisata. Selain dapat menikmati keindahan alam, tempat wisata lubang bekas tambang dapat dijadikan sebagai wisata edukatif untuk memberikan wawasan pertambangan bagi pengunjung yang berwisata.

Reklamasi eks tambang timah
Kompos block tambang Babel

RIMBAWAN BARU

Contoh jerih payah kawan kawan rimbawan di atas, hanyalah sebagian dari beribu karya rimbawan di pelosok negeri. Semua memakai jerih payah, juga tantangan sosial dan medan yang tidak ringan. Jika rimbawan saat ini masih suka memikirkan kejayaan hutan massa lalu, dimana hutan masih berisi pepohonan besar, gemericik air dan kicaun burung, sepertinya itu tinggal cerita. Saat ini rimbawan dituntut berpeluh, harus mau menabur jika mau memanennya. Rimbawan baru adalah rimbawan perjuangan, mereka dituntut suka dilapangan dan suka berkarya. Masa depan rimba sangat ditentukan sikap dan kreatifitas rimbawan baru. Sebab, baik para rimbawan maupun nonrimbawan ingin hutan kita hijau kembali. Rimbawan baru idealnya bukan hanya mampu berwacana tapi mampu mewujudkan lingkungan kita yang lestari. Keberanian dan dedikasi dalam menjaga lingkungan dan hutan kita, sungguh-sungguh bermakna demi masa depan manusia dan seluruh lingkungan hidup. Jika rimbawan baru mampu memikirkan, mendesaian dan mewujudkan kondisi hutan kritis menjadi kemakmuran baru, maka layak kita adalah senasib sebagai “Rimbawan Baru”. Kedepan peran ekonomi kehutanan menjadi makin substansial karena memiliki karakteristik dunia usahanya yang mampu membangun pusat-pusat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi daerah-daerah terpencil di pedalaman.

Rimbawan Baru

Beberapa artikel ilmiah menyebutkan, bahwa dunia akan dihadapkan pada empat kekuatan besar, yaitu bonus demografi, permintaan sumber daya alam, perubahan iklim, dan globalisasi. Oleh karena itu, rimbawan baru saat ini memegang peranan penting terhadap keberlangsungan hutan di masa depan. Agar rimbawan baru tidak menjadi objek perubahan waktu dan masa, maka dengan modal keilmuan dan keahlian, juga dapat memainkan peran sangat penting karena berada di usia matang dan senior. Rimbawan baru tetap bisa eksis dan menjadi rujukan bagi lainnya untuk menghadapi persoalan hidup di saat tantangan dunia yang semakin kompleks. Regenerasi rimbawan akan selalu berjalan seiring dengan perubahan waktu, sangat urgent karena berkaitan dengan pembaharuan sumber daya manusia (SDM), bila disandingkan dengan revolusi 4.0 dimana yang dirancang presisi dan pintar menggunakan teknologi. Kecanggihan teknologi yang berkembang menuntut generasi yang melek teknologi.

Gegap gempita 4.0 harus diiringi kesiapan sumber daya manusia rimbawan baru, perubahan paradigma berpikir untuk terus maju membangun kelestarian hutan. Jika rimbawan baru selalu belajar fakta lapangan, akan mampu melihat masalahnya dan mampu memiliki perubahan strategi membangun hutan sesungguhnya.

RENUNGAN RIMBAWAN BARU DAN LAHAN KRITIS

Pelaksanaan penanganan lahan kritis di hutan konflik adalah fakta yang harus diselesaikan. Maka, dari pengalaman lapangan sebagaimana tergambar dalam contoh keberhasilan diatas diperlukan beberapa prinsip pelaksaaan sebagai dasar pemikiran guna terbangunnya pelaksanaan penanganan lahan kritis konflik agar terstruktur dan sistematis. Dasar-dasar pemikiran tersebut meliputi beberapa aspek yang perlu dipertimbangan oleh rimbawan baru. Yaitu Aspek Keterikatan, dalam aspek keterikatan ini komponen-komponen yang bekerja tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Komponen yang satu baru dapat dikerjakan apabila komponen sebelumnya telah selesai dikerjakan, begitu juga sebaliknya. Antar komponen pekerjaan menjadi satu sistem yang terkait dan terikat satu sama lainnya. Contoh pekerjaan pemilihan lokasi penanaman rehabilitasi, akan dapat dilaksanakan jika telah terjadi kesepakatan melalui kegiatan prakondisi sebelumnya, selanjutnya jika akan melanjutkan kegiatan perencanaan kegiatan dapat dilaksanakan setelah lokasi disepakati saat selesai kegiatan prakondisi, sedangkan lokasi yang telah ditetapkan baru bisa dilanjutkan kegiatan lain misalnya merencanakan pembuatan bibit, dan bibit jika sudah siap dalam jumlah dan kualitasnya baru bisa ditanam di saat musim hujan tiba, dan tentu bibit yang telah ditanam akan tumbuh baik jika ada pendampingan masyarakat yang menjaga dan merawatnya.

Selain prinsip di atas, yang penting dipahami juga adalah Aspek Ketergantungan, aspek ini merupakan salah satu aspek dalam penerapan sistem dimana apabila komponen pekerjaan yang satu tidak dapat berjalan, maka akan mempengaruhi kelancaran komponen pekerjaan lainnya. Komponen yang satu dalam pelaksanaannya bergantung pada komponen pekerjaan yang lainnya. Pekerjaan rehabilitasi mem-punyai kualitas keberhasilan yang tinggi dan tepat sasaran apabila proses penyiapan kelembagaan petani, dari saat survey awal lapangan, dalam proses ketepatan verivikasi dan tentunya pengumpulan data primer sosial dan biofisiknya, dilakukan dengan benar.

Selanjutnya Aspek Keteraturan diperlukan dalam mensukseskan rehabilitasi lahan kritis ber-hubungan dengan konsistensi dan kedisiplinan dalam pelaksanaannya. Aspek keteraturan ini akan didipengaruhi oleh aspek-aspek di atas. Apabila aspek-aspek di atas telah terbangun, maka aspek keteraturan akan juga mudah terbangun.

Selanjutnya, sebagai aspek yang penting dalam kegiatan rehabilitasi adalah aspek kelestarian, aspek ini akan muncul apabila komponen-komponen pekerjaan rehabilitasi berjalan secara berkelanjutan. Apabila semua aspek telah berjalan dengan baik, maka proses ini akan dapat terbangun. Selain prinsip diatas, usaha merehabilitasi lahan harus secara aktif melibatkan masyarakat. Tanpa melibatkan masyarakat dalam usaha pengelolaan dan penanganan selanjutnya maka problem lahan justru akan semakin besar, bahkan oleh masyrakat itu sendiri. Kebiasaan-kebiasaan baik akan membentuk karakter baik yang tentunya akan menarik hasil yang baik.