Hutan Lindung Sungai Lesan: Dari Hutan Eks-HPH Menjadi Destinasi Ekowisata International

Oleh: Dr. Edi Purwanto,

Direktur Tropenbos Indonesia dan Operation Wallacea Trust (OWT), edipurwanto@tropenbos-indonesia.org, HP: 081 296 55 233

PENDAHULUAN

Generasi milenial dikenal sebagai kelompok generasi Y atau Echo Boomer, lahir antara 1995-2000 sangat menyukai kegiatan travelling dan adventurer.

Kegiatan out-door semakin banyak diminati kaum milenial, diperkotaan mulai berolah raga lari dan sepeda ke tempat terpencil dan hutan alam, camping di puncak bukit sambil menikmati keindahan pemandangan kota, hingga mendatangi spot-spot wisata khusus, seperti goa dan air terjun yang aksesnya sulit.

Bonus demografi yang melahirkan kelompok milenial dalam jumlah besar diharapkan dapat dijadikan peluang pengembangan usaha ekowisata hutan di Indonesia.

Pengamat pariwisata memperkirakan bahwa tren wisata di alam terbuka pada saat dan setelah pandemi covid-19 semakin menguat.  Wisata di alam terbuka memiliki sirkulasi udara yang lebih baik sehingga lebih aman dari penyebaran covid-19.

Uraian berikut adalah kegiatan ekowisata milenial di Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) yang diinisiasi dan difasilitasi oleh Operation Wallacea Trust/Yayasan Operasi Wallacea Terpadu (OWT) didukung oleh
Program TFCA (Tropical Forestry Conservation Act) Kalimantan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

HUTAN LINDUNG SUNGAI  LESAN

HLSL terletak di Kecamatan Kelay, berada dekat jalan poros Tanjung Redeb-Muara Wahau, dikelilingi empat kampung, yaitu Sido Bangen, Lesan Dayak, Sungai Lesan dan Merapun.

Sampai tahun 2001, hutan ini masih dikelola oleh HPH. Tahun 2002, The Nature Conservancy (TNC) melakukan survei keragaman hayati dan menemukan populasi orangutan yang masih banyak di hutan ini.  TNC bersama Fahutan Unmul kemudian mengusulkan hutan bekas tebangan ini sebagai kawasan perlindungan orangutan dengan status Suaka Alam, usulan ini masuk dalam RTRW Kabupaten Berau (2001- 2011). Tahun 2005, Gubernur Kaltim mengusulkan Kelompok Hutan Sungai Lesan (11.342 ha) sebagai Hutan Lindung.  Setelah mengalami berbagai tahapan, akhirnya pada tahun 2014 dikukuhkan dan ditata-batas menjadi hutan lindung (10,240 ha).

Pada tahun 2014, OWT dengan pendanaan TFCA-Kalimantan memfasilitasi pelestarian HLSL berbasiskan masyarakat, diantaranya menjadikan HLSL sebagai destinasi wisata, yang diharapkan menjadi sumber mata pencaharian  lestari untuk menghambat dorongan masyarakat untuk mengijinkan perusahaan sawit besar mengkonversi hutan-hutan sekunder yang masih terisa menjadi kebun sawit.

Gambar 1. Inter-koneksi HLSL dengan ekowisata laut di Kecamatan Derawan dan Maratua

Walau hutan bekas tebangan (logged over area), HLSL masih memiliki keragaman hayati tinggi, didukung kondisi alam dan budaya masyarakatnya yang cukup menarik (Kotak 1), dan yang terpenting, HLSL memiliki posisi strategis, hanya berjarak sekitar 200 km dari Kota Tanjung Redeb atau hanya 2,5 jam perjalanan darat, sehingga berpotensi dikoneksikan dengan ekowisata laut international yang telah berkembang di Kepulauan Derawan (Gambar 1).

Kotak 1: Daya tarik ekowisata HLSL

HLSL diapit dua sungai yaitu Sungai Kelay dibagian timur dan Sungai Lesan dibagian utara (lebar 30 – 120 m) dengan debit menerus sepanjang tahun. Keberadaan sungai ini menarik sebagai ikon ekowisata. Wisatawan dapat melakukan perjalanan petualangan menelusuri sungai besar dengan menggunakan perahu ketinting sambil melakukan pengamatan satwa liar. formasi vegetasi dan singkapan batuan khas hutan tropis Kalimantan.

HLSL memiliki keragaman satwa liar tinggi, tidak kurang dari 45 jenis kupu-kupu, 26 amphibi, 31 reptil, 171 jenis burung, dan 52 jenis mammalia (12 kelelawar). Jumlah jenis ini diperkirakan akan terus bertambah seiring intensifnya penelitian. HLSL memiliki jumlah jenis relatif tinggi dibandingkan dengan Hutan Lambusango, Buton, Sulawesi Tenggara, lokasi kegiatan Operation Wallacea lainnya di Indonesia. Dalam jangka penelitian yang lebih lama, Di Hutan Lambusango hanya tercatat 95 jenis burung dan 42 mammalia (20 kelelawar). HLSL memiliki satwa ikonik yang sudah sangat terkenal dan dilindungi seperti orangutan (Pongo pygmaues) dan bekantan (Nasalis larvatus). Keunikan perilaku orangutan yang bersarang di pohon dan bekantan yang sering terlihat di pinggir sungai sangat menarik wisatawan. Kemudian aktivitas berladang, berburu, menangkap ikan dan aktivitas rutin masyarakat Dayak Kenyah dan Gaai yang tinggal di sekitar HLSL menarik bagi wisatawan asing.

 

Untuk mengoperasikan kegiatan ekowisata ini, OWT memfasilitasi penguatan Badan Usaha Milik Kampung (Bumkam) Lesan Dayak untuk bermitra dengan KPHP Berau Barat dan LSM Nemdoh Nemkay.

Seluruh kegiatan fasilitasi wisatawan di Kampung Lesan Dayak dan di Hutan, seperti penyediaan penginapan/home-stay[1], makanan dan minuman, jasa porter serta pendamping teknis lapangan dikelola oleh Bumkam, sedangkan pemasaran kegiatan ekowisata dan fasilitasi kedatangan wisatawan dilakukan oleh Operation Wallacea (Opwall).

PERAN OPERATION WALLACEA 

Banyak lokasi ekowisata yang bagus dan memiliki aksesibilitasi tinggi tetapi tidak berkembang, karena gagalnya pemasaran. Aspek ini merupakan kunci berkembangnya ekowisata, karena itu OWT menggandeng Operation Wallacea (Opwall, www.opwall.com), yang merupakan mitra lama di Hutan Lambusango, Buton, Sulawesi Tenggara.

Opwall adalah lembaga pengembang wisata ilmiah (a research tourism organization) yang mengawali kegiatannya di Buton dan Wakatobi. Opwall menyediakan jasa bagi para ilmuwan muda untuk melakukan penelitian ilmiah pada daerah-daerah tropis yang masih asli dan memiliki keragaman hayati dan budaya tinggi. Untuk menyediakan jasa tersebut, Opwall melibatkan para pakar biologi dan sosial kaliber dunia dari universitas ternama di Eropa, Amerika, Kanada dan Australia untuk mendampingi ilmuwan muda melakukan penelitian keragaman hayati dan sosial. Para ilmuwan senior bergelar Dr. dan Professor ini tidak dibayar, tetapi hanya dibiayai makan dan transportnya oleh Opwall, motivasi mereka umumnya memanfaatkan libur musim panas (Juni-Agustus) dengan kegiatan produktif secara gratis.

Sayangnya, ledakan Bom Bali 1 pada tahun 2002, telah membuat ciut nyali para calon wisatawan Opwall. Gonjang-ganjing ini justru memberikan blessing in disguise bagi Opwall. Ketakutan para peneliti muda untuk datang ke Indonesia (karena alasan keamanan) telah mendorong Opwall mencari alternatif wilayah di luar Indonesia, alternatif pertama adalah hutan tropis di Honduras. Sungguh tidak terduga bahwa hutan tropis di Amerika Selatan ini menyedot minat peneliti muda Eropa untuk bergabung dengan Opwall. Kondisi ini kemudian mendorong Opwall, dibawah kepemimpinan Dr. Tim Coles yang sangat energik, untuk mencari dan memasarkan tempat-tempat baru, hingga kini telah berkembang di 16 lokasi ekowisata di berbagai belahan dunia. Opwall merupakan lembaga ekowisata terbesar dalam memobilisasi jumlah eko-wisatawan milenial di Eropa.

Kini, setelah Opwall berkembang besar, mulai lima tahun terkahir yang dilibatkan bukan hanya ilmuwan muda yang sedang melakukan penelitian untuk S1, S2 dan S3-nya, tetapi juga pelajar sekolah menengah, yang sebagian besar adalah remaja berusia 17 tahunan.

Pasar utama wisatawan di HLSL kini adalah pelajar sekolah menengah yang didampingi oleh guru-guru pendamping baik dari Eropa maupun Australia. Jumlah wisatawan pelajar sekitar 200 – 300 selama periode waktu dua sampai 2,5 bulan (Juni- Agustus), yang terbagi kedalam beberapa kelompok kedatangan. Setiap kelompok kedatangan berkisar 20 – 40 pelajar.

Mereka terbang dari negaranya ke Jakarta, kemudian Balikpapan dan Tanjung Redeb, setelah menginap semalam di Balikpapan atau Tanjung Redeb, menuju Kampung Lesan Dayak melalui perjalanan darat, menginap semalam di home-stay masyarakat sembari menikmati sajian budaya (tarian dan nyanyian) sebelum masuk hutan. Setelah melakukan aktifitas di hutan selama lima hari, kemudian kembali menuju Tanjung Redeb, kemudian naik speed-boat ke Pulau Derawan. Mereka melakukan aktifitas di Derawan selama 5 hari sebelum kemudian kembali ke Tanjung Redeb, Jakarta dan kembali ke negaranya.

Opwall hanya mampu memfasilitasi kegiatan wisata selama musim panas saja, di luar itu Pengelola ekowisata HLSL (Bumkam dn Nemdoh Nemkay) harus mencari pasar sendiri, agar kegiatan ekowisata berjalan penuh sepanjang tahun. Berbagai upaya telah dilakukan oleh OWT untuk mempromosikan HLSL. Beberapa kunjungan di luar musim Opwall telah berjalan, walau kemudian terputus selama musim pandemi ini.

KEGIATAN EKOWISATA DI HUTAN LINDUNG SUNGAI LESAN 

Sebagaimana kegiatan yang sudah berlangsung di Hutan Lambusango, Buton, Sulawesi Tenggara dan berbagai negara di dunia, ekowisata Opwall di HLSL untuk pelajar sekolah menengah terdiri atas kegiatan pelatihan, pengamatan satwa dan survei sederhana (Tabel 1).

Gambar 2. Warga Kampung Lesan Dayak antusias menyambut wisatawan dengan menyematkan gelang

Untuk mencapai HLSL dari Kampung Lesan Dayak, wisatawan menggunakan perjalanan dengan ketinting selama setengah jam. Didalam hutan (Camp Sungai Leja) telah dibangun berbagai sarana, berupa camp permanen (bangunan kayu bertingkat) yang dibangun oleh TNC, maupun tenda-tenda (ala TNI) untuk ruang kuliah, tempat makan, dapur umum dan tempat tidur yang  pengadaannya didanai oleh TFCA-Kalimantan. Kemudian dibangun pula transek-transek permanen di dalam hutan yang telah ditandai dan diketahui koordinatnya. Perlu waktu sekitar 1 bulan untuk menyiapkan berbagai sarana dan prasarana camp sebelum  siap digunakan.

Wisatawan difasilitasi untuk melakukan survei hidupan liar menggunakan berbagai metodologi dan peralatan terbaru. Mereka juga difasilitasi untuk bekerja keras siang dan malam, bangun jam 4 pagi dan tidur jam 10  malam, setelah mengamati berbagai jenis satwa nokturnal di hutan (Tabel 2). Disela-sela pengamatan satwa di siang dan sore hari, mereka mendapat kuliah umum yang disampaikan oleh ilmuwan kaliber dunia, didampingi oleh ilmuwan muda Indonesia sebagai sukarelawan/volunteer, dimana motivasi mereka adalah mendapatkan ilmu bukan uang, mereka hanya memperoleh makan dan penggantian transport.

Memperhatikan wisatawan milenial ini hampir semuanya baru pertama kali berkunjung ke wilayah tropis, juga pertama kali masuk hutan tropis, kemudian jadwal yang begitu padat sebelumnya, mulai penerbangan hingga masuk hutan. Karenanya, mereka rentan kena flu dan alergi. Untuk itu, Opwall menyediakan tenaga medis standar internasional, yang bertugas menegakan SOP saat melakukan perjalanan laut, darat dan sungai, serta survei di hutan dan laut. Mereka secara teliti memeriksa jenis dan kualitas makanan dan memberikan perlakuan cepat saat terjadi kecelakaan, seperti digigit serangga, ular dan sebagainya.

Gambar 3. Wisatawan mendapatkan penjelasan dari peneliti senior kupu-kupu

Selain pengalaman dalam pengamatan belajar tentang hidupan liar dihabitat aslinya, wisatawan juga memiliki kesempatan belajar cara bertahan hidup di hutan (forest survival). Pengetahuan di dapatkan dari instruktur pelatihan di alam bebas (jungle trainer) dan belajar kearifan lokal dari masyarakat tempatan.

Untuk mendapatkan gambaran kegiatan ekowisata ini secara menyeluruh, silakan periksa : Link Video YouTube Sungai Lesan Protection Forest: Nature & Ecotourism; https://youtu.be/-fSxoAhP89o

Tabel 1. Kegiatan Pelatihan dan Survei Hutan di HLSL

NoKegiatanKeterangan
1Pelatihan
a. Forest acclimatizationAdaptasi kegiatan wisatawan di hutan sebelum survey ke hutan
b. Advenced jungle trainingBelajar bertahan hidup di alam, navigasi dalam hutan
c. Bird trainingMengenal cara identifikasi jenis burung melalui pengamatan langsung dan identifikasi suara
2Survei Keragaman Hayati
a. Vegetasi hutan
Analisa vegetasi, identifikasi jenis tumbuhan
b. SeranggaIdentifikasi dan distribusi serangga
c. Kupu-kupuIdentifikasi kupu-kupu
d. Herpeto FaunaIdentifikasi amphibi dan reptil
e. BurungIdentifikasi burung
f. Mammalia KecilIdentifikasi mammalia kecil (seperti tikus hutan)
g. PrimataIdentifikasi primata (seperti monyet} di hutan
h. Mammalia BesarStudi populasi dan distribusi mamalia besar
3Survey GeologiStudi formasi dan struktur fisik batuan

Tabel 2. Jadwal Kegiatan di HLSL

JamKegiatan
04.00 - 05.00Persiapan pengamatan lapangan, makan pagi di camp
05.00 - 05.30Perjalanan menuju transek monitoring satwa
05.30 - 06.00Mencatat aktivitas suara burung pagi hari (dawn chorus)
06.00 - 08.00Pengamatan burung dan mammalia
08.00 - 09.00Kembali ke camp penelitian
09.00 - 12.00Survei vegetasi hutan
12.00 - 13.00Makan siang, Istirahat
13.00 - 15.00Survei serangga dan kupu-kupu
15.00 - 17.00Input data pengamatan di camp
17.00 - 18.00Kuliah Umum
18.00 - 20.00Makan malam, penjelasan rencana kegiatan hari berikutnya
20.00 - 21.00Survei satwa nokturnal, mengecek pitfall trap untuk herpeto fauna, mendengar suara katak di Sungai.
21.00 - 04.00Istirahat, tidur malam di hammock di camp penelitian.

PENUTUP

Hutan Indonesia walau telah banyak terdegradasi, namun di sebagian wilayah masih menyisakan tutupan hutan dan keragaman hayati yang tinggi. Dengan keunikan dan kelebihan yang dimiliki seperti endemisitas, tumbuhan dan satwa dilindungi, spot-spot pengambilan foto menarik, kegiatan ekowisata dipadukan dengan pendidikan konservasi yang melibatkan generasi milenial berpotensi besar untuk menjadi unit usaha ekowisata.

Model ekowisata di HLSL selain berpotensi untuk direplikasi juga bisa menjadi inspirasi bagi pengusaha ekowisata nasional untuk melibatkan pelajar sekolah menengah dan perguruan tinggi di berbagai kota besar di Indonesia yang memiliki willingness to pay untuk melakukan perjalanan ekowisata yang aman dan bernilai akademis.

Keberhasilan Ekowisata ala Opwall bukan tanpa kendala oleh rumitnya birokrasi.  Terbangunnya semangat baru untuk mendorong investasi melalui penyederhanaan Izin Usaha Penyedia Jasa Wisata Alam (IUPJWA), Izin Usaha Penyedia Sarana Wisata Alam (IUPSWA), ditambah terbitnya Undang-Undang Cipta Kerja diharapkan akan mendorong berkembangnnya model ekowisata ala Opwall di Indonesia. (Bogor, 21 Oktober 2020).

 

[1] Home-stay adalah  rumah-rumah masyarakat, dengan memperbaiki kualitas dan kebersihan toilet, standarisasi ukuran tempat tidur dan kasur serta pemasangan kelambu.