Sumpah Pemuda di Era Revolusi Industri 4.0 dalam mendorong usaha kehutanan dalam mensejahterakan masyarakat

Oleh: Ir. Fajar Surya Pratomo, S.Hut.,IPU

Cerita Sejarah Bangsa, sejarah kepemudaan dalam berjuang memerdekakan Indonesia dan serba serbinya

Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 tidak lepas dari sejarah yang panjang dengan bantuan para Biodata Pahlawan Kemerdekaan Indonesia. Dijajah selama ratusan tahun sampai akhirnya lahirlah motivasi melakukan perjuangan demi kemerdekaan negara. Perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapatkan status kemerdekaan dimulai sejak kedatangan bangsa Portugis. Tujuan penjajahan tersebut adalah untuk mengambil kekayaan Indonesia berupa rempah-rempah. Melihat hal tersebut beberapa negara Eropa lainnya mulai merasa terdorong untuk ikut melakukan penjajahan di Indonesia dengan tujuan yang juga tidak berbeda.

Setelah bertahun-tahun berjuang berjuang melawan bangsa Portugis, penjajah baru kembali datang ke Indonesia yaitu bangsa Belanda. Lalu pada tahun 1602 Belanda memilih Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang memiliki tujuan menguasai pasar rempah-rempah di Indonesia. Penjajahan yang dilakukan Belanda berlangsung selama 350 tahun. (Reporter Satu.com, 2020). Meskipun penjajahan Jepang tidak berlangsung lama, tetapi semangat perjuangan bangsa Indonesia semakin berkobar pada masa-masa yang menyakitkan tersebut. Pada tanggal 14 Agustus 1945 Soekarno, Moh, Hatta, dan Radiman kembali ke tanah air. Ketika pihak dari Sutan Syahrir, Chaerul Saleh, Wikana, dan Darwis kedekatan mereka untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi usul tersebut ditolak oleh Soekarno dan Hatta. Mereka beranggapan bahwa pengambilan keputusan secara mendadak untuk memproklamasikan kemerdekaan hanya akan menyebabkan pertumpahan darah, karena kekuasaan Jepang belum diambil secara penuh oleh Indonesia.

Perbedaan pendapat ini kemudian terjadi di antara dua kubu yang dikenal sebagai golongan muda dan tua. Golongan muda pada pihak Sutan Sjahrir dan golongan tua pihak Soekarno dan Moh. Hatta. Hal inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya peristiwa sejarah Rengasdengklok.   Lalu pada tanggal 15 Agustus 1945 para golongan muda membawa Soekarno dan Moh Hatta ke Rengasdengklok.  Penculikan ini bertujuan untuk menilai kedua tokoh tersebut dari pengaruh Jepang dan agar proklamasi kemerdekaan Indonesia segera dilaksanakan.

Dari sinilah awal mula peran tokoh pemuda dalam mendorong perubahan besar yang ada di negara sebesar ini berkembang. Pemuda berhasil merubah pendirian founding fathers bangsa ini sehingga akhirnya menyadari bagaimana bisa merubah kondisi dan masa depan bangsa yang saat itu dirasa tidak kondusif dan semrawut. Pemuda mampu mengambil tindakan yang tepat meskipun terkesan ekstrim dan sangat membahayakan keselamatan bahkan mempertaruhkan nyawa. Akan tetapi sejarah membuktikan bahwa tanpa keputusan tersebut maka negara ini tidak akan pernah mengalami hal yang sangat ditunggu oleh jutaan rakyat indonesia yakni Kemerdekaan.

FRAGMENTASI PERJUANGAN PEMUDA DARI MASA KE MASA 

Sejak era pergerakan nasional 1908 hingga kemerdekaan Republik Indonesia yang diperoleh hingga umur ke-71 ini, para pemuda selalu menjadi motor penggerak dan penentu arah perjalanan bangsa.  Bukti tersebut tercatat dalam perjuangan Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan RI 1945, lahirnya Orde Baru 1966, dan lahirnya Era Reformasi 1998.  Namun, satu hal yang sering terlupa dalam ingatan ialah perjuangan pemuda dari masa ke masa muncul sebagai perlawanan terhadap tirani dan kemiskinan.  Pada 20 Mei 1908, atas prakarsa Dr Wahidin Sudirohusodo dan para Pemuda STOVIA, seperti Sutomo, Gunawan, Suradji, dan Suwardi Suryaningrat, rapat pertama diadakan di Jakarta dan perkumpulan Boedi Oetomo yang berarti kebaikan yang diutamakan didirikan.

Organisasi Boedi Oetomo membangkitkan kesadaran golongan priayi agar bersedia mengulurkan tangan, memberi pertolongan kepada rakyat untuk meningkatkan kecerdasannya. Ia juga menjadi pemantik munculnya perkumpulan dan pergerakan seperti Sarekat Dagang Islam pada 1909, Indische Partij pada 1913, Muhammadiyah pada 1912, serta Nahdlatul Ulama pada 1926. Atas usul Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) sebagai organisasi kemahasiswaan pertama, pada 26-28 Oktober 1928 diadakan Kongres Pemuda Kedua dengan kesimpulan bahwa jika ingin merdeka, bangsa Indonesia perlu bersatu dengan ikrar Sumpah Pemuda pada akhir kongres. Kolonialisme, di satu sisi, telah meningkatkan standar hidup di Pulau Jawa. Sampai 1930-an, setidaknya standar hidup meningkat sebesar 23%, tetapi ketimpangan antara pemilik modal dan rakyat terlihat sangat nyata, serta banyak kematian akibat kelaparan. Selama periode 1930 hingga 1940-an, Hindia Belanda melakukan represi terhadap kegiatan pemuda yang politis dan radikal. Represi tersebut telah mendorong pemuda Indonesia untuk melakukan pergerakan di bidang sosial dan pendidikan dengan satu tekad, yaitu melepaskan masyarakat dari belenggu kemiskinan dan penjajahan.

Pada akhir 1930-an, setidaknya 130 ribu murid mengikuti sekolah liar bentukan pemuda pribumi. Jumlah tersebut dua kali lipat daripada jumlah murid di sekolah formal. Kolonialisme terus berlanjut ketika Jepang mengeksploitasi sumber daya Indonesia selama tiga setengah tahun. Pada masa tersebut, bangsa Indonesia kelaparan, miskin, dan tidak terdidik. Keadaan tersebut menjadi titik balik bagi pemuda melakukan perlawanan. Pada perjuangan kemerdekaan 1945, golongan muda Indonesia mendesak golongan tua agar segera memproklamasikan berdirinya Republik Indonesia serta menjadi garda terdepan dalam pertempuran. Di akhir kepemimpinan Orde Lama, Indonesia kembali dihadapkan dengan keadaan ekonomi dan politik yang karut-marut.

Dalam catatan sejarah Bank Indonesia, selama periode 1960-1965, perekonomian Indonesia memburuk akibat pemerintah yang mengutamakan kepentingan politik melalui doktrin ekonomi terpimpin. Doktrin tersebut menguras hampir seluruh potensi ekonomi Indonesia akibat membiayai megaproyek cerminan politik pemerintah. Akibatnya inflasi mencapai 635% pada 1966. Masyarakat harus mengantre untuk mendapatkan bahan bakar minyak dan kebutuhan pokok. Untuk itu, pemuda melalui kesatuan aksi Front Pancasila mendatangi DPR-GR menuntut perubahan nasional lewat Tri Tuntutan Rakyat yang berisi pembubaran PKI, perombakan Kabinet Dwikora, serta perbaikan ekonomi. Pergerakan tersebut mengantarkan transisi kepemimpinan dari Orde Lama ke Orde Baru dengan harapan perubahan dapat membawa kesejahteraan. (Media Indonesia, 2016)

Krisis kembali melanda Indonesia sejak Juli 1997. Nilai tukar rupiah terus merosot tajam hingga mencapai Rp16 ribu. Pengetatan anggaran dan kenaikan suku bunga yang sangat tinggi justru memperparah perekonomian. Masyarakat panik dan kehilangan kepercayaan pada pemerintah dan perbankan. Pemuda menentang terpilihnya kembali HM Soeharto dalam pemilihan umum 1998. Korupsi, kolusi, nepotisme, serta kemiskinan menyebabkan ketimpangan sosial dan menimbulkan kerusuhan sosial.  Pemuda menuntut HM Soeharto dan pemerintahan Orde Baru untuk turun karena tidak mampu menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur dalam keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Repubik Indonesia 1945.

Menurut data Badan Pusat Statistik pada 2015, jumlah penduduk miskin Indonesia sebesar 11,22% atau mencapai 28,59 juta orang, dengan komposisi di kota 10,65 juta orang dan desa 17,94 juta orang (data per Maret 2015), serta jumlah pengangguran sebesar 7,6 juta jiwa pada 2015. Di era globalisasi ini, data dan informasi amat bernilai, kesempatan terbuka bagi siapa saja yang ingin maju–siapa pun memiliki kesempatan yang setara. Akan tetapi, kesempatan itu membutuhkan modal pengetahuan dan akses. Knowledge is power, pengetahuan adalah kunci bagi siapa pun yang ingin maju dan terdepan.

Pemerintah tengah berusaha membangun tiga aspek yang berkaitan, yaitu pembangunan fisik melalui percepatan pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pembangunan institusi. Berkaca pada sejarah dari masa ke masa, pemuda telah berhasil membawa perubahan melalui perjuangan dan perlawanan terhadap tirani, kemiskinan, dan kebodohan. Adalah tugas negara dalam memberikan jaminan dan kebebasan bagi pemuda Indonesia untuk mampu berkarya dan berpikir kritis baik di bidang ekonomi, sosial, politik, maupun kebudayaan. Namun, pembangunan bangsa dan perlawanan terhadap kemiskinan tak bisa dilakukan tangan pemerintah sendiri. Akan sangat lama menunggu perubahan bila hanya menunggu pemerintah sebagaimana dalam tulisan Presiden Joko Widodo dalam ‘Bertumbuh dengan Kerja Nyata’ (Media Indonesia, 16/8).

Faktor-faktor kunci daripada Infrastruktur, peningkatan kualitas dan pembangunan institusi adalah sebuah penghargaan dimana negara sudah seharusnya hadir ditengah-tengah masyarakat dan menyelesaikan persoalan bangsa yang selalu berujung pada adanya PR untuk segera dicari solusinya. Tapi itulah kehidupan berbangsa dan bernegara dimana dinamikanya sangatlah cepat memerlukan perhatian cukup serius dan peran serta semua komponen bangsa tidak terkecuali pemuda. Reformasi yang sudah berjalan semenjak 1998 dan sudah memasuki 22 tahun perjalanan negeri ini dari tirani yang sedemikian merugikan bagi bangsa indonesia seharusnya sudah bisa memberikan harapan baru serta kecukupan waktu untuk berbenah dan merubah diri.

Tidak dinyana ternyata puluhan tahun belumlah cukup untuk bisa mengantarkan Indonesia menjadi negara dan bangsa yang besar Gemah Ripah Loh Jinawi Toto tentrem kertho raharjo. Justru era reformasi menjadi ajang bertindak serampangan dan semaunya sendiri dengan dalih demokratisasi. Organisasi bermunculan tanpa bisa dibendung tanpa bisa dikontrol dengan baik apa kontribusinya bagi kemaslahatan Rakyat Indonesia dan kebaikan negara ini. Sepertinya hal ini yang tidak dipersiapkan matang oleh penerus-penerus tokoh bangsa yang seharusnya bisa mendudukan hal ini dengan baik dan memperiapkan transformasinya sehingga semua elemen bangsa bisa menyepakati platform berbangsa dan bernegara yakni Keadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Para pemuda yang waktu itu bertungkus lumus, berjiwa patriot bahkan rela menyerahkan nyawa mereka demi melawan tirani yang membelenggu bangsa dan negara ini. Mereka sekarang telah menjadi politikus, pemimpin organisasi, pejabat tinggi negara bahkan pengusaha dan atau komisaris perusahaan-perusahaan besar. Saat mereka membandingkan kondisi bangsa dan negara ini saat ini dengan 22 tahun yang lalu tentunya sebagai seorang pemuda kala itu bisa menilai dan menganalisa apa yang terjadi dengan bangsa ini. Saat itu negara dikendalikan hanya oleh satu perintah saja dan bisa berjalan meski dalamnya keropos, sementara saat ini semua merasa bisa memerintah, bisa memiliki hak untuk mengatur dan nggak mau diatur dimana seolah-olah negara ini sudah makmur dan demokratis tetapi sama hakekatnya yakni sama-sama keropos.

Saat ini dalam situasi seperti ini, pemuda indonesia sudah seharusnya menjelma menjadi pemuda-pemuda pada saat itu yang berani mendobrak kebuntuan dan kemunduran serta mampu menghantarkan Indonesia menjadi negara yang jauh lebih maju dari negara-negara lain. Pemerintah sudah menjembatani dengan merombak total sistem yang kaku, sistem yang feodal, meningkatkan daya saing bangsa yang lebih baik dan juga memperbaiki sistem birokrasi yang korup, lambat dan tidak melayani menjadi lebih baik. Meskipun masih banyak di sana-sini yang perlu ditingkatkan kembali dan juga bisa dipastikan keberpihakannya kepada masyarakat, tetapi pemuda bisa memaknai dengan lebih luas untuk sama-sama menjadi penggerak perekonomian, pembela kepentingan rakyat dan tukang kritik yang konstruktif dan berkontribusi nyata pada bangsa dan negara ini.

Salah satu bentuk keberpihakan yang kurang optimal pemerintah pada rakyat indonesia adalah sektor kehutanan dan pengelolaan sumber daya alam. Besar sekali potensi pengelolaan sumber daya alam dan sektor kehutanan tetapi ternyata belum bisa menjawab persoalan kesejahteraan masyarakat, hak akses terhadap sumber daya alam yang berkeadilan yang tentu saja ini adalah buah yang dipetik bukan karena ditanam pada saat pemerintahan sekarang saja tetapi yang tertanam bertahun-tahun yang lalu serta ekses kebijakan masa lalu yang seharusnya bisa cepat diperbaiki.

PERAN PEMUDA PADA IMPLEMENTASI REVOLUSI INDUSTRI 4.0 BIDANG PENGELOLAAN SDA DAN SEKTOR KEHUTANAN 

Setiap revolusi industri memiliki tujuan untuk meningkatkan produksi, efisiensi, sehingga dapat memberikan keuntungan. Ini menjadi kata kunci karena proses produksi massal serta berkontribusi kepada semua elemen baik manusia maupun lingkungan hidup membutuhkan bahan baku yang banyak, serta menimbulkan limbah yang juga tidak sedikit.  Terdapat isu lingkungan yang akan selalu membayangi berbagai inovasi teknologi yang berkembang.  Revolusi industri 4.0 di sektor pengelolaan sumber daya alam dan sekotor kehutanan juga ditandai dengan penggunaan Internet of Things, cloud, mekanisasi, automasi dengan penggunaan robot dan lainnya.   Maka proses industri menjadi semakin kompleks dengan adanya integrasi proses produksi dengan internet.  Revolusi industri keempat juga hasil refleksi berbagai revolusi industri sebelumnya yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Hal ini terkait bagaimana penggunaan teknologi seharusnya mampu membantu manusia melakukan produksi yang efisien dan meminimalisir masalah dalam prosesnya (Forbil Institute, 2018)

Beberapa prinsip pada revolusi industri 4.0 antara lain ; Interoperability, yaitu pertukaran fungsi antara mesin dan berbagai peralatan berbeda di industri manufaktur.  Kemampuan tersebut akan memperpanjang masa penggunaan mesin dan mengurangi limbah mesin dari industri.   Serta akan meningkatkan efisiensi penggunaan mesin tanpa perlu membuat desain ulang yang terus menerus.  Pemuda sangat bisa menentukan arah artikulasi dalam mekanisasi industri melalui proses pengembangan digitalisasi yang sudah seharusnya digandrungi oleh generasi muda di Indonesia.

Desentralisasi industri 4.0, hal ini akan memberikan kemampuan kepada perusahaan yang lokal, operasional personal, serta mesin untuk menentukan keputusan. Bukannya menggunakan komputer pusat atau pengambilan keputusan yang bersifat hierarkis, akan tetapi akan memberikan kapasitas dan kesempatan kepada operator lokal untuk merespons dengan cepat perubahan yang terjadi.  Sehingga akan ada lebih banyak keuntungan karena adanya fleksibilitas dan spesialisasi pengetahuan. Ini yang pada sektor kehutanan masuk kedalam Precision Forestry secara kontekstual.

Adanya desentralisasi akan mempersingkat proses pengambilan keputusan dan mengurangi waktu komunikasi yang dibutuhkan antara organisasi lokal dengan pengambil keputusan yang tingkatannya lebih tinggi dan di luar organisasi tersebut.  Sehingga industri dapat beradaptasi dengan cepat dan memanfaatkan peluang yang ada di sekitarnya, seperti memproduksi energi sendiri dan memanfaatkan peluang pasar di sekitarnya.

Virtualization akan memungkin adanya monitoring dan komunikasi mesin-ke-mesin yang berbentuk visual. Hal ini juga akan mempermudah melanjutkan praktik produksi, mengurangi limbah industri karena mampu mengambil keuntungan dari proses evaluasi yang dilakukan.  Serta akan meningkatkan peluang daur ulang, dengan memberikan informasi virtual tentang produk. Seperti informasi perubahan atau pergantian produk dari perusahaan atau pemberitahuan kepada konsumen bagaimana membuang bekas produk tersebut. Ini sangat bermanfaat bagi produk-produk petani, UMKM dan juga Produk Jasa bagi buruh.

Real-Time Capability, yang mana akan membantu adaptasi penggunaan sumber daya yang lebih baik. Mempercepat respons untuk membuat perubahan energy supply.   Apabila ada perubahan perilaku konsumen yang berdampak pada permintaan, maka industri dapat mengurangi risiko overproduksi.  Selanjutnya adalah Modularity, kemampuan ini akan menambah atau mengurangi proses dalam produksi. Hal ini terkait bagaimana meningkatkan kemampuan mesin yang lama untuk digunakan kembali.  Prinsip ini sangat berhubungan dengan manfaat interoperability.

Service orientation. Prinsip ini akan memungkinkan semua pihak memanfaat cyber-physical system, bisnis, dan sumber daya manusia melalui layanan internet, dimana hal tersebut akan membentuk product-service system.  Hal tersebut dapat digunakan diinternal perusahaan maupun melewati batas-batas perusahaan. Hal tersebut akan memungkinkan perusahaan teknologi untuk lebih fleksibel dan tangkas dalam merespon perubahan pasar yang sangat cepat.  Karena perusahaan dapat memilih bekerja sama dengan jaringan IT dan membuat nilai baru untuk konsumen.

Beberapa prinsip dalam revolusi industri 4.0 tersebut di atas merupakan hal-hal yang sangat familiar dengan ruang lingkup generasi muda yang memang sedang menggandrungi dunia IT dan digitalisasi secara masif. Ini tidaklah mengherankan karena bentuk aktualisasi diri generasi muda era sekarang memang sesuatu yang semua serba tersedia, cepat dan bisa menjangkau di banyak elemen masyarakat.  Prinsip ini sangat membantu untuk mendapatkan informasi mengenai proses bisnis yang ada, market place, stakeholders dan juga hal lainnya.

KONDISI KAUM MUDA DAN GELIAT EKONOMI PROGRESIF BANGSA INDONESIA

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2020 sebanyak 137,91 juta orang.  Angka itu naik 1,73 juta orang dibanding Februari 2019. Sementara,  pada watu yang sama jumlah pengangguran bertambah sebanyak 60.000 orang. “Berbeda dengan naiknya jumlah angkatan kerja, tapi tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) turun sebesar 0,15 persen poin,” kata Kepala BPS K. Suhariyanto secara virtual di Jakarta, Selasa (5/5/2020).

Dalam setahun terakhir, lanjut dia,  pengangguran bertambah 60 ribu orang, kondisi ini berbeda dengan Tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang turun menjadi 4,99 persen pada Februari 2020. “Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih yang paling tinggi diantara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 8,49 persen,” kata Suhariyanto lagi. Sementara, penduduk yang bekerja sebanyak 131,03 juta orang, bertambah 1,67 juta orang dari Februari 2019. Sebanyak 74,04 juta orang (56,50 persen) bekerja pada kegiatan informal (BisnisNews, 2020).

Apabila melihat kondisi angkatan kerja yang ada di Indonesia didominasi oleh angkatan kaum muda maka bisa dipastikan situasi bangsa ini akan banyak dikendalikan dan dihegemoni oleh kaum muda atau generasi milineal.  Ini tentunya menjadi pekerjaan rumah yang besar karena kondisi generasi muda yang ada di bangsa ini beum semunya siap untuk bersaing dan menapaki dunia karir dengan baik padahal era perdagangan bebas seperti AFTA, MEA sudah berjalan dan mewajibkan pada semua anggota untuk mempersiapkan diri.  Ini terihat dari banyaknya pihak yang teribat pada bisnis pengelolaan sumber daya alam dan sektor kehutanan cukup banyak yang masih menggunakan konsultan dari luar Indonesia, tenaga ahli LSM yang berasal dari negara tetangga, dan juga tenaga teknis strategis yang masih terlihat menggunakan sebagian tenaga asing.

Sebenarnya adanya MEA memberi peluang bagi Indonesia.  Mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang terbesar di Asia Tenggara. Total jumlah penduduk Indonesia hampir 40% dari total keseluruhan penduduk ASEAN.  Fakta ini bisa dijadikan acuan untuk menguasai pasar ASEAN jika didukung dengan produktivitas yang tinggi.  Selain itu, Indonesia juga memiliki sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang potensial.

Tentu saja hal tersebut sejalan dengan ASEAN Economic Community Blueprint yang intinya adalah MEA sangat diperlukan dalam mengurangi kesenjangan antar negara ASEAN.   MEA juga dapat digunakan sebagai jembatan dalam membangun rantai suplai makanan dan bisa menjadi perantara untuk melakukan kegiatan ekspor-impor dengan negara-negara non-ASEAN.

Kesempatan baik tersebut dapat dimanfaatkan Indonesia untuk mengurangi hambatan perdagangan.  Dengan tidak adanya hambatan di bidang perdagangan, Indonesia mampu meningkatkan kegiatan ekspor-impor sehingga bisa meningkatkan gross domestic product (GDP) atau produk domestik bruto (PDB).  Karena itu, Indonesia sanggup berkompetisi dengan produk-produk unggulannya di perikanan, pertanian, dan perkebunan. Selain sektor jasa dan sumber daya alam, Pemerintah juga fokus dalam mengembangkan sektor investasi dan SDM.  Di sektor investasi, mengingat potensi yang dimiliki Indonesia cukup besar maka diprediksi akan sangat mudah untuk meningkatkan masuknya Foreign Direct Investment (FDI). Masuknya FDI ini bakal mampu memicu pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui perkembangan teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan SDM.

Dilihat dari aspek ketenagakerjaan Indonesia juga memiliki kesempatan yang sangat besar karena dengan jumlah populasi yang dimiliki akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja apalagi jika mereka sudah memiliki kualitas SDM yang mumpuni.  Dengan begitu, tenaga kerja Indonesia bisa mengisi kekosongan-kekosongan posisi yang ada di luar negeri.  Ini juga menjadi kabar baik bagi para wirausaha karena mereka akan lebih mudah dalam mencari tenaga kerja yang lebih berkompeten dari berbagai negara di wilayah Asia Tenggara (Cermati.Com, 2017).

PERAN KAUM PEMUDA DALAM MENGGERAKAN BISNIS SEKTOR KEHUTANAN DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM 

Gerakan kaum muda dalam berkontribusi pada sektor kehutanan dan pengelolaan sumber daya alam belum banyak terlihat di permukaan.  Hanya insiatif kecil dan gerakan yang bersifat penyadaran yang sering muncul dalam dunia bisnis kehutanan dan pengelolaan sumber daya alam terutama yang banyak dilakukan oleh kaum muda yang bergerak di bidang organisasi non pemerintah (ornop).  Tidak banyak muncul kaum muda yang sukses dalam menggerakan bisnis kehutanan baik dalam konteks pengelolaan hutan berkelanjutan melalui pemanfaatan potensi lahan dan HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) maupun yang mendorong bisnis yang responsible terhadap pengelolaan sumber daya alam seperti ecotourism, adutourism dan lain sebagainya.

Banyak anak muda sekarang yang lebih memilih untuk pragmatisme menggapai cita-cita sesaat dan memperoleh kesuksesan yang absurd serta minim kontribusi kepada masyaraka yang lebih luas dalam hal ini terutama adalah kaum marginal. Eksploitasi sumber daya alam yang tidak diikuti dengan responsible business maka akan menjadi malapetaka panjang warisan bagi anak cucu bangsa ini. Padahal sebenarnya keberadaan kaum muda yang enerjik dan progressif dapat mengantarkan kepada model pengelolaan sumber daya alam yang lebih bermanfaat bagi semua salah satunya bisnis yang berbasiskan pada hiburan dan daya tarik panorama, keindahan alam dan bahkan destinasi yang hanya sekedar menjadi hobby dan eksistensi kaum netizen di dunia maya (leisure economic), menjadikan bisnis ini sangat menarik ke depan dengan tetap memperhatikan perlindungan sumber daya alam dan pemanfaatan secara berkelanjutan.

Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena fenomena ini. Pasalnya, konsumsi dalam kategori leisure makin marak dininikmati. Kategori leisure seperti traveling, menginap di hotel, menonton film, konser musik, dan kuliner telah menjadi konsumsi gaya hidup sekarang ini. Fenomena ini menjadikan konsumsi masyarakat dengan tujuan mendapatkan kesenangan dan pengalaman dapat terakomodir sesuai keinginannya. Ini juga dapat dikombinasiakan untuk mendorong proteksi dalam konteks bisnis berbasis pada pemanfaatan sumber daya alam dan sektor kehutanan sebagai evidences based untuk sustainable resources sebagai bentuk alternatif bisnis yang hanya berbasis eksploitasi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan konsumsi berbasis pengalaman meningkat pesat sejak 2015. Mereka adalah kelas menengah yang berpengeluaran US$2-10 per hari. Di Indonesia konsumen dengan rentang pengeluaran sebesar itu kini mencapai lebih 60% dari total penduduk. Studi Nielsen (2015) mengungkapkan, kaum millenial yang kini telah menjadi konsumen dominan Indonesia (mencapai 46%) sangat mudah mengeluarkan biaya yang bersifat gaya hidup dan experience based.

Fenomena ini menegaskan bahwa sektor leisure telah menjadi gaya baru ekonomi di Indonesia. Leisure economy diprediksi akan lebih hype di masa depan seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Ekonomi jenis ini memiliki ciri positif yang tahan deraan krisis dan tak merusak lingkungan. Terlebih potensi yang dimiliki Indonesia melalui sektor pariwisata, tersebar dari Sabang hingga Marauke. Diperkirakan leisure economy di bidang pariwisata memberikan kontribusi signifikan pada perekonomian nasional.

Menurut pengamat sekaligus Direktur Inventure, Yuswohady, leisure economy mengedepankan momen dan experience. Kepuasan dan kesenangan yang didapatkan dari hal tersebutlah menjadi value dalam sebuah bisnis tersebut. “Leisure berada di level utility, sedangkan experience ada di level connection. Keduanya yang terkait menciptakan happiness dari sebuah produk leisure yang dirasakan. Pada tingkat selanjutnya menciptakan esteem dari eksternal yang menimbulkan moment of recognition,” ujarnya.

Berbagai bidang kini banyak yang dikaitkan dengan leisure economy. Menurut Yoswohady ada dua jenis produk yang diperuntukan hal tersebut, produk yang memang leisure by default dan produk yang disuntikkan value leisure. “Co-working space atau properti contoh produk yang disuntikkan value leisure-nya. Hotel, makanan, paket liburan adalah produk yang secara otomatis memang merupakan bisnis leisure,” ungkapnya.

Tren yang berkembang di kalangan millenial saat ini ada di antara living, working, dan leisure menjadi satu. Hal ini yang membuka inovasi dan menjadi peluang luar biasa. Menurutnya, elemen-elemen leisure dalam sebuah bisnis akan semakin dominan untuk menarik konsumen. Mencari celah di mana sebuah produk dapat disuntikkan unsur leisure menjadi cara baru dalam menciptakan bisnis.

Guru Besar Prasetiya Mulya Business School sekaligus pengamat bisnis, Agus Soehadi, mengungkapkan bahwa leisure economy terkait dengan pengisian waktu luang di luar perkejaan rutin. Beberapa literatur menyatakan leisure terkait dengan produk atau layanan yang terkait dengan REST (recreation, entertainment, sports and tourism). “Tren ini muncul karena proporsi kelas menengah di Indonesia besar, kemudian biaya yang dikeluarkan untuk mengkonsumsi aktifitas leisure yang semakin terjangkau,” ungkapnya.

Produk leisure yang ditawarkan semakin beragam dan informasi yang terkait dengan REST semakin mudah diperoleh. Menurut Agus, perkembangan teknologi digital membuat banyak pekerjaan yg tergantikan dan kebutuhan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut semakin cepat. Hal ini berdampak pada kebutuhan pengisian waktu luang atau leisure yang semakin besar. Kondisi ini yang menciptakan fenomena pergeseran pertumbuhan konsumsi dari non-leisure ke leisure. (WICF, 2018).

Selain leisure economic yang sedang marak tersebut, ada beberapa hal yang ustru menarik berkaitan dengan bisnis pengelolaan sumber daya alam akan tetapi berbasis pada intangible product nya bukan substansi produk yang memang cenderung eksploitatif. Sumber daya alam dan hutan bisa dengan nyata memberikan manfaat yang lebih untuk masyarakat luas dengan pengelolaan yang benar.  Kata kunci yang sebenarnya adalah suplai pangan bagi manusia dan juga optimalisasi sumber daya lahan sehingga nilai utilisasi naik.

GERAKAN NYATA KAUM PEMUDA DALAM SEKTOR KEHUTANAN DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

Pangan lokal Indonesia sebenarnya sangat potensial untuk diekspor karena produksinya yang sangat tinggi dan dapat dihasilkan di bawah tegakan tanaman berkayu, kebun dan juga kawasan hutan. Negara kita mampu menghasilkan atau berproduksi baik horizontal maupun vertikal karena kayanya tingkat biodiversity dimana menempati peringkat nomor 3 di dunia.

Pangan lokal atau tanaman lokal (native species) juga biasanya tahan terhadap serangan hama dan penyakit, sedikit ketergantungannya terhadap penggunaan pestisida, dan pupuk kimia dan mempunyai nilai kesehatan lebih baik.  Selain itu pangan lokal dan sumber daya lokal juga banyak kandungan kalori dan nutrisi bagi kesehatan tubuh serta lebih sedikit kontaminasi dengan bahan-bahan  kimia.

Pangan lokal juga sedikit ketergantungannya terhadap tambahan gula sebagai akibat dari beberapa penyakit gula yang semakin banyak diderita masyarakat Indonesia pada umumnya.  Untuk dapat mengkonsumsi pangan lokal tidak terlalu sulit dan khawatir.  Karena rasa manis dan rasa khasnya yang alami tidak perlu membutuhkan tambahan dengan zat penambah rasa sekaligus tidak perlu zat pewarna dan pengawet karena mudah ketersediaannya serta mudah cara menyimpan di alam.

Selain pangan, jenis kayu-kayuan juga memiliki banyak sekali manfaat bagi masyarakat. Sebagaimana contoh selain sawit, tanaman kayu-kayuan seperti Jelutung, Jabon, Meranti, Waru, tanaman buah seperti Manggis, Nangka, Sukun, Salak tanaman pangan seperti Ubi, Talas, Ganyong, Keladi, Garut tanaman Perkebunan seperti Nanas, dan lainnya adalah jenis yang dapat juga menopang dan meningkatkan pendapatan masyarakat baik jangka pendek maupun panjang. Untuk jenis pangan lainnya sebagaimana disebutkan di atas masih ada contoh lain seperti Jamur dan berbagai macam ikan.  Jamur dapat dengan mudah dikembangkan dan respon pasar untuk Riau sangatlah bagus.  Potensi itu dapat bermanfaat apabila ada lumbung dan pembuat tepung dari potensi tersebut sehingga dapat disimpan dan di manfaatkan baik untuk keperluan sendiri atau untuk kepentingan  pasar / permintaan pasar.

Untuk menentukan peruntukan lahan di Indonesia yang tepat, seharusnya  pengusahaannya mengacu pada kondisi daerah tersebut, apakah  di daerah  tersebut   yang  padat penduduk atau  di daerah  yang  jarang  penduduknya.  Di daerah  yang  padat penduduk maka usaha penggunaan multilevel baik horizontal maupun vertical harus ditingkatkan  tetapi  bagi  daerah  yang  jarang  penduduk  maka  system  extensive.  Bagi daerah yang rendah populasinya maka sumber pangan sebaiknya lebih  mengutamakan sumber alam tersedia seperti sago, ketela rambat, atau singkong yang memang mudah menanam dan memelihara dan mudah tersedia di alam dalam jumlah  yang cukup tanpa mengharuskan perawatan  yang intensif  .

Untuk  daerah  dengan jumlah penduduk yang padat  maka  pemanfaatan   pangan lokal mestinya dapat dikembangkan dengan dorongan serius pemerintah kabupaten setempat melalui penyuluhan dan pemanfaatan media cetak dan elektronik, sehingga masyarakat dapat ikut berpartisipasi terhadap pengembangan pangan lokal, mulai dari cara menanam, cara memelihara, cara memanen, cara mengolah dan cara pengawetan sampai  pemasaran.

Penanaman pangan lokal sebaiknya di barengi dengan penanaman pohon atau buah-buahan juga ternak sapi, kambing; tanaman obat-obatan maupun ikan.  Pemanfaatan sapi dan kambing selain dimanfaatkan untuk sumber pupuk, sumber tenaga kerja bagi  sapi, juga  dapat sebagai sumber daging dan susu.

Pola pengelolaan sumber daya hutan seperti di atas memungkinkan daerah dengan segala sumber daya yang masing-masing memilikinya dapat memanfaatkan dalam konteks optimalisasi dan intensifikasi. Ini semua harus disadari karena selama ini peranan strategis hutan dalam pembangunan nasional hampir sepenuhnya bertumpu pada hutan alam. Degradasi hutan yang terjadi akhir-akhir ini sangat menghambat supply bahan baku untuk industri ataupun untuk kebutuhan subsisten dari pemanfaatan nilai intangible dari hutan. Oleh sebab itulah perlu segera digalakkan program pengelolaan lahan melalui pola integrated farming yang dilaksanakan segenap stakeholders kehutanan dalam konteks otonomi daerah.

Diagram tentang pengelolaan sumber daya ala berkelanjutan bisa dilihat dalam diagram 1.

Diagram 1.

 

REKOMENDASI DAN PENUTUP 

Indonesia memiliki banyak stakeholders untuk mendorong pengelolaan sumber daya alam dan bisnis sektor kehutanan bisa berkesinambungan dan lestari. Model yang bisa dipakai dalam memastikan bahwa pengelolaan kekayaan negara harus mampu mensejahterakan masyarakat dan melindungi lingkungan dengan melihat diagram sebagai berikut ;

Dengan pola demikian harapannya sinergitas seluruh komponen stakeholders yang a bisa menjadi penyeimbang sehingga parameter yang digunakan menuju pengelolaan yang lebih lestari bisa diukur dan divaluasi dengan lebih baik lagi. Alhasil pengelolaan sumber daya alam yang lestari bukan jargon lagi tetapi menuju sesuatu yang nyata dan berbekas bagi anak dan cucu.

Semoga tulisan ini bisa memberikan inspirasi setidaknya untuk berbuat dan terus berkontribusi bagi bangsa dan negara ini, aamiin yaaa robbal alamiin.

 

 

Daftar Pustaka

  1. Sekilas Tentang Perjuangan Bangsa Indonesia Dalam Meraih Kemerdekaan

Reportase Satu.com, Agustus 2013

Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/62108-pemuda-kemerdekaan-dan-perubahan

  1. 6 Prinsip Revolusi Industry 4.0: Bagaimana kontribusinya untuk sustainable manufacturing?

Forbil Institute, 2018

  1. Angkatan Kerja Di Indonesia Capai 137,91 Juta Orang

Bisnisnews, 2020

  1. Peluang dan Tantangan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Cermati.com, 2017

  1. Gairah Bisnis Sektor Leisure Economy Indonesia

WICF, 2018