Dr. Ir. TJIPTA PURWITA, M.B.A.,IPU,ASEAN Eng.
Oleh: Dr. Ir. Anung Setyadi, M.M., IPU
(Pengasuh Majalah Rimba Indonesia)
Pendahuluan
Tjipta Purwita. Lahir di Bandung, 3 April 1960. Ayahnya mantan pendidik dan politisi bernama Hadisartama bin Muhammad Sidik (alm.), sedangkan ibunya juga pendidik bernama Hj. Karlinah binti Djajasukarta (almh.). Masa kecil Tjipta ditempa dengan keras karena hidup sebagai anak nomor 3 dari 8 bersaudara. Berkat didikan kedua orang-tuanya yang menekuni ilmu pedagogic, maka Tjipta bersama 7 saudara lainnya berhasil menjadi sarjana dari 3 perguruan tinggi negeri (PTN), yaitu 1 lulusan IPB, 1 lulusan UNS, dan 6 lulusan UGM.
Masa Kecil yang Bandel dan Nakal
Tjipta kecil menjadi anak yang “bandel” dan nakal. Dia lebih senang bermain daripada bersekolah. Pendidikan TK dilaluinya hanya beberapa hari saja, setelah itu mogok sekolah sama sekali. Pekerjaannya hanya main melulu. Masuk kelas I SD pun relatif sudah tua (umur 7 tahun lewat), namun dia masih bandel karena tidak mau naik ke kelas II. Atas inisiatifnya sendiri Tjipta meminta kepada gurunya untuk tetap tinggal di kelas I SD, karena memang nilai rapornya jelek, terutama pelajaran membaca.
Gambar 1. Kiri: Foto Ayah dan Ibu Tjipta (1955). Kanan: Tjipta Purwita (tanda-panah) berpose di tengah keluarga (1971).
Anehnya, ayah dan ibu Tjipta membiarkan anaknya “tinggal kelas”. Beliau berdua, tidak malu memiliki seorang anak yang “bodok”. Tetapi setiap hari dengan penuh kesabaran, ayahnya tekun mengajari Tjipta membaca. Akhirnya pada tahun berikutnya, dia bisa naik ke Kelas II SD. Mulailah timbul kesadaran di dalam dirinya, bahwa tinggal kelas ternyata “membuat sedikit rasa malu”, karena teman-teman yang dulu sama-sama di Kelas I kini sudah Kelas III, sementara dia sendiri masih di Kelas II. Pada saat upacara bendera, dia berada di kelompok yang lebih rendah daripada teman-temannya yang dahulu pernah sama-sama sekelas. Maka dia mulai menyadari kelemahannya sebagai seorang yang tinggal kelas dan mulai serius belajar membaca.
Alhamdulillah, kerja-kerasnya tidak sia-sia. Tjipta bertransformasi meninggalkan sifat bandelnya dan tidak lagi menghabiskan waktunya hanya untuk bermain. Akhirnya, pada saat naik ke Kelas III SD, dia menduduki rangking 1 (prestasi terbaik). Seterusnya Kelas IV, V, dan VI SD, hingga menempuh SMP dan SMA, dia selalu menjadi “bintang kelas”. Selain itu, sejak kelas II SD hingga menempuh pendidikan SMP dan SMA, Tjipta selalu menjadi Ketua Kelas, Ketua Regu Utama Pramuka, dan Ketua OSIS. Tjipta juga aktif sebagai Ketua PKK Remaja, Pecinta Alam, dan Ketua Tunas Patria (organisasi putera-puteri pejuang Tentara Pelajar Brigade XVII). Tjipta memiliki hobi mendaki gunung (mountaineering), aktif mengikuti pendidikan Pramuka Dirgantara, serta suka menulis dan melukis.
Gambar 2. Tjipta Purwita kecil (tanda-panah) berdiri di depan keluarga besar eyang Djajasukarta dan Siti Aminah (kakek dan nenek dari Ibu Tjipta) tahun 1966.
Lulus SMA Masuk ke IPB dan Diterima di Fakultas Kehutanan
Pada tahun 1975 (Kelas II SMP) dengan karangan berjudul “Dekadensi Moral”, Tjipta ditetapkan sebagai Juara I Lomba Mengarang Tingkat Kabupaten. Sejak saat itu Tjipta mulai percaya diri untuk mengikuti lomba mengarang di tingkat nasional. Pada tahun 1976 (Kelas III SMP) Tjipta mengikuti Lomba Mengarang dalam rangka Pekan Penghijauan Nasional (PPN) ke XVI. Dengan karangan berjudul “Mengapa Saya Mencintai Hutan”, Tjipta menjadi juara pertama tingkat SLTP se Indonesia. Kemudian ketika Kelas II IPA SMA Negeri II Purwokerto (1979), dengan karangan berjudul “Mengapa Saya Harus Memelihara Hutan” Tjipta kembali meraih juara pertama Lomba Karya Tulis tingkat SLTA se Indonesia dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tjipta mendapat penghargaan dari Menteri PPLH Prof. Emil Salim dan Menteri Muda Pemuda & Olahraga dr. Abdul Gafur di desa Ranupani, lereng G. Semeru.
Selanjutnya tahun 1980 Tjipta lulus SMA dan melanjutkan ke IPB melalui Proyek Perintis II. Alhamdulillah, dengan bekal prestasi akademik, keaktifan pada kegiatan ekstrakurikuler, serta prestasi lomba mengarang tingkat nasional, Tjipta berhasil diterima di IPB melalui jalur penelusuran bakat tanpa tes (Proyek Perintis II). Setelah melalui kuliah matrikulasi selama 1 semester di Kampus IPB Baranangsiang, akhirnya Tjipta diterima di Fakultas Kehutanan IPB jurusan Teknologi Hasil Hutan (THH) Kampus IPB Dramaga, Bogor.
Gambar 3. Tjipta Purwita bersama kedua orang tua pada acara Pemanenan Sarjana Baru Fakultas Kehutanan IPB Tahun 1984. Tjipta lulus Sarjana Kehutanan IPB pada tanggal 21 September 1984.
Memilih Bekerja di Tempat yang Sangat Menantang
Pendidikan di Jurusan Teknologi Hasil Hutan Fahutan IPB ditempuh selama 3 tahun 8 bulan. Pada tanggal 21 September 1984 Tjipta lulus S1 (Sarjana Kehutanan) dan menjadi lulusan tercepat untuk Angkatan 17. Setelah ± 1,5 tahun mengabdi di kampus (menjadi asisten Prof. Dr. Ir. Surjono Surjokusumo, M.SF), pada awal tahun 1986 Tjipta memilih bekerja di tempat yang sangat menantang, yaitu di Kanwil Kehutanan Provinsi Irian Jaya di Jayapura. Tjipta termasuk pionir. Tentu banyak suka dan duka yang dialami Tjipta sebagai PNS yang bekerja di ujung timur Nusantara itu.
Tjipta meniti karier di Jayapura dari tahun 1986 hingga tahun 1992, terakhir menduduki posisi sebagai Kepala Seksi Bimbingan Rencana Pengelolaan Hutan. Disamping menduduki posisi struktural, tahun 1998 Tjipta yang masih belia juga diberi amanah menjadi Pemimpin Proyek (Pimpro) Pembangunan Sarana Prasarana se Irian Jaya, antara-lain membangun gedung Kantor Wilayah Kehutanan Provinsi Irian Jaya, penambahan gedung Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Irian Jaya, pembangunan Kantor Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Jayawijaya di Wamena, CDK Sarmi, serta CDK Genyem, Kantor Sub Biphut Nabire, rumah Jabatan Kakanwil, Rumah Jabatan KBTU, dan rumah jabatan para Kepala Bidang Lingkup Kanwil Kehutanan Provinsi Irian Jaya. Selain itu, Tjipta juga mendapat tugas mengelola program Hutan Kemasyarakatan (Social Forestry) di Lembah Baliem, Jayawijaya, Irian Jaya.
Di samping tugas-tugas formal, Tjipta aktif menjadi Sekretaris Pimpinan Pramuka Saka Wanabhakti Provinsi Irian Jaya, Sekretaris PERSAKI Irian Jaya, Sekretaris Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Irian Jaya, Pembina pecinta alam Metroxylon, Dewan Kerja Daerah (DKD) Pramuka Irian Jaya, Pengurus Dewan Keluarga Masjid (DKM) Kotaraja, serta guru (Bahasa Inggris dan Fisika) di SMP Muhammadiyah Al Ihsan Kotaraja.
Menggeluti Hutan Kemasyarakatan (Social Forestry) di Lembah Baliem
Pengalaman menarik selama Tjipta bertugas di Irian Jaya, diantaranya adalah membina masyarakat pedalaman Lembah Baliem, Jayawijaya, Irian Jaya, melalui Program Hutan Kemasyarakatan (Social Forestry). Ceritanya, suatu ketika Menteri Kehutanan RI (Bapak Dr. Soedjarwo) berkunjung ke Wamena, Jayawijaya. Oleh masyarakat pedalaman Jayawijaya beliau diangkat sebagai tetua adat (Kepala Suku). Sebagai penghormatan atas ketulusan masyarakat Jayawijaya mengangkat beliau sebagai tetua adat tersebut, maka Dr. Soedjarwo memberi suatu “hadiah balasan” kepada masyarakat Jayawijaya berupa Program Hutan Kemasyarakatan (Social-forestry) di Lembah Baliem, Jayawijaya.
Gambar 4. Tjipta Purwita (bertopi) akrab berpose bersama masyarakat pedalaman Lembah Baliem, Jayawijaya, Irian Jaya (1987). Dia menyukai bekerja di pedalaman yang berat dan menantang.
Tjipta mengalami kesan yang sangat menarik dalam bergaul dengan masyarakat pedalaman Jayawijaya yang masih “polos dan lugu”. Banyak pengalaman yang merenyuhkan hati Tjipta, karena kesahajaan masyarakat pedalaman di satu sisi, tetapi di sisi lain muncul kekaguman betapa teguhnya mereka mempertahankan nilai-nilai budaya tradisionalnya. Dia betul-betul menikmati tugas ini, sekalipun risiko dan kendala yang dihadapi tidaklah kecil. Dia berkesempatan untuk keluar-masuk kampung “jalan kaki” di daerah pegunungan tengah Irian Jaya yang betul-betul masih terisolasi dan sangat dingin cuacanya.
Ramai orang membicarakan konsep pembangunan apa yang cocok untuk diterapkan di Irian Jaya, khususnya di daerah pedalaman yang terpencil. Apakah konsep pembangunan yang dipusatkan pada aspek pertumbuhan (growth centered development strategy) atau pada aspek sumberdaya manusianya (people centered development strategy). Terlepas dari polemik mengenai kedua konsep pembangunan tersebut, Tjipta menilai bahwa program Hutan Kemasyarakatan yang dikembangkan bagi masyarakat Lembah Baliem Jayawijaya, merupakan contoh yang baik untuk penerapan konsep pembangunan yang berpusat pada aspek sumberdaya manusia (people centered development strategy). Sebab, yang menjadi pijakan utama adalah unsur sumberdaya manusia, khususnya masyarakat sekitar hutan Lembah Baliem, yang ingin dibangkitkan kemandiriannya.
Melalui program Hutan Kemasyarakatan (HKM), masyarakat Lembah Baliem mampu mempertahankan mekanisme hubungan yang baik antara masyarakat dengan hutan, dalam bentuk interaksi yang positif. Tekanan terhadap hutan dalam bentuk penebangan liar semakin menurun, bukan karena ketatnya pengamanan hutan oleh pasukan Jagawana, melainkan makin meningkatnya kesadaran berlingkungan dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat sekitar hutan diajak untuk dapat menciptakan kegiatan produksi yang dapat memberikan nilai tambah, sehingga pada akhirnya mereka bisa memiliki penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Selain itu, masyarakat Lembah Baliem yang pada umumnya bertani, diajak untuk mengembangkan pola bertani dan pola pemanfaatan lahan yang lebih memperhatikan kaidah-kaidah konservasi lahan, sehingga pemanfaatan sumberdaya lahan tidak menjadi boros, dan produktivitas lahan makin meningkat, karena lahan yang digarap mampu memasok kebutuhan hara tanaman.
Gambar 5. Budaya “bakar batu” masih kuat tertanam dalam masyarakat Lembah Baliem, Jayawijaya, Irian Jaya. Cara memasak tradisional seperti ini memang khas, namun sangat memboroskan konsumsi pemakaian kayu.
Membina Generasi Muda melalui Giriwana-Rally
Baru setahun di Irian Jaya, pada tahun 1987 Tjipta menggagas Kemah Bakti dan Lomba Lintas Alam (LLA) Giriwana Rally yang melibatkan massa pemuda dalam jumlah besar. Dia melihat, potensi alam Irian Jaya yang masih asli dan bergunung-gunung, sangat cocok untuk menciptakan aktivitas giriwana-rally atau olahraga melintas hutan dan gunung. Bukan itu saja, obsesi Tjipta yang lebih penting adalah mendidik generasi muda untuk betul-betul mencintai alam dan lingkungan, diantaranya dapat memiliki kebanggaan membangun “monumen penghijauan” yang berhasil di Bumi Perkemahan Teluk Yautefa, Skyline, Jayapura, melalui aktivitas penanaman dan pemeliharaan tanaman sepanjang tahun.
Untuk mewujudkan gagasan ini, ketika Tjipta bertugas membahas DIP di Biro Perencanaan Jakarta, Tjipta membuat proposal “giriwana-rally” dan menghadap langsung kepada Ketua Saka Wanabhakti Nasional (Ir. Soedjono Soeryo, yang kebetulan juga Sekjen Departemen Kehutanan) untuk memohon piala bergilir Ketua Saka Wanabhakti. Alhamdulillah beliau mendukung, dan akhirnya beliau memberikan Piala Besar yang terbuat dari ukiran kayu eboni untuk diperebutkan secara bergilir bagi Pramuka/Pecinta Alam usia dewasa. Selanjutnya ketika kembali ke Jayapura, Tjipta juga berhasil meminta Piala Bergilir Gubernur KDH Tingkat I Irian Jaya (Barnabas Suebu) bagi Pramuka/Pecinta Alam usia remaja, sehingga lengkaplah 2 buah piala bergilir yang tiap tahun selalu diperebutkan. Kegiatan giriwana-rally akhirnya menjadi aktivitas rutin dan program penghijauan pun menjadi aktivitas tahunan, di luar program PPN.
Meskipun hanya memberi peranan yang kecil, namun Tjipta memandang bahwa wilayah Irian Jaya memerlukan aktivitas giriwana-rally semacam ini untuk menciptakan “spirit kebersamaan” masyarakat untuk menunjang keberhasilan pembangunan. Pada Giriwana Rally dalam rangka Hari Bakti Departemen Kehutanan IV Tahun 1987 (tanggal 14–15 Maret 1987) misalnya, disamping melakukan penanaman penghijauan Tjipta bersama kawan-kawan menampilkan pula demonstrasi teknologi tepat guna, antara-lain berupa: model penyulingan minyak kayu putih dan kulit masohi secara tradisional, model tungku sederhana hemat bahan bakar, pembuatan mebel kayu lapis, mebel rotan, dan vas bunga dari bambu, contoh kue bolu dari bahan sagu, gas bio sebagai sumber energi alternatif non-kayu, serta ragaan teknik pengawetan kayu sederhana. Model tungku hemat bahan bakar kayu, diperoleh Tjipta dari hasil konsultasi langsung dengan Prof. Dr. Herman Johannes (mantan Rektor UGM) yang ketika itu sangat tekun mengembangkan tungku hemat bahan bakar.
Puncak acara yang sangat dinanti-nantikan peserta adalah lomba lintas alam (Giriwana-Rally) yang berlangsung sehari penuh dan diikuti lebih dari 1.300 peserta. Rute perjalanannya dibuat sedemikian rupa, sehingga peserta dapat melintas gunung atau bukit (giri) yang cukup berat, dan hutan (wana) yang masih lebat. Di samping itu, peserta juga menembus semak belukar, menyusur pantai (hutan bakau), menyeberangi sungai, dan menerobos padang ilalang. Last but not least peserta diajak melakukan penanaman pohon di Bumi Perkemahan Teluk Yautefa, Skyline, Jayapura sebagai kegiatan yang terpenting.
Hijrah ke BUMN dan Menjadi Anggota Direksi
Pada tahun 1991 sampai 1993 Tjipta memperoleh beasiswa dari Kementerian Kehutanan untuk mengambil pendidikan MBA di Prasetiya Mulya Business School Jakarta. Setelah lulus MBA pada tahun 1993, Tjipta dimutasi dari Kanwil Kehutanan Provinsi Irian Jaya ke BUMN, yaitu PT Inhutani II. Pada tahun 1996 awal, Tjipta dipromosikan dari Staf Khusus II menjadi Kepala Unit Rehabilitasi Hutan PT Inhutani II Sulawesi Tengah. Pertengahan 1997 Tjipta dipromosikan kembali sebagai Kepala Unit Usaha PT Inhutani II Kalimantan Timur.
Gambar 6. Jajaran Direksi Perum Perhutani (dari kiri ke kanan): Tjipta Purwita (Dirkeu), Upik Rosalina Wasrin (Dirprod), Transtoto Handadhari (Dirut), Sondang Gultom (Dirum), dan Achmad Fachrodji (Dirsar). Foto diambil tahun 2005.
Usai menunaikan ibadah haji, pada tahun 2001 Tjipta dipromosikan sebagai Direktur Pengembangan (Dirbang) PT Inhutani II. Tercatat Tjipta menjadi anggota Direksi termuda (usia 41 tahun), karena dari posisi Kepala Unit PT Inhutani II Kaltim dia langsung “loncat” menjadi Direktur, tanpa melalui jenjang Kepala Biro/Kepala SPI sebagaimana lazimnya. Euforia reformasi memang mengutamakan merit-system sehingga melapangkan bagi siapapun yang berprestasi untuk “loncat jabatan”. Selanjutnya Tjipta menjadi Direktur Keuangan Perum Perhutani (2005-2008), Direktur Tanaman PT MHP (2009-2012), dan akhirnya menjadi Dirut PT Inhutani II (2012-2017).
Pioner Pembalakan Berdampak Rendah (Reduced Impact Logging)
Ketika menjabat sebagai Kepala Unit PT Inhutani II Kalimantan Timur (1997-2001), dengan cepat Tjipta menyambut baik riset Pembalakan Berdampak Rendah (Reduced Impact Logging) yang merupakan kerjasama antara CIFOR (Center for International Forestry Research), ITTO (International Tropical Timber Organization), Kementerian Kehutanan RI, dan PT Inhutani II. PT Inhutani II Unit Kaltim sebagai pengelola konsesi hutan alam tropika di Malinau dan satu-satunya operator BUMN yang masih menerapkan pembalakan kayu secara swakelola, ingin meningkatkan produktivitas pemanenan kayunya agar tercapai kelestarian ekonomi, sosial, dan lingkungan secara seimbang dan lestari melalui sistem pembalakan yang berdampak rendah. Berbeda dengan penelitian umum yang biasanya berbasis pada petak percontohan (sample plot skala kecil), penelitian RIL ini dilaksanakan dalam skala komersial di konsesi PT Inhutani II Malinau. Disamping itu, konsep RIL masih sangat asing dan belum dikenal banyak orang. Namun PT Inhutani II Unit Kaltim bertekad menjadi pioner.
Gambar 7. Perencanaan yang baik dalam membuat jalan sarad sangat penting untuk menunjang aktivitas RIL. Buldozer dapat bekerja menurut jalan sarad yang direncanakan dan tidak “mondar-mandir” mencari kayu yang berpotensi merusak tanah karena terjadinya kompaksi/pemadatan tanah dan pemborosan bahan bakar.
Pada awalnya Tjipta banyak “ditentang”, karena mengkhawatirkan justru RIL akan menimbulkan biaya tinggi pada tahap perencanaan dan terjadi penggunaan alat berat yang lebih boros. Namun Tjipta beserta Manager Unit Malinau (Ir. Ariyadi Kuncoro) terus meyakinkan para pihak agar mampu menerima inovasi baru melalui berbagai tahap pelatihan, seperti “Roadeng” (Road-engineering), Directional Felling, hingga ke pembinaan sosial dan perhitungan ekonomi (cost of production) yang cermat. Akhirnya riset ini sangat sukses dan hasilnya oleh CIFOR dituangkan dalam bentuk “Buku Pedoman RIL Indonesia”, yang kontennya sangat selaras dengan ITTO Guidelines untuk pengelolaan hutan alam tropika lestari dan FAO Model Code untuk praktek-praktek pemanenan hutan yang ramah lingkungan.
Pada saat ini kegiatan RIL merupakan salah satu aksi mitigasi yang sangat penting dalam pengendalian emisi gas rumah kaca di hutan alam produksi dan alhamdulillah PT Inhutani II Unit Kaltim telah mempeloporinya lebih dari 25 tahun yang lalu.
Senang Menanam Pohon dan Tanaman
Tjipta memiliki hobi mengoleksi dan menanam pohon. Setiap kali ke lapangan, dia selalu membawa bibit-bibit pohon untuk dibesarkan di persemaian kecil miliknya. Selanjutnya bibit-bibit pohon tersebut ditanam di lapangan atau disumbangkan kepada siapa pun yang membutuhkan. Dia terus memupuk hobinya menanam pohon hingga saat ini.
Gambar 8. Hobi menanam pohon dan memelihara tanaman tumbuh sejak kecil. Kiri: menanam pohon bersama pensiunan kehutanan di Rumpin Bogor. Tengah: Selaku Dirut PT Inhutani II meninjau tanaman Eucalyptus sp di Semaras. Kanan: Menanam pohon di Cikole, wilayah kerja Perum Perhutani.
Selain mempelopori penghijauan di Bumi Perkemahan Skyline Jayapura dan Bukit Sporogoni Kotaraja Irian Jaya, Tjipta juga membina “pasukan pemadam kebakaran” kecil beranggotakan para Pramuka dan pecinta alam secara voluntir, yang sewaktu-waktu bisa digerakkan untuk terjun memadamkan api dengan alat sekadarnya (gepyok dan tongkat kayu). Bersama para Pramuka dan pecinta alam, Tjipta juga membangun persemaian serta mengumpulkan anggrek alam Irian Jaya yang sangat eksotis.
Ketika menjadi Kepala Unit PT Inhutani II Sulawesi Tengah (1996-1997), Tjipta melakukan pembangunan fasilitas pembibitan dan penanaman kayu ebony (Diospyros celebica). Seperti diketahui, kayu ebony merupakan kayu yang mewah (fancy wood), langka, dan sangat mahal. Karena kelangkaannya itulah, maka pemerintah melarang sama sekali penebangan maupun pemanfaatan kayu ebony. Namun kenyataannya, kayu-kayu tersebut banyak yang masih tersimpan dan disembunyikan oleh masyarakat sebagai kayu tebangan lama. Kayu-kayu ini tidak menurun kualitasnya sekalipun disimpan di dalam lumpur atau dipendam di rumah-rumah penduduk. Sayangnya karena tidak ada mekanisme pasar legal yang menjembatani rantai pasok “supply-demand”, maka muncullah pasar gelap (black-market). Karena itu kayu ebony semakin diburu orang dan kondisi tegakannya hampir punah. Disinilah Tjipta dan timnya harus membangun persemaian dan fasilitas pembibitan untuk mencegah kepunahan kayu ebony. Namun belum juga genap 2 tahun menangani kayu ebony, Tjipta dimutasi menjadi Kepala Unit PT Inhutani II Kalimantan Timur.
Gambar 9. Kiri: Nama “Tjipta Purwita” diabadikan menjadi nama KBSUK (Kebun Benih Semai Uji Keturunan) F1 di Semaras. Tengah: Penanaman meranti program bina pilih di hutan alam. Kanan: penanaman “enrichment-planting” ketika berkunjung ke Sabah. (Foto: Koleksi Pribadi)
Ketika menjadi Direktur Pengembangan PT Inhutani II (2001-2005), Tjipta senang bekerja di lapangan dan melakukan penanaman pohon pada proyek penananam Meranti sistem jalur di Pulau Laut (Kalsel) dan di Sungai Segedong (Kalbar), serta rehabilitasi areal eks tambang di Kalsel maupun Kaltim. Ketika menjabat Direktur Keuangan Perum Perhutani (2005-2009), Tjipta “ditunjuk” oleh Menteri Kehutanan MS Kaban menjadi Ketua Otorita Taman Hutan Hambalang dan Perum Perhutani menerima penugasan Wapres Yusuf Kalla untuk melakukan rehabilitasi hutan lindung di Pulau Jawa seluas ± 100.000 ha pada tahun 2007. Tjipta juga mempelopori perubahan kebijakan sistem akuntansi Perhutani terkait status aset tegakan (pohon berdiri), yaitu merubah dari pencatatan “off balance-sheet” menjadi “on balance-sheet” sehingga menanam pohon adalah sebuah investasi jangka panjang.
Demikian pula ketika menjadi Direktur Tanaman PT Musi Hutan Persada, Tjipta bertanggungjawab melaksanakan penanaman pohon Acacia mangiun dan Eucalyptus sp pada lahan seluas 31.000 ha per tahun. Alhamdulillah, semua tugas terkait penanaman pohon dapat dilaksanakan dengan baik dan penuh tanggungjawab. Pohon/tanaman adalah sahabat manusia dan menjadi paru-paru dunia yang mampu mengimbangi meningkatnya emisi gas rumah kaca. Karena itu menanam dan memelihara pohon adalah sebuah keniscayaan, terlebih bagi seorang rimbawan, papar Tjipta Purwita.
Memupuk Hobi Mendaki Gunung (“Mountaineering”)
Sebagai seorang rimbawan yang mencintai alam, Tjipta memiliki hobi mendaki gunung (mountaineering). Ketika duduk di bangku SMA Kelas II (1979), Tjipta ditunjuk sebagai Ketua Panitia Pendakian Puncak Gunung Slamet dalam rangka Hari Ulang Tahun SMA Negeri II Purwokerto. Pesertanya membeludag hingga lebih 200 orang, sehingga sangat berisiko tinggi.
Ketika sudah summit dan mulai turun dari puncak, Tjipta berada di posisi paling belakang, jalan pelan-pelan bersama 13 orang yang sakit sekaligus bertindak sebagai “penyapu ranjau”. Begitu sampai kembali di SMA, dia diprotes oleh beberapa orang-tua murid yang marah, karena anaknya belum juga pulang. Tanpa pikir panjang, dia langsung naik lagi menuju ke G. Slamet mengecek peserta yang belum pulang. Sampai di kaki G. Slamet, dia tidak menemui satu pun peserta pendakian. Karena itu, menjelang malam Tjipta turun dan langsung “mengecek” lagi ke SMA. Alhamdulillah, kali ini 100 % peserta telah kembali ke rumah. Tjipta tak henti-hentinya memanjatkan sujud syukur, sembari menahan emosi karena sebagian peserta tidak disiplin mematuhi jalur pulang yang telah disepakati. Pengalaman berharga dipetik oleh Tjipta, bahwa pendakian sekaliber G. Slamet (gunung terbesar di Jawa dan tertinggi kedua setelah G. Semeru) tidak boleh dilakukan secara massal (> 200 orang), karena kontrolnya sulit dan sangat berisiko terjadi kecelakaan.
Kisah lain terjadi di Irian Jaya pada tahun 1997 ketika Tjipta membawa anak-anak Pramuka mendaki Gunung Cyclops di Sentani. Gunung ini tidak terlalu tinggi, tetapi cukup menantang. Nah pada H-1 pendakian, Tjipta masih berada di perjalanan dari Demta menuju Jayapura mengendarai sepeda motor Honda CB 100. Tjipta baru saja melakukan tugas pengecekan HPH PT You Lim Sari. Dia terlalu nekad, karena berkendara sepeda motor di jalan hutan pada sore dan malam hari tentu sangat berisiko. Benar saja, ketika menjelang maghrib, ban motor slip karena jalanan licin dan berpasir. Tjipta berdua jatuh di jalan hutan dan terseret hingga motor menabrak lereng berbatu-batu tajam. Motor hancur, ban bagian depan pecah, celana dan jaket jeans robek, dan Tjipta berdua luka berlumuran darah. Berdua hanya bisa menahan sakit dan tiduran di pinggir jalan, karena tak ada seorang pun yang lewat.
Alhamdulillah, pada malam hari ada truk pengangkut kayu rakyat yang lewat. Tjipta meminta tolong kepada sopir truk. Mereka berdua (Tjipta dan Batubara, teman sekantornya) ditolong dan diangkat ke atas tumpukan kayu bersama motornya yang rusak. Malam itu pas bulan purnama nyaris sempurna, sehingga langit sangat cerah. Di sekitar pinggir Danau Sentani pemandangan malam itu sangat indah. Benar-benar indah. Namun sambil menahan rasa dingin dan sakit di sekujur tubuhnya, Tjipta dan Batubara tak bisa menikmati keindahan bulan purnama seutuhnya. Dia hanya bisa berdoa semoga besok pagi sudah tiba di Jayapura dan bisa membawa para Pramuka mendaki ke gunung Cyclops, karena sudah menjanjikannya.
Menjelang Subuh, sampailah mereka di Jayapura. Tjipta kembali ke rumah, istirahat sebentar, “mandi” sembari membersihkan luka, lalu kumpul bersama anak-anak Pramuka di markas. Tak lama kemudian Tjipta memimpin rombongan menuju ke gunung Cyclops. Dengan jalan tertatih-tatih, tidak menghiraukan lukanya, Tjipta terus mendaki sampai mencapai puncak. Sungguh merupakan sebuah keajaiban, bahwa mungkin karena semangat dan rasa tanggungjawab yang Tjipta emban itulah yang membuat dia memiliki energi lebih untuk mencapai puncak Cyclops.
Gambar 10. “Mountaineering” adalah sebuah kegiatan rekreasi yang menyenangkan dan aktivitas “out-door” yang lebih mendekatkan diri kita ke alam. Hobi ini bisa dikembangkan untuk kebersamaan keluarga. Kiri: pendakian G. Slamet (2016). Tengah: pendakian Gunung Prau (2017). Kanan: pendakian Gunung Rinjani (2023).
Hobi mendaki gunung dan jalan-jalan di hutan terus dipelihara hingga kini. Sekalipun Tjipta sebagai anggota Direksi, dia suka turun ke lapangan. Hiking menikmati air pegunungan yang sejuk, kicau burung dan hembusan angin yang semilir, sinar mentari yang cerah, dan berbagai fenomena alam lainnya, menjadikan kita semakin mengagumi ciptaan Sang Khalik dan akhirnya merasakan betapa agungnya Sang Pencipta alam semesta ini.
Alhamdulillah, di usianya yang semakin senja Tjipta sangat bersyukur karena mendapat kesempatan untuk mendaki ke G. Slamet bersama 2 anak (2016), kemudian mendaki G. Prau bersama keluarga (2017), mendaki G. Semeru bersama 2 anak (2019), mendaki G. Ijen bersama istri (2020), dan mendaki G. Rinjani bersama istri (2023).
Menulis, Melukis, dan Musikalisasi Puisi
Tjipta memiliki hobi menulis, melukis sketsa, dan membina grup musikalisasi puisi Van der Wijck sebagai pengembangan otak kanan, agar dalam hidup ada keseimbangan antara “otak kanan” dan “otak kiri”. Hobi melukis sketsa berawal dari keinginan memiliki tustel, tetapi tidak pernah kesampaian. Karena itu untuk mengabadikan momen menarik, dibuatlah lukisan dalam bentuk sketsa. Melukis secara cepat. Tulisan, puisi, dan lukisan sketsa beberapa diantaranya telah menjadi buku, yaitu :
- “Tatkala Hutan Tak Lagi Hijau”. Penerbit Wana Aksara Jakarta. Tahun 2007.
- “Kebangkitan BUMN Sektor Perhubungan”. Penerbit Gramedia Jakarta, 2018.
- “Kebangkitan BUMN Sektor Infrastruktur”. Penerbit Gramedia Jakarta, 2019
- “Buku Biru Catatan Hidup Seorang Anak Manusia” (Kumpulan Puisi Tahun 1977 hingga Tahun 2002). Koleksi pribadi. Tidak diterbitkan.
- “Sketsa-sketsa Perjalanan” (lukisan-lukisan sketsa yang terhimpun dalam beberapa buku lukisan). Koleksi Pribadi.
Gambar 11. Berkesenian (melukis sketsa, menulis puisi, dan musikalisasi puisi) merupakan kegiatan yang akrab dilakukan Tjipta. Kiri: Sketsa Masjid Raya Al Mashun Medan yang dilukisnya usai sholat Jum’at (2022). Kanan: Komunitas musikalisasi puisi Van der Wijck binaan Tjipta dan istrinya yang sering pentas di ajang nasional.
Bersama istrinya, Tjipta membina komunitas musikalisasi puisi Van der Wijck, yang terdiri atas para mahasiswa dan alumni Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka Jakarta) yang tidak lain adalah mahasiswa atau mantan mahasiswa bimbingan istrinya (Sulistyawati T. Purwita). Beberapa puisi karya Tjipta Purwita telah digubah menjadi lagu-lagu (musikalisasi puisi) yang khas, diantaranya adalah:
- “Suatu Senja di Teluk Yautefa” (puisi ditulis di Jayapura, Irian Jaya, 1987).
- “Tegar” (puisi ditulis di Jayapura, Irian Jaya, 1990)
- “Suara Rimba dari Muara Miau” (puisi ditulis di Muara Wahau, Kalimantan Timur, 1998).
- “Sebait Puisi dari Desa Long Pejeng” (puisi ditulis di Muara Ancalong, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, 1999).
Karya-karya tersebut telah digarap di studio dan direkam secara apik, sehingga publik dapat melakukan browsing di Youtube maupun sarana medsos yang lain.
Mengikuti Seleksi Anggota Lembaga Tinggi BPK RI
Tjipta memutuskan untuk mengikuti proses seleksi Anggota BPK RI karena terdorong keinginan mengabdikan sisa umurnya untuk hal-hal yang lebih bermakna. Setelah mengikuti prosesnya secara seksama dari tahapan seleksi yang panjang dan memakan waktu lama, dia berkesimpulan bahwa pemilihan Anggota BPK RI melalui “proses politik” (paparan dan tanya-jawab dengan DPD RI serta ‘fit and proper test’ oleh DPR RI), ternyata tidaklah mudah. Faktanya, Tjipta bukan siapa-siapa dan dia tak berafiliasi dengan partai politik manapun. Sulit bagi dia untuk bisa memenangkan kompetisi. Pernah, seseorang anggota parlemen berkomunikasi dengannya dan menanyakan (entah serius atau bercanda), “Kamu punya modal berapa?”. Tentu saja Tjipta hanya tersipu-sipu malu, gagap, dan bingung harus menjawabnya.
Gambar 12. Mengikuti seleksi menjadi Anggota BPK RI merupakan pengalaman yang mengesankan. Kiri: Pengumuman Koran Kompas terkait calon-calon terseleksi yang lolos dan diumumkan ke publik untuk memperoleh feedback dari masyarakat (2022). Kanan: Tjipta yang ditemani hanya oleh istri dan seorang anak, menunggu giliran mengikuti fit and proper test oleh DPR RI (2023).
Di forum “fit and proper test”, makalahnya dipuji karena dianggap berbobot dan diskusinya bersama anggota parlemen berlangsung interaktif (sangat bagus), tetapi sulit baginya menembus untuk bisa lolos dari seleksi. Bukan hanya dia. Beberapa mantan Auditor Utama dan Eselon I BPK RI pun, sulit untuk tembus menjadi Anggota BPK RI yang posisinya memang sangat terhormat. Padahal beliau sudah berkali-kali ikut seleksi. Entah apa kriteria yang digunakan untuk menetapkan siapa yang akhirnya terpilih oleh parlemen dan dikukuhkan oleh Presiden selaku Kepala Negara. Wallohu’alam bissowab. Yang penting baginya Tjipta sudah “berani” berlaga di gedung tempat wakil rakyat berhimpun dan telah siap mental untuk kalah ataupun menang (terpilih). Jiwanya merdeka dan “nothing to lose”, untuk menerima keputusan final apapun yang akan diambil oleh lembaga DPR yang terhormat itu.
Penutup
Masih banyak perjalanan hidup Tjipta Purwita yang bisa ditulis sebagai biografi. Tentu penuh suka dan duka. Penuh warna-warni. Namun yang jelas, Tjipta adalah seorang rimbawan yang tak bisa diam. Seorang rimbawan yang senang back to nature. Pengalamannya menunjukkan, bahwa rimbawan masih sangat dibutuhkan untuk kembali berinovasi membangun hutan. Di saat tekanan deforestasi begitu besar, maka kehadiran rimbawan semakin dibutuhkan untuk mencegah dan mengendalikannya. Rimbawan harus bangkit dan berani bertualang agar tidak menjadi “rimbawan salon” yang hidup di menara gading. Rimbawan perlu semakin inklusif dan mau menyatu dengan komunitas yang begitu plural. Namun tidak boleh hanyut dalam derasnya arus. Rimbawan harus tetap istiqomah. Setia kawan, memupuk jiwa korsa, serta menjauhkan diri dari sikap “hanya mementingkan diri sendiri”.
Tjipta Purwita adalah “Rimbawan Yang Avonturir”, pekerja keras, cerdas, cermat, disiplin, teliti, berdikasi dan berintegritas, pembelajar, kreatif, inovatif, pantang menyerah, mengutamakan kebersamaan dan bersemangat, layak menjadi contoh generasi penerus pada umumnya dan rimbawan muda pada khususnya. Terima kasih.
Gambar 13. Bersama Menhut MARZUKI USMAN di Borobudur (kiri) dan Menerima Penghargaan Kelola Sosial dari Menhut ZULKIFLI HASAN (kanan)
Lampiran 3. TOREHAN PRESTASI