MELAWAN LUPA : MENGENANG PENDIDIKAN PENGINDERAAN JARAK JAUH RIMBAWAN DI NEGERI BELANDA

Oleh : Slamet Soedjono

PENGANTAR

Atas permintaan berapa teman alumni (lulusan) Pendidikan Penginderaan Jarak Jauh di ITC Negeri Belanda  penulis diminta/diharapkan bisa menuliskan  dan menyajikannya di  Majalah Rimba Indonesia sebagai  kenangan dan pengungkapan sejarah usaha pembangunan Kehutanan Indonesia masa lalu.

Mengapa penulis yang diminta untuk membuat  tulisan tersebut karena  dianggap cukup mengetahuinya  meski secara garis besar karena pernah terlibat dalam pengelolaan sebagian kegiataan pendidikan ITC dimaksud ketika peserta pendidikan ITC diwajibkan Praktek Kerja dan Penelitian Lapangan di hutan tropis Indonesia  di Jawa an di Luar Jawa krtika penulis menjabat sebagai Kepala  Pusat Pendidikan dan Latihan Perum Perhutani di Cepu tahun 1973-1978.

Sebenarnya agak enggan juga untuk menulisnya karena tidak memiliki dokumen lengkap mengenai hal ini disebabkan Kantor Pusdiknya sudah pindah ke Madiun dan karena sudah terlalu lama  (45 tahun yang lalu), maka banyak dokumen/ arsip yang tidak bisa ditemukan, namun ibarat pepatah tidak ada tali akar pun bisa dipakai sebagai pengikat maka penulis mencoba menulisnya yang lebih banyak didasarkan pada ingatan  kejadian, pembicaraan  resmi, catatan, dan beberapa foto kenangan.

Dalam perjalanan waktu/perkebangannya rimbawan alumni Pendidikan Penginderaan Jarak Jauh ITC cukup  banyak yang dapat mencapai jenjang karir PNS yang tinggi bahkan sangat tinggi antara lain 2 orang sempat menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan (Ir. Titus Sariyanto, MSc dan Ir. Ii. Roedjai Jakaria, MSc), 2 orang Direktur Jenderal dan Inspektur Jenderal ( Dr. Ir. Sunaryo, MSc dan Ir. Surachmanto, MSc), 2 orang Guru Besar (Prof. Dr. Ir. Mulyadi Atmomarto, MSc. dan Prof. Dr. Ir. Hasanu Simon, MSc), 2 orang Widyaiswara Utama (Dr. Piran Wiroatmodjo, MSc dan Dr. Burhanuddin Sarbini, MSc). Yang masuknya ke ITC berbekal Sarjana (S1) banyak yang mencapai jabatan Eselon II bahkan paling menonjol karirnya ada yang sempat menjadi Menteri Kehutanan semasa akhir  Pemerintahan Orde Baru yakni alm. Ir. Sumahadi, MBA.

DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN PENGINDERAAN JARAK JAUH

DASAR PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

Pada awal Pemerintahan Orde Baru, Pemerintah Indonesia yang baru saja  berhasil mengatasi kemelut perpolitikan nasional dengan  adanya pemberontakan G.30.S/PKI dan ingin secepat mungkin mengatasi keterpurukan sosial ekonomi secara nasional akibat pergolakan politik tersebut , segera mengambil langkah-langkah kebijakan dengan   melakukan pembuatan dan penerbitan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA 1967) dan Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN 1968) sebagai landasan hukum  untuk menggali dan memanfaatkan kekayaan Sumber Daya Alam Indonesia  bagi perbaikan ekonomi dan sosial bangsa serta rakyat Indonesia, termasuk di dalamnya kekayaan sumber daya alam hutan.

Kebijakan ini mendorong cepat masuknya modal asing dan mengalirnya modal dalam negeri untuk melakukan operasi pemanfaatan sumber daya hutan. Kegiatan pertama yang penting dan perlu segera dikerjakan adalah Inventarisasi Hutan dan Tegakannya guna menyusun rencana dan program-program operasinal pemanfaatan hutan. Namun  Indonesia yang menjadi Negara merdeka baru selama lebih kurang 20 tahun itupun dalam kondisi perpolitikan yang tidak stabil belum mempunyai tenaga, peralatan dan tehnologi yang memadai untuk  melakukan inventarisasi hutan sehingga apa yang dimilki sangatlah terbatas adanya hanya memiliki peta-peta penyebaran hutan tinggalan Perang Dunia Kedua tanpa bisa diketahui secara seksama apa dan berapa potensinya. Kalaupun telah ada usaha inventarisasi hutan dengan survey lapangan atau penggunaan foto udara jumlahnya masih sangat sedikit/kecil dibandingkan dengan luas hutan Indonesia yang ditaksir seluas 120 juta ha. Oleh sebab itu upaya Pengusahatan Hutan terpaksa dimulai dengan penguasaan data yang seadanya sedangkan tuntutan untuk mempercepat perluasan pengusahaan hutan terus meningkat. Investor terpaksa diminta untuk membantu upaya inventarisasi hutan dengan melakukan survei-survei lapangan.

Sementara itu Negeri Belanda menaruh minat untuk ikut membantu usaha pembangunan  bidang Kehutanan  di Indonesia dengan menawarkan kerjasama bilateral kepada Pemerintah RI dalam bentuk bantuan pendidikan penginderaan jarak jauh bagi para rimbawan pegawai kehutanan Indonesia bagi kepentingan survei  inventarisasi hutan  dan pengusahaan hutan yang sedang berkembang di mana Pemerintah Belanda memiliki sarana dan prasarana pendidikan tersebut yang sudah terkenal  di dunia yaitu International Trainning Centre for Aerial Survey and Earth Science (ITC) yang kemudian berubah menjadi Institute for Aerial Survey and Earth Sciencedi Enchede Netherlands. Tentu saja tawaran ini disambut dengan gembira dan diterima baik untuk direalisasikan secepatnya.

Perjanjian bilateral ditandatangani oleh Pemerintah Belanda dan Pemerintah  Indonesia di mana Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Pertanian  (waktu itu instansi kehutanan tertinggi masih tingkat Direktorat Jenderal di bawah naungan Departemen Pertanian) sedangkan kerjasama teknis operasionalnya ditandatangani oleh Pimpinan ITC dan Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional) sebagai Lembaga yang memiliki Otoritas Tertinggi di Indonesia untuk segala bentuk kegiatan Survei Lapangan secara Nasional.

Yang berjasa melicinkan jalannya kerjasama ini selain para pejabat Bakosurtanal yang telah lama menjalin hubungan dengan lembaga internasional tersebut  dari pihak Kehutanan adalah figure Prof. Ir. Soekiman Atmosoedaryo  alumni  ITC  tahun 1955, mantan Direktur  Direktorat Inventarisasi dan Perencanaan Kehutanan (DITINPEK) Direktorat Jenderal Kehutanan dan Direktur Utama Perum Perhutani.

TUJUAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Sebagaimana telah diutarakan secara sepintas di muka bahwa dengan meningkatnya skala pembangunan kehutanan secara besar-besaran untuk memanfaatkan potensi hutan yang begitu luas dalam rangka pembangunan ekonomi nasional  diperlukan adanya rencana-rencana dan program kerja yang baik yang didukung oleh ketersediaan data dan informasi  yang akurat dan memadai. Untuk mendapatkan data dan informasi tersebut diperlukan adanya ketepatan metode survey dan teknik inventarisasinya untuk mendapatkan bermacam data yang diperlukan dari areal hutan yang disurvei.

Untuk maksud tersebut diperlukan tenaga-tenaga ahli survey dan inventarisasi kehutanan yang terdidik dan terlatih baik sebagai pengarah, perencanaan kerja, pelaksanaan lapangan  dan pengolah hingga penyajiannya  yang akurat baik untuk instansi tingkat Pusat maupun di Daerah. Sistem survei dan inventarisasi yang dipakai tidak hanya menggunakan sistem lama yaitu survei lapangan (field

survey) tetapi juga digunakan sistem penginderaan jarak jauh (remote sensing) dengan digunakannya foto udara maupun foto satellite . 

 Berdasarkan perhitungan biaya yang tersedia  untuk pendidikan dan pelatihan termasuk biaya praktek kerja lapangan ( di hutan hujan tropika) yang baik, dalam kurun waktu kerjasama selama 5 tahun (1973-1978)  direncanakan akan dapat mencetak 100 ahli survei dan inventarisasi hutan .

PELAKSANAAN PENDIDIKAN DAN LATIHAN

Program pendidikan dan latihan yang akan dilakukan  adalah Prgram Studi “ Standard School” yang berlangsung selama satu tahun  yang terbagi dalam dua kegiatan utama yaitu 9 bulan belajar teori dan praktik di  kampus ITC Negeri Belanda  dan 3 bulan praktik kerja lapangan untuk mempraktikan secara nyata metode-metode survei dan inventarisasi  di lapangan baik dengan field survey maupun aerial  survey khususnya di hutan hujan tropika  yang sesuai dengan keadaan hutan di Indonesia.

Calon peserta yang disyaratkan adalah pegawai kehutanan aktif terutama yang bertugas di bidang perencanaan dan lembaga pendidikan di Pusat maupun Daerah, berijazah sekurang-kurangnya sarjana muda (D3) atau yang dipersamakan, lulus test bahasa Inggris  di British Council atau yang dipersamakan dengan nilai minimal  tertentu, sehat jasmani rokhani  terutama ketahanan fisiknya untuk tinggal di wilayah bermusim dingin (winter) dan bekerja di hutan.

Praktik Kerja Lapangan untuk angkatan pertama dilakukan di Amerika Selatan (Brazil), untuk angkatan kedua di Afrika (Keniya) sedangkan  untuk angkatan ketiga, keempat dan kelima dilakukan di Indonesia berturut-turut di Lampung, Baturaden (Jawa Tengah) dan di wilayah DAS Konto Malang (Jawa Timur). Pembuatan foto udara di areal praktik kerja lapangan dilakukan dengan bekerjasama bersama AURI dan Bakosurtanal

Selama praktik kerja lapangan di Indonesia 3 bulan waktunya terbagi untuk persiapan perencanaan survey dikerjakan di Pusdiklat Perum Perhutani Cepu selama  2 minggu, pelaksanaan  survei di lapangan  6 minggu, pengolahan data pembuatan laporan hingga ujian di Pusdiklat Perhutani Cepu 4 minggu. Ujian akhir dilakukan di Pusdiklat Perhutani Cepu. Penutupan dan perpisahan  dilakukan berganti-ganti ada yang di Semarang (karena PKL nya di  Batu Raden-Purwokerto-Jawa Tengah), di Surabaya (ketika PKL nya di Malang-Jawa Timur) dan di Cepu.

Dosen pembimbing dan pengawas dari ITC Belanda selama PKL di Indonesia ada 4 orang dosen  Mr. Versteegh, Mr. Remijn, Mr. Banyard dan Mr. Hans.

Dalam hal kelulusan, semua peserta yang bisa mengikuti  sebagian terbesar dari seluruh aktivitas pendidikan dan latihan (lebih dari 80 %)  dapat dinyatakan lulus dan mendapatkan sertifikat meski dalam ujian akhir ada yang harus beberapa kali ujian her (ulangan)

Bagi 2 orang lulusan yang mencapai nilai tertinggi (peringkat 1 dan 2) dari setiap angkatan  mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan tingkat Master (S2) di  ITC Negeri Belanda selama satu tahun

Nama-nama yang berhasil meraih pendidikan S2 (Master) antara lain adalah Ir. Titus Sariyanto, MSc, Drs. Piran W  MSc, Ir. Ii Rudjai Zakaria, MSc, Ir. Mulyadi Atmomarto, MSc, Burhanudin Sarbini, MSc, Ir. Poedjo Rahardjo, MSc, Ir. Aries Widijanto, MSc, Ir. Ischak Sumantri, MSc, R. Haryono, MSc, Leo Verboon,MSc, Ir. H. Simon, MSc.

Ada beberapa nama yang penulis ingat ikut pendidikan ITC ini diantaranya alm. Bp. Ir. Sumahadi, Ir. Soedarto KD, Ir. Surachmanto Hutomo, MSc, Ir. Harno Hadi, Ir. Moh. Rochmadi, Ir.vKamanaradi KN, Ir. S. Darmawan, Ir. Atang Sumaatmadja, Ir. Santoso N, Ir. Abdulrachman, Ir. Syahdan Obos, Ir. Soedari, Ir. Soewarno, Ir. Oesman Joesoef, MSc, Ir. Eko Wardoyo, Ir. Parijadi, Soetisno, IB Ngadung, Suwandi, Domingus Tahitu, Hans Mackabory, Soetono, Benyamin, Kamsilam, Ign Margono, Anshorudin, Albai Surya, Syarifudin, Slamet M, Abdullah, Baedowi, P. Soedomo, Kustito, B.B. Lasso, Abdul Sani.

Setelah masa kontrak berakhir tahun 1978 ternyata jumlah peserta Pendidikan dan Latihan Penginderaan Jarak Jauh di ITC Netherlands belum mencapai target 100 orang. Berkat kemauan dan jasa baik pimpinan ITC yang diwakili oleh Ir. Versteegh diambil kebijaksanaan/ keputusan bahwa  dana atau biaya pendidikan untuk  sisa jatah yang tidak terpenuhi dapat digunakan untuk calon peserta lain yang dipilih dan ditetapkan oleh pihak Indonesia tetapi tidak dalam bentuk klas angkatan melainkan  sebagai peserta tugas belajar biasa. Dari lanjutan program ini ada beberapa yang bisa berhasil meraih gelar M.Sc. dari ITC di antaranya Ir. Sadhardjo, MSc dari Unit Pengelola DAS Konto Perum Perhutani Jawa Timur, Iksan Susanto, MSc dari Biro Perencanaan Perhutani Jawa Timur, Ir. Irdrabudi, MSc dari Ditinpek (Baplan) Bogor.

APAKAH PARA ALUMNUS SEMPAT DAN MAMPU MENERAPKAN ILMU DAN KETRAMPILANNYA ? Jawaban atas pertanyaan ini hanya bisa diberikan secara empiris karena tidak ada data hasil penelitian  yang seksama. Secara kesan umum beliau-beliau setelah kembali bekerja di bidangnya telah berusaha menyusun konsep-konsep dan pelaksanaan penerapan ilmu dan keterampilannya di bidang survei, inventarisasi, peruntukan, penatagunaan hutan dan penataan batasnya di Indonesia. Usaha tersebut awalnya nampak berhasil tetapi jalannya lamban terutama terkendala oleh kesulitan tata batas  dan biaya survei yang mahal  khususnya pembuatan foto udara dan foto satellite serta proses pemetaannya. Akhirnya sampai hutan dan kehutanan terlanda krisis multi dimensi 1999-2002 cita-cita untuk bisa menguasai data dan informasi sumber daya hutan serta pemanfaatannya  bagi penataan dan penglolaan hutan lestari belum berhasil baik sebagaimana yang dicita-citakan