MELAWAN LUPA TERKAIT DENGAN PERINGATAN HARI KARTINI

Oleh: Slamet Soedjono
Redaktur MRI

Majalah Rimba Indonesia (MRI) Volume 65 diharapkan terbit pada bulan April 2020. Bulan April ini bagi wanita Indonesia merupakan bulan istimewa di mana bangsa Indonesia khususnya kaum wanitanya merayakan peringatan hari lahir Raden Ajeng Kartini sosok wanita Indonesia yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sebagai penghargaan atas jasa-jasanya memperjuangkan kemajuan wanita Indonesia dalam pendidikan, kebudayaan, kesamaan derajat dan peranannya dalam pembangunan serta kemajuan bangsa Indonesia; melepaskan diri dari pembelengguan adat dan pengekangan pendidikan yang terkesan mengecilkan arti dan merendahkan derajat kaum wanita.

Pada masa yang hampir bersamaan dengan R.A. Kartini di Jawa Tengah, di Jawa Barat juga dikenal tokoh wanita yang hampir mirip dengan peran R.A. Kartini yaitu ibu Dewi Sartika dan beberapa puluh tahun sebelum ibu R.A. Kartini sudah dikenal juga wanita-wanita hebat Indonesia seperti Laksamana Malahayati di Aceh, Pahlawan Perang Nyai Ageng Serang di Jawa Tengah, Maria Tiahahu, di Maluku kemudian Tjut Nya Dien dari Aceh. Bahkan jauh sebelumnya telah tercatat dalam sejarah Raja-raja Puteri (Ratu) yang berhasil dan gemilang dalam memimpin kerajaannya yaitu Pramodha Wardhani pada masa Kerajaan Mataram Budha abad ke-10, Tri Bhuwana Tungga Dewi Ratu Majapahit (1328-1350) pengganti Prabu Jayanegara yang berhasil meletakan dasar-dasar politik kerajaan secara kokoh dan berhasil menunjukkan/membuktikan kemampuannya sebagai raja wanita yang cakap, trampil dan mumpuni; keberhasilannya itu diwariskan kepada puteranya Prabu Hayam Wuruk raja Majapahit terkenal yang bersama Mahapatih Gajah Mada berhasil memperluas kekuasaannya ke seluruh Nusantara dengan wilayah yang lebih besar dari RI sekarang.

Penguasa pada jaman Belanda cenderung mendukung pendapat bangsawan atau adat Indonesia bahwa anak perempuan tidak perlu atau tidak usah sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya hanya akan mengurus suami dan anak-anak, mengurus dapur dan tempat tidur ,dan cukup menjadi teman di belakang atau kanca wingking dan tidak layak/patut menduduki jabatan atau pekerjaan yang seharusnya dipegang kaum lelaki. Karena itu jumlah perempuan yang bersekolah apalagi sekolah tinggi jumlahnya kecil jika dibanding siswa prianya. Pada awal kemerdekaan RI hingga akhir tahun sembilan belas lima puluhan jumlah siswa wanita dalam satu klas kalau di perkotaan antara 15-25% di Sekolah Dasar di desa jumlahnya lebih kecil lagi 5-15%; beda sekali dengan sekarang di Universitas saja sudah mendekati separohnya (50%) bahkan untuk fakultas-fakultas tertentu seperti kedokteran, psikologi, kedokteran gigi, jumlah mahasiswinya dalam satu klas/angkatan sering terjadi lebih banyak dari mahasiswa prianya.

Terkait dengan peringatan hari Kartini penulis dan Majalah Rimba Indonesia ingin menampilkan beberapa tokoh wanita Indonesia yang berhasil meraih kemajuan dan prestasi seperti yang diharapkan ibu kita Kartini, khususnya setelah Indonesia Merdeka; semata-mata/tak lain dan tak bukan adalah sebagai penghargaan dan salut atas keberhasilan mereka serta keteladanan bagi wanita Indonesia.

  1. Perempuan Dokter Pertama dr. Soelianti Saroso (lahir 1917) lulusan Geneeskundige Hoge School (Sekolah Kedokteran Tinggi) Jakarta tahun 1942 di masa awal Penjajahan Jepang yang namanya sekarang diabadikan di RS Pusat Penyakit Infeksi Prof. DR. Soelianti Saroso Jakarta. Almarhumah adalah perintis Kesehatan Masyarakat dan Keluarga Berencana serta Pembangunan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang mendapatkan gelar Guru Besarnya dari Universitas Airlangga. Pernah menjabat sebagai Direktur Jendral Penyakit Menular Dep. Kesehatan. Kalau perempuan dokter pertama pada jaman Hindia Belanda tercatat satu-satunya adalah dr. Marie Thomas asal Likupang Manado (lahir 1896) lulusan STOVIA Jakarta tahun 1922.
  2. Perempuan Insinyur Tehnik Sipil Pertama Ir. S. Doelmohid lulusan Sekolah Tehnik Tinggi (STT) atau sekarang ITB Bandung tahun 1954 yang namanya juga diabadikan di salah satu gedung Departemen Pekerjaan Umum di Bandung.
  3. Perempuan Insinyur Pertanian Pertama Ir. Widowati lulus dari Faklutas Pertanian Universitas Indonesia Bogor tahun 1957.
  4. Perempuan Insinyur Kehutanan Pertama Ir. Rukmawati kemudian menjadi DR. Ir. Rukmawati Hartono lulus Fakultas Pertanian Jurusan Kehutanan Universitas Indonesia Bogor (IPB) tahun 1957.
  5. Penerbang (pilot) militer pertama:
  • Angkatan Udara yang dari WARA (Sarjana)1963 Lulu dan Herdini dan yang dari Sekolah Penerbang AU Hermuntasih (Marsma Purn) lulus Sekbang AU 1982 Penerbang Foker 27.
  • Angkatan Laut Letda Laut Sri Utami penerbang Heli AL (2011) dari Bintara AL anak seorang buruh tani yang berkesempatan disekolahkan ke Sekolah Penerbang AU.
  • Angkatan Darat Letda CPN Puspita Labida Penerbang Heli AD lulusan Akmil AU 2017 anak seorang sopir dan penjual jagung bakar.
  1. Penerbang pesawat jet komersial berbadan lebar Pilot Garuda Ida Fijriah lulusan Akademi Penerbangan Indonesia Curug 1996 sebagai penerbang pesawat Boeing 737.
  2. Perempuan Guru Besar Pertama (1964) Prof. DR. Siti Baroroh Baried (lahir 1925) guru besar Fakultas Satra UGM lulusan Al Azar Mesir.
  3. Perempuan Jenderal Pertama:
  • Angkatan Darat Brigjen TNI AD Theresia S Abraham.
  • Angkatan Laut Laksma TNI AL Christina Maria Rantetana lulusan Sepamil Sukwan 1979.
  • Angkatan Udara Marsma Hermuntasih.
    d. Kepolisian RI Brigjen Pol Jeane Mandagi lulusan Fakultas Hukum UI masuk Polri 1965.
  1. Perempuan Presiden Pertama RI Megawati Soekarnoputri Presiden Kelima RI tahun 2001-2004.
  2. Perempuan Menteri Kabinet RI Pertama Mr. Maria Ulfah Santoso, Menteri Kemakmuran Kabinet Pertama RI. Titel Mr. adalah titel Sarjana Hukum lulusan Recht Hoge School Negeri Belanda merupakan singkatan dari Meester in de rechten.
  3. Perempuan Gubernur Provinsi/Kep Dati I yang diangkat berdasarkan Pemilu/Pilkada adalah Hj. Atut Chosisah, SE Gubernur Provinsi Banten sedangkan Gubernur Provinsi/Kep. Dati I yang diangkat Presiden Soeharto berdasarkan Pemilihan oleh DPRD Dati I Jambi ialah Prof. DR. Soedarwati Machsun Sofyan Guru Besar UGM isteri Gubernur Machsun Sofyan, SH yang digantikannya.
  4. Perempuan Bupati Pertama Rohani Darus Danil (Tebingtinggi).
  5. Perempuan Walikota Pertama Salawati Daud (Makassar).
  6. Perempuan Menteri Kehutanan pertama DR. Ir. Siti Nurbaya Bahar MS lulusan Fakultas Pertanian IPB.
  7. Perempuan Pertama Menteri Keuangan Terbaik Dunia DR. Sri Mulyani Indrawati. Beliau lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Ph.D. di USA.
  8. Perempuan Direktur Jendral Bidang Kehutanan Pertama DR. Ir. Yetti Rusli, M.Sc. lulusan Fakultas Kehutanan IPB 1978.
  9. Perempuan pertama Direktur Utama Perum Perhutani Prof. DR. Ir. Upik Rosalina Wasrin, M.Sc. lulusan Fakultas Kehutanan IPB 1979.

Demikianlah beberapa nama perintis kemajuan di beberapa bidang, masih banyak perintis kemajuan di bidang lain yang belum dapat disebutkan. Faktanya sekarang telah banyak sekali perempuan Indonesia yang dapat meraih prestasi prestasi hebat di beberapa bidang seperti Pendidikan, Penelitian, Kesehatan, Pemerintahan. Banyak yang telah berhasil menjadi Menteri, Guru Besar, Duta Besar, Direktur Utama Perusahaan BUMN kesemuanya berkat kemajuan pendidikan, etos kerja dan perjuangan gender.

Presiden Megawati Soekarnoputri pada saat peringatan hari ibu yang lalu mengharapkan adanya tokoh-tokoh baru yang mengemuka di bidang politik bahkan mengharapkan suatu saat ada Panglima ABRI (TNI) dari wanita Indonesia. Tentu hal ini baik dan sah-sah saja asal dapat memenuhi persyaratan/kirteria/norma yang ditentukan dan diterima publik.

Semoga bermanfaat.