PERHUTANAN SOSIAL PEREKAT EKONOMI RAKYAT DAN EKOLOGIS HUTAN DI PANDEMI COVID-19

Oleh: Dr. Ir. Bambang Supriyanto, M.Sc.
 Dirjen Perhutanan Sosial, Kementerian LHK

Pandemi Covid-19 adalah wabah penyakit dunia yang perlu disikapi secara global tetapi juga skala lokal. Menurut catatan, dampak kesehatan publik pada tanggal 17 Juni 2020, jumlah penduduk dunia yang terpapar virus corona adalah 8,6 juta orang yang tersebar di 218 negara. Upaya-upaya pemberantasan Covid-19 dan dampak ekonominya dilakukan pada tataran internasional, nasional, regional dan lokal, melalui kebijakan publik beserta penerapannya agar virus ini dapat dikendalikan bahkan dapat dimusnahkan. Pemanfaatan anggaran negara (APBN) maupun daerah (APBD) dan pendapatan masyarakat pada umumnya dipergunakan untuk kersehatan dan kebutuhan dasar. APBN dan APBD menyediakan dana untuk kesehatan publik secara gratis bagi masyarakat yang terpapar dan upaya lacak Rapid Test sehingga banyak negara yang terbebani ekonominya yang disebabkan ketidak seimbangan antara penerimaan negara dengan pengeluaran negara yang diakibatkan ekonomi yang tidak bergerak. Hal ini disebabkan Covid-19 penularannya melalui dropplet sehingga kerumunan massa harus dihindari bahkan pada daerah-daerah epicentrum diperlakukan PSBB, jaga jarak (physical distancing) dan penggunaan masker. Di luar negeri malah diberlakukan karantina wilayah atau lockdown sehingga ekonomi betul-betul tidak bergerak.

Ketika upaya ini telah membuahkan hasil yang diindikasikan dengan reproduktif number (Ro) dan transmition rate (Rt) kurang dari 1 maka diberlakukan kelonggaran PSBB menuju New Normal. Paper ini mengulas peran rimbawan untuk membantu keberhasilan program penanggulangan Covid-19 di Indonesia dan persepktif pengelolaan petani hutan dan pengelolaan agroforestry perhutanan sosial.

PENYEBAB VIRUS

Pada periode 1940-2004 setidaknya ada 335 jenis virus baru yang menginfeksi manusia. Sebanyak 72% dari wabah tersebut berasal dari satwa liar, yang diburu, dimakan, dan menginfeksi manusia yang menginvasi habitat mereka di hutan-hutan yang dirusak. Satu abad yang lalu virus flu spanyol menyerang dataran eropa dalam beberapa gelombang sehingga menimbulkan korban + 50 juta orang. ilmu pengetahuan yang masih terbatas yang penangan yang kurang mengakibatkan pandemi flu spanyol yang disebabkan mobilitas bangsa spanyol sebagai penjajah dunia.

Peristiwa tersebut berulang dengan munculnya flu burung, flu babi dan Covid-19 akibat rantai ekosistem yang terputus karena kelalaian manusia dalam memberlakukan satwa liar sebagai bagian rantai makanan ekosistem. Demikian pula dengan Covid-19, sebab kelelawar yang seharusnya menetralisir virus- virus yang ada di alam dimakan oleh manusia sehingga ada transformasi virus tersebut ke dalam tubuh manusia yang menyerang tenggorokan dan menginfeksi paru-paru yang dapat mengakibatkan kematian. Manusia yang terpapar jika batuk mengeluarkan dropplet dan mengenai manusia yang lainnya maka penularan terjadi. Atau benda-benda yang terkontaminasi oleh dropplet jika dipegang oleh orang lain mempunyai potensi yang sama. Oleh karena itu diperlukan upaya pembelajaran bersama kepada publik termasuk petani tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan peran manusia sebagai khalifah bumi.

DAMPAK EKONOMI

Akibat PSBB, stay at home, working from home, kerumunan-kerumunan orang dihindari maka konsumsi bahan makanan meningkat sementara produksi berkurang karena aktivitas ekonomi berkurang. Aktivitas ekonomi berupa jasa seperti wisata berkurang drastis bahkan sampai 90% yang dampaknya mempengaruhi kepada usaha transportasi penerbangan, laut dan darat serta usaha hospitality seperti hotel, jasa wisata. Akibatknya, dunia mengalami pelambatan ekonomi yang diindikasikan dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang pada tahun 2019 adalah 2,9% maka dengan adanya dampak Covid-19 diproyeksikan menurun menjadi -3.0%. demikian pula untuk Indonesia pertumbuhan ekonomi dam skenario optimis masih bertumbuh pada kisaran 1-2% sedangkan pada skenario pesimis antara 0% sampai dengan -1%. Ketika ekspor impor antara negara tidak terjadi maka program ketahanan pangan nasional sangat diperlukan termasuk peran kehutanan melalui agroforesty.

DARI MANA MULAI PERAN RIMBAWAN

Di perkotaan mengalami gangguan ekonomi karena rendahnya supply dan demand sehingga banyak sentra/ usaha ekonomi mengalai pelambatan dan terhenti, sehingga PHK terjadi sebagai akibatnya banyak pekerja yang pulang kampung. Kebijakan SKIM pekerja yang pulang kampung yang tidak ada jaminan pekerjaan di kota dan akan kembali lagi ke kota akan ditolak. Sebab, kota akan terbebani kembali masalah sosial dan pemberantasan Covid-19 nya masih berlangsung walaupun trendnya menurun.

Oleh karena itu program perhutanan sosial yang memberikan distribusi akses pengelolaan hutan di desa dengan didukung oleh pendampingan untuk peningkatan kapasitas serta membuka ruang kerjasama investasi dan pemasaran dapat dimanfaatkan untuk membantu penyelesaian masalah PHK, sambil memberi trigger bergeraknya ekonomi pedesaan melalui ketahanan pangan pola agroforesty.

Sebagai rimbawan yang dipercaya menjadi pimpinan diprogram perhutanan sosial maka strategi yang diambil adalah:

Pertama, berfikir strategis agar Covid-19 teradaptasi ditingkat tapak melalui sosialisasi pembelajaran jarak jauh kepada petani perhutanan sosial. Pendekatan yang diambil adalah bekerja sama dengan lembaga yang kompeten dibidang pendidikan dan pelatihan yaitu Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber daya Manusia (BP2SDM) dengan merancang Learning management Sistem (LMS). Target yang dilatih adalah 3.000 petani dan pendamping, maksimal lima orang dalam satu kelompok. Pada saat ini terdapat 6.622 kelompok yang terdiri 857.819 KK yang mengelola 4,2 juta Ha. Kalau satu KK terdiri dari empat orang maka jumlah yang terlibat dalam perhutanan sosial saat ini 3,4 juta orang.

Kedua, berfikir menyemangati petani agar produktif dengan tetap memperhatikan prosedur Covid-19. Kerangka fikirnya adalah kita membantu menyiapkan skenario resiko PHK dengan lapangan pekerjaan yang berbasis pedesaan. Dengan pembelajaran jauh kepada petani harapannya petani mendapatkan penguatan kearifan lokal dengan inovasi dan teknologi intesifikasi pangan sehingga produktifitas hutan dan pangannya meningkat serta nilai tambah produk yang mempengaruhi secara positif terhadap pendapatan juga meningkat. Pada umumnya tenaga kerja PHK yang kembali ke desa masih relatif generasi millenial sedangkan kondisi eksisting petani perhutanan sosial dengan rata-rata berumur 47 tahun. Dengan e-learning ini transformasi inovasi teknologi dari petani muda kepada petani tua atau sebaliknya terjadi dalam kelas pembelajaran bersama. Lagi pula pemerintah juga memberikan insentif uang saku dan uang pulsa kepada petani dan pendamping sebesar Rp 800.000,- yang harapannya dapat digunakan untuk menopang hal-hal yang produktif. Pemerintah juga memberikan insentif dana Bang Pesona yang diberikan kepada kelompok jika mereka menerapkan hasil pembelajaran tersebut dalam Rencana Kerja Usaha (RKU) dengan pemilihan cluster komoditas hutan dan pangan yang dapat dipergunakan untuk memberi input produksi seperti bibit, pupuk, dan obat untuk hama penyakit. Bang pesona dananya sebesar Rp 50juta per kelompok. Melalui jejaring program proitas nasional RKU tersebut juga dapat dijadikan dasar untuk mendapatkan bibit gratis dari BPDAS-HL maupun dinas pertanian Kabupaten. Syaratnya kelompok tersebut telah masuk dalam Calon Petani, Calon Lokasi (CPCL) Kementerian Pertanian. Pada saat ini telah terbentuk tim terpadu ketahan pangan KemenLHK dan Kementan untuk akselerasi ketahan pangan di Jawa seluas 106 ribu Ha dan di luar Jawa 120 ribu Ha.

Ketiga, melalui e-learning ini petani kita ajak berfikir tidak egosentris tetapi ekosentris sehingga cara-cara produktif dan pemahaman ekologi disampaikan secara bersamaan sehingga petani dapat adaptif terhadap kondisi sekarang.

Dengan pembelajaran maka adaptasi terhadap Covid-19 dan cara-cara produktif telah diberikan kepada petani sehingga a) Petani akan terus bekerja dan berproduksi dengan mengolah lahannya sebab menjadi petani merupakan cara hidup yang dikenal oleh petani. b) Secara alami petani akan menyesuaikan diri menerapkan protokol Covid-19 (menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, bekerja mandiri, dan sebagainya). d) Petani akan menyesuaikan jenis tanamannya dengan situasi yang dihadapinya. e) Secara sosial petani akan beradaptasi seperti cara-cara yang mereka pahami yaitu bergantung kepada asuransi sosial yang ada di desa (bansos pemerintah, kolektivitas desa, ikatan patron klien). f) Bantuan sosial dari pemerintah kepada petani menjadi harapan untuk tetap makan dan bertahan hidup. g) Gotong-royong, resiprocal sebagai wujud norma/ nilai-nilai kolektif yang hidup dalam interaksi sosial di desa.