BELAJAR DARI KEHIDUPAN SEPASANG LANSIA DI TENGAH BELANTARA YANG TERPENCIL
Oleh: Dr. Ir. Tjipta Purwita, M.B.A., IPU., ASEAN Eng.
(Pengasuh Majalah Rimba Indonesia)
Berkunjung ke Rumah Tua yang Asri
Beberapa hari usai lebaran Idul Fitri 1446 H (tahun 2025 M) yang lalu, kami bertujuh, dari Purwokerto sengaja mengunjungi sebuah rumah tua di Kampung Gondang, Desa Prigi, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Rumah tua ini berada pada ketinggian ± 560 m dari permukaan laut (dpl), di tepian hutan Pinus (Pinus merkusii) dan hutan Damar (Agathis sp) yang merupakan hutan pangkuan Perum Perhutani BKPH Banjarnegara, KPH Kedu Selatan. Meskipun tua, rumah ini masih terlihat kokoh dan asri.
Untuk mencapainya, kami bertujuh naik 2 kendaraan roda 4 (satu Pajero Sport dan satu Honda Jazz). Mobil melewati jalanan yang sempit dan berkelok sampai batas jalan tak lagi bisa dilalui oleh mobil beroda empat. Bagi sopir yang amatiran, melewati jalan yang kecil dan berliku seperti ini, tentu sangat membahayakan keselamatan diri. Kemudian mobil diparkir di pinggir jalan desa Prigi, lalu masing-masing berganti moda, membonceng sepeda motor ojek melewati jalan tanah sebagian (dan sebagian lagi sudah dicor menjadi jalan beton) untuk satu jalur sepeda motor. Terus dalam posisi menanjak, ojek berjalan melewati kebun salak dan aneka tanaman hutan (pohon dan perdu) kira-kira memakan waktu selama ± 10 menit. Akhirnya kami sampailah di rumah tua yang berada di atas bukit yang sejuk dan nyaman.
Konon, rumah tua ini dibangun pada tahun 1930-an, masih pada zaman perjuangan kemerdekaan. Rumah milik pasangan almarhum embah Soetedjo dengan almarhumah eyang Soertijah yang keduanya diperkirakan lahir sebelum tahun 1900-an, merupakan rumah yang sangat bersejarah. Embah Soetedjo adalah seorang sinder tebu, yang konon masih keturunan Bupati Banjarnegara pertama (yaitu Raden Tumenggung Dipoyudo IV, yang menjabat tahun 1831-1846). Setelah berhenti sebagai sinder, eyang Soetedjo bekerja sebagai anemer yang membangun jalan aspal dari Banjarnegara sampai Wonoyoso dan dari Banjarnegara sampai Kalibening.
Rumah eyang Soetedjo berada di daerah ketinggian (yang cukup berat mencapainya jika harus berjalan-kaki dari bawah ke atas tanpa bantuan sepeda motor) dan berdiri tegak sendirian (tanpa ada tetangga satu pun). Di kiri-kanannya tidak ada rumah sama sekali. Mas Nedi (salah satu cucu eyang Soetedjo) menuturkan, bahwa ketika eyang Soetedjo dan eyang Soertijah masih hidup, rumah tersebut memang digunakan sebagai “tempat singgah bagi tentara pejuang” ketika berlangsung pergolakan/peperangan tentara rakyat dalam menghadapi penjajah Belanda maupun Jepang. Pantas saja, rumah itu sangat tersembunyi. Sebagai taktik perang gerilya, rumah tua itu sangat strategis karena dari dalam rumah bisa dengan mudah melihat musuh, namun sebaliknya musuh dari luar susah untuk melihat ke dalam rumah eyang Soetedjo.
Rumah ini awalnya dibangun dengan atap terbuat dari ilalang kering. Suatu saat rumah ini dibom oleh tentara Belanda, sehingga rusak berat. Kemudian direhabilitasi dengan mengganti atap dari ilalang menjadi ijuk. Setelah rusak terkena serangan untuk kedua-kalinya, rumah tersebut direnovasi kembali dan akhirnya setelah masa kemerdekaan barulah mengganti atap ijuk dengan atap genteng hingga sekarang.
Kehidupan Pasutri yang Unik
Pasangan Soetedjo dan Soertijah dikaruniai 6 (enam) orang anak, masing-masing 3 orang putri dan 3 orang putra. Embah kakung Soetedjo meninggal dunia pada tahun 1977 (pada usia sekitar 78 tahun), sedangkan embah putri (Soertijah) meninggal dunia pada tahun 1992 pada usia sekitar 91 tahun-an. Sekarang dari 6 orang anak-anaknya, 5 diantaranya telah meninggal dunia. Kini tersisa hanya 1 orang yang masih hidup, yaitu anak bungsu mbah Soetedjo yang bernama Edi Soeharto yang sehari-harinya biasa dikenal dengan panggilan “Om Oo”. Om Oo menikah dengan tante Peni yang berasal dari desa Purwonegoro. Pasangan Edi Soeharto (om Oo, 81 tahun) dan Peni Juliatun (tante Peni, 77 tahun) inilah yang sekarang menempati rumah mendiang embah Soetedjo semenjak tahun 1968 hingga sekarang. Setelah pensiun sebagai Staf Administrasi SMP Negeri I Banjarnegara pada tahun 2000-an, tante Peni secara penuh menemani suaminya tinggal di rumah Gondang bersama om Oo hingga sekarang. Sungguh merupakan pasangan suami-istri (pasutri) yang serasi dan keduanya telah teruji memiliki mental baja yang tangguh untuk menghadapi rintangan alam, karena bertahan hidup di tengah belantara dalam kondisi yang penuh keterbatasan.
Om Oo dan tante Peni dikaruniai 4 orang anak, terdiri atas 3 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, tetapi sekarang tinggal 2 orang anak yang masih hidup, yaitu : Mas Nedi yang tinggal di Prigi dan Mas Didut yang tinggal di Purwonegoro.
Gambar 1. Pasangan suami-istri (Edi Suharto atau om Oo, 81 tahun; dan Peni Juliatun atau tante Peni, 77 tahun) yang hidup menyatu dengan alam di rumah kuno yang terpencil di Kampung Gondang, Desa Prigi, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara.
Sungguh, rumah om Oo jauh dari perkampungan dan fasilitas umum (fasum). Tidak tahu alasan dan motivasi yang sesungguhnya dari eyang Soetedjo dengan eyang Soertijah hidup di hutan yang jauh dari keramaian masyarakat dan perkampungan penduduk, kecuali motivasi untuk berlindung dari kekejaman tentara penjajah Belanda. Saat ini pun rumah itu masih sangat terpencil. Dari kampung terdekat hanya bisa ditempuh selama ±1 jam perjalanan menggunakan sepeda motor (ojek). Jalannya pun hanya bisa dilewati dengan kendaraan roda 2.
Gambar 2. Akses jalan menuju rumah om Oo yang hanya bisa dilalui dengan sepeda motor atau berjalan kaki (hiking) untuk mencapai rumah pada ketinggian 560-an m.dpl.
Pertanyaan orang awam, kalau begitu terisolasi oleh alam, bagaimana sepasang lansia itu bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya? Dari penuturan tante Peni, tercetus jawaban bahwa untuk memenuhi kebutuhan sayur-mayur sehari-hari Om Oo dan tante Peni cukup memetik sayuran yang ditanam di kebunnya sendiri. Karena itu, rumahnya dipenuhi dengan tanaman sayuran dan bunga-bungaan aneka warna. Sangat hijau dan sejuk dipandang mata.
Gambar 3. Kami bertujuh bertandang ke rumah om Oo dan tante Peni. Berpose di depan rumah tua dengan latar-belakang hutan damar dan hutan pinus kawasan pengelolaan Perum Perhutani.
Ketika tante Peni ditanya, “Kenapa tidak belanja makanan yang telah siap saji (“instant’) di kota sehingga lebih banyak pilihan”? Dengan kata-kata yang jelas ke luar dari mulutnya, tante Peni menjawab, “Saya tidak mampu membeli makanan yang siap saji karena mahal. Saya lebih banyak belajar dari masyarakat kampung di sekitar desa yang hidup sangat sederhana (bersahaja), tetapi mereka bisa hidup dengan tenang dan damai, serta tetap sehat. Mereka hidup dengan memanfaatkan sumber-sumber makanan yang ada di sekitar, sehingga terjamin kebersihannya dan tidak tercemar dari polusi bahan-bahan kimia”.
Gaya hidup yang tidak hedonis dan merasa cukup dengan seberapapun nikmat pemberian yang telah disediakan oleh Sang Pencipta inilah dalam keyakinan agama Islam, dikenal sebagai hidup yang “qona’ah”. Selalu merasa cukup dengan pemberian Sang Pencipta (Allah SWT) di tengah keterbatasan yang ada. Hidup menjadi semakin tenang karena tidak rakus, tidak serakah, tidak kemrungsung (galau, tergesa-gesa, resah), serta semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta (Al Khalik). Tante Peni dan om Oo menanam aneka tumbuhan (tanaman obat, anggrek, buah, sayur-mayur) dan memelihara ikan sendiri di dalam kolam (empang) yang airnya mengalir deras. Mereka juga memelihara unggas (ayam kampung). Begitu pula hasil-bumi lainnya seperti salak, petai, kelapa, singkong, durian, mangga, manggis, buah papaya, tanaman coklat, dan berbagai jenis buah-buahan lainnya, ditanam dan dijual untuk menyambung hidup mereka, terutama buah salak. Karena itu, dengan tagline “Merawat Bumi, Merawat Persaudaraan”, suatu ketika Wakil Bupati Banjarnegara (Bapak Samsudin) pun bertandang melakukan kunjungan ke rumah om Oo untuk menyaksikan sendiri panenan hasil-hasil bumi karya om Oo sekeluarga.
Gambar 4. Hijauan yang ditanam dan tumbuh di halaman rumah. Sayur-sayuran dan buah-buahan untuk dimasak sendiri dan dijual, sedangkan bunga-bungaan dijadikan pakan lebah penghasil madu yang dipeliharanya dengan baik.
Makanan segar seperti sayur maupun protein hewani, semua dicukupinya sendiri. Hanya pada saat tertentu saja (misalnya ketika mengambil gaji pensiun bulanan di kota Banjarnegara), maka tante Peni meluangkan waktu untuk belanja tempe, tahu, garam, dan keperluan konsumsi (logistik) lain yang tidak bisa dipenuhinya sendiri. Tetapi seringkali mereka berdua hanya menitipkan uang kepada tetangga kampung untuk membelikannya.
Beternak Lebah Madu Lokal
Om Oo dan tante Peni dibantu oleh anaknya (Mas Nedi), memelihara lebah madu di halaman rumahnya. Jenis lebah madu yang diternakkan adalah lebah klanceng. Ternak lebah ini pada awalnya untuk memenuhi konsumsi sendiri, namun lambat-laun ditujukan juga untuk dijual ke masyarakat umum. Bahkan, dengan pembinaan dari Perhutani maupun pihak lain, om Oo telah memiliki alat sadap madu sendiri yang dioperasionalkan oleh Mas Nedi.
Gambar 5. Stup-stup lebah madu yang disusun rapi di halaman rumah om Oo sangat menarik untuk dilihat. Disana ada hubungan alami yang serasi antara manusia dengan makhluk hidup lainnya (lebah) yang terjalin sangat baik dan saling menguntungkan satu sama lain.
Dengan disuguhi segelas besar minuman kopi hitam, kelapa muda (“degan”), polen madu klanceng yang baru disadap dari sarang lebahnya, pisang kapok kuning rebus, buah salak yang baru dipetik dari pohonnya, kami ngobrol-ngobrol asyik di ruang tamu. Tak lama kemudian kami diajak menikmati makan siang masakan tante Peni yang terdiri atas nasi putih, sayur asem daun melinjo, ayam goreng kampung, oseng bunga papaya, tempe bacem, lalapan, petai rebus, sambal, dan lain-lain. Di siang menjelang sore yang diguyur hujan rintik-rintik, maka makannya pun terasa semakin nikmat. Wuenaaak tenan. Kata Bondan Winarno, “pokoknya maknyus”. Makanannya memang sangat lezat.
Di hadapan para tamunya, Mas Nedi mempraktikkan bagaimana cara memanen madu lebah klanceng. Menurut mas Nedi, kualitas dan rasa madu yang dihasilkan lebah, pada umumnya tergantung pada apa jenis pakannya. Ada pakan lebah berasal dari bunga kaliandra, bunga klengkeng, bunga pohon randu, serta bunga-bungaan lain yang hampir semuanya tersedia di halaman rumah om Oo. Setelah madunya terkumpul di dalam botol, nanti pada saatnya madu tersebut dijual ke pelanggan (customer). Lebah yang dipelihara om Oo adalah jenis lebah kerdil (kecil), yang biasa disebut sebagai lebah madu “klanceng” (Trigona spp.). Menurut literatur, species ini merupakan species lebah madu liar yang hidup di Asia Selatan dan Asia Tenggara, yang penyebarannya jauh lebih luas daripada species lebah lainnya. Lebah Trigona spp. berwarna hitam. Yang dipelihara oleh Mas Nedi, nampaknya jenis lebah klanceng hitam ini.
Gambar 6. Penyaringan polen lebah madu klanceng oleh Mas Nedi. Setelah terkumpul beberapa botol, semua tamu diberi oleh-oleh sebotol madu beserta hasil bumi lainnya (Gambar Kiri). Mas Nedi sedang menyadap madu langsung dari sarangnya (stup-stup lebah madu). Tanpa menggunakan alat pelindung, Mas Nedi memanen madu lebah klanceng (Foto koleksi Mas Nedi, 22 Juni 2022: Gambar Kanan).
Lebah klanceng disebut sebagai lebah kerdil karena ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan dengan lebah madu lainnya. Lebah ini merupakan lebah penyerbuk yang sangat baik. Lebah jenis Trigona spp. selain bentuknya yang kecil dan tidak menyengat, lebah jenis ini menghasilkan madu dan propolis yang bernilai ekonomi tinggi, serta bisa dipanen dalam jangka waktu yang relatif pendek (hanya sekitar satu bulan).
Madu dari jenis lebah klanceng mengandung bakteri asam laktat yang membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan manusia. Di samping itu, madu klanceng juga mengandung kadar gula antara 40–50 % dengan proporsi terbesar adalah glukosa. Kandungan gulanya masih lebih rendah daripada madu yang dihasilkan oleh lebah keluarga Apis. Kandungan lain adalah fruktosa, trehalose, asam amino, asam organik, senyawa antioksidan dan berbagai mineral penting lainnya. Khasiat madu lebah klanceng diantaranya adalah memiliki kandungan gula fungsional alami, yaitu gula trehalose yang aman dikonsumsi oleh penderita diabetis sekalipun. Di samping itu, kantong madu lebah klanceng bisa digunakan sebagai propolis yang bermanfaat sebagai antibakteri dan antioksidan, bahkan konon juga anti kanker, sehingga sangat baik sebagai suplemen yang bermanfaat bagi kesehatan manusia.
Budidaya lebah klanceng menurut Mas Nedi, tergolong mudah. Madu ini menyukai pohon buah-buahan dan bunga-bungaan penghasil nektar, seperti pohon mangga, jambu, rambutan, pohon randu, bunga kaliandra, bunga air mata pengantin, dan lain-lain. Madu yang dihasilkan oleh lebah klanceng cenderung lebih encer (karena kadar airnya lebih tinggi) serta rasanya lebih asam daripada lebah Apis. Namun satu persyaratan yang harus dipenuhi untuk memelihara lebah klanceng adalah lingkungan sekitar harus bebas dari pestisida (khususnya insektisida).
Lebah madu om Oo telah masuk dalam binaan Perum Perhutani. Di sekitar hutan Perhutani juga telah terbentuk asiosiasi perlebahan binaan Perum Perhutani bernama “Garimara”, arti harfiahnya secara bebas: “Tidak usah repot-repot. Yuk, tinggal datang saja ke sini”. Namun madu yang diproduksi oleh Perum Perhutani bukan hanya madu dari jenis lebah klanceng saja, melainkan ada juga jenis Apis mellifera, Apis dorsata dan Apis cerana.
Pelopor Penggunaan Enersi yang Ramah Lingkungan
Untuk konsumsi penerangan listrik, om Oo dan Mas Nedi membuat fasilitas micro-hydro sederhana secara swadaya untuk memproduksi listrik bagi keperluan penerangan rumahnya, terutama penerangan pada malam hari. Kebetulan di sekitar rumahnya terdapat air terjun dan mata air pegunungan yang terus mengalir dan tak pernah tohor (kering). Lagi pula, PLN tidak mungkin sanggup membangun fasilitas jaringan listrik yang hanya untuk menerangi sebuah rumah warga bernama om Oo (yang terpencil dan menyendiri), karena hal tersebut sangat tidak ekonomis (tidak efisien) bagi sebuah korporasi BUMN sekalipun.
Di samping menggunakan micro-hydro, om Oo juga memasang fasilitas solar-cell kecil yang dapat memanfaatkan enersi surya untuk menghasilkan enersi listrik. Sungguh penggunaan enersi baru dan terbarukan (EBT) seperti micro-hydro dan solar-cell yang telah dipraktikkan oleh keluarga om Oo ini, merupakan contoh penerapan inovasi yang sangat layak untuk diacungi jempol, karena sangat ramah lingkungan (environmentally-friendly) dan sangat sejalan dengan kebijakan pemerintah terkait penggunaan bauran enersi nasional.
Gambar 7. Air terjun yang melimpah dialirkan ke dalam pipa (Gambar kiri). Arusnya yang cukup deras digunakan untuk menggerakkan turbin sederhana (Gambar kanan) guna membangkitkan energi listrik mycro-hydro untuk memenuhi penerangan listrik bagi keperluan sendiri (swasembada enersi).
Untuk memasak pun tante Peni cukup menggunakan kayu bakar dan bahan-bahan alami yang ada di sekitar rumahnya, tidak memaksakan diri membeli dan menggunakan kompor gas yang mahal serta boros akan bahan bakar. Bahkan untuk keperluan MCK, khususnya penggunaan kakus, om Oo tidak membuat WC khusus, tetapi memanfaatkan kolam (empang) ikan dengan membuat kakus sederhana yang sumber airnya sangat bersih dan selalu mengalir deras sepanjang waktu. Pendeknya, keluarga om Oo selalu adaptif dengan lingkungan.
Untuk konsumsi air pun, om Oo tidak “neko-neko” membeli alat dispenser, tetapi cukup menggunakan tabung filter tradisional peninggalan eyang Soetedjo pada jaman Belanda dulu yang masih menggunakan “batu apung” dan hingga saat ini masih berfungsi dengan baik, sehingga terus digunakan untuk keperluan penyediaan air minum sehari-hari.
Gambar 8. Rumah gunung yang terbuat dari kayu beratapkan genteng dipasangi solar cell kecil (tanda panah, (Gambar Kiri) untuk memanfaatkan sinar matahari guna dikonversi menjadi energi listrik rumahan. Sementara untuk konsumsi air minum, digunakan tabung filter peninggalan jaman Belanda yang menggunakan “batu apung” untuk mengendapkan kotoran, sehingga air menjadi bersih/higienis (Gambar Kanan).
Om Oo dan tante Peni betul-betul menikmati pola hidup yang sehat (menghirup udara yang bersih, meminum air sehat dari mata air pegunungan, serta tak bersentuhan dengan polusi). Sirkulasi udara di Gondang sangat bagus, tidak perlu lagi memasang AC atau menggunakan kulkas (refrigerator), karena alam telah menyediakan semuanya.
Catatan Penutup
Menyelami kehidupan pasangan lansia om Oo dan tante Peni yang produktif lagi efisien di tengah hutan, dapat dikatakan bahwa mereka sekeluarga telah berhasil membangun sistem ekonomi sirkuler yang betul-betul unik dan sustained. Hidup mandiri dengan menjual hasil bumi dan ternak lebah yang serba halal. Tanpa terasa, ekonomi sirkuler telah bergulir di kampung Gondang. \ Ibaratnya, tidak ada satu “sampah” pun yang tak termanfaatkan. Sampah organik digunakan sebagai bahan kompos. Sampah sisa makanan untuk pakan ayam kampung dan ikan di empang. Hasil bumi (salak, pisang, nangka, buah naga, madu, durian dan lain-lain) semua bisa dijual menjadi uang, meskipun masih menggunakan jasa middleman (tengkulak), untuk menyalurkannya hingga menjangkau konsumen akhir di kota.
Hidup dijalaninya dengan rileks. Berjalan dengan apa adanya, tanpa ada beban hidup yang berlebihan. Membaur dengan orang kampung (± 4 km dari rumahnya). Bekerja dengan tulus dan penuh kepasrahan kepada Sang Khalik. Apalagi sebagai seorang pensiunan staf sebuah SMP, maka tante pun Peni tetap dihormati sebagai tokoh masyarakat yang disegani.
Gambar 9. Tiga bersaudara (Gita-Insinyur Sipil UGM; Tjipta-Insinyur Kehutanan IPB; dan Teguh-Insinyur Kehutanan UGM) pulang berjalan kaki di tengah hujan yang cukup lebat menuju mobil yang diparkir di tepi jalan besar sekitar 1.5-2.0 km dari rumah om Oo dan tante Peni. Kami pulang tersipu-sipu malu karena telah belajar ilmu kehidupan dari pasutri yang telah lansia tetapi masih memiliki mental-spirit yang sangat kuat.
Hidup di gunung justru membuat sehat (lahir dan batin), karena bebas dari penyakit yang menggerogoti fisik maupun pikiran. Udara yang dihirup bersih, makanan yang dimakan halal, otak bersih, pikiran bersih (karena tidak neko-neko) dan mengendalikan hati agar selalu bersih.
Kami bertujuh pulang kembali menuju Kota Purwokerto dengan terngiang-ngiang akan masakan om Oo dan tante Peni: sayur bening, sayur asam, sayur bunga pepaya, tempe bacem, sambal, ikan nila goreng, yang semuanya sangat lezat. Saya yakin, di samping memang cara memasaknya yang enak, namun suasana batin yang penuh dengan ketenangan, udara dingin pegunungan yang sejuk, serta suasana penyambutan kepada tamu yang penuh keramah-tamahan, membuat makanan yang disajikan kedua lansia itu terasa begitu lezat dan nikmat.
Akhirnya kami pulang dengan menyisakan sebuah pertanyaan kontemplasi: bisakah sisa hidup kami ini diisi dengan penuh kepasrahan dan sikap yang qona’ah, yaitu merasa cukup dengan seberapapun pemberian nikmat yang telah diberikan Allah kepada kami, sebagaimana telah dipraktikkan oleh sepasang lansia om Oo dan tante Peni? Wallohu’alam bissowab. Semoga kami dapat menirunya, meski tak sempurna. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin.