Pengantar Redaksi

PENGANTAR REDAKSI

Tema MRI Volume-81 masih berkelindan dengan persoalan  kemandirian pangan, energi, dan cadangan air. Sesuai Asta Cita, Presiden Prabowo Soebianto seringkali menekankan agenda penting untuk meningkatkan swasembada pangan dan energi, termasuk pengembangan bahan bakar berbasis bio untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar. Menteri Kehutanan RI (Raja Juli Antoni) pun, merespons  secara  cepat kebijakan Presiden itu dengan merencanakan  mengubah  sekitar 20 juta hektare kawasan hutan menjadi area produksi pangan, energi, dan cadangan air.

Untuk mencapai harapan Presiden tersebut, perlu dilakukan penataan hutan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dengan “mengoptimalkan” fungsi lahan hutan melalui sistem agroforestri dan fungsi lahan hutan yang ada dalam konsesi, serta tidak membuka hutan perawan (virgin forest) yang berpotensi meningkatkan eskalasi deforestasi yang semakin masif di Indonesia.

Pertanyaannya, mungkinkah penyediaan  lahan  hutan seluas ± 20 juta  hektare dilakukan tanpa menimbulkan deforestasi? Secara teknis, sangat mungkin. Caranya adalah  semaksimal-mungkin menggunakan lahan hutan yang tidak produktif, mengoptimalkan upaya rehabilitasi lahan, menerapkan teknologi pertanian yang efisien, melakukan pengembangan pertanian sistem vertikal, penggunaan lahan yang terlantar, dan cara-cara lain yang lebih ramah lingkungan. Setidaknya ada 3 rambu penting dalam penataan lahan hutan untuk cadangan pangan, energi, dan air bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat, yaitu: (1) harus mampu menjaga keseimbangan ekosistem, (2) meningkatan produktivitas dan efisiensi, serta (3) mengurangi konflik kepentingan (conflict of interest) dalam penggunaan hutan.

Pada MRI Volume 81, kontributor Soetrisno Karim, Iman Santoso, dan Endang Hernawan, menyoroti perlunya pendekatan hibrida dalam mendorong restrukturisasi kelembagaan dan tatakelola kehutanan, peninjauan kembali politik kehutanan yang berkembang dinamis melalui revisi perundang-undangan bidang kehutanan, serta penataan kawasan hutan dengan pendekatan Participatory Land Use Planning (PLUP). Sementara, Hadi Daryanto, mengemukakan gagasan  pangan  berkelanjutan  untuk  mencapai  swasembada pangan melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi lahan pertanian,  Tetra Yanuariadi &  Ratih Damayanti menyoroti komitmen global terhadap hutan tropis berkelanjutan, serta Yaman Mulyana, mengingatkan perlunya 30 % wilayah perkotaan dialokasikan untuk ruang terbuka hijau (RTH). Disajikan pula tulisan Gilarsi Wahju Setijono terkait paradoks komoditas emas hijau di kancah perdagangan global. Edi Purwanto dan Gusti Suganda, menyajikan tulisan “Dinamika Perubahan Lahan Desa Adat di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat”.

Pada bagian lain, dalam menyambut HUT ke 80 RI, Suhariyanto  menulis “Indonesia Merdeka – Berbagai Pergolakan Melawan Berbagai Krisis”, Anung Setyadi menulis rubrik “Apa & Siapa” (kali ini memperkenalkan Tjipta Purwita), Slamet Soedjono menulis rubrik obituari almarhum Adjat Soedradjat, tulisan ringan Tjipta Purwita berisi tentang sepasang lansia yang hidup di tengah hutan, Nurhabli Ridwan menulis sekilas info terkait “Kelompok Pencinta Alam GRAS Rayakan HUT ke 7 Tahun”. Tulisan kontributor begitu beragam, mulai dari yang serius hingga yang rileks, namun semuanya sangat menarik untuk disimak.

Terakhir, tak lupa dalam rangka HUT ke 80 RI, pengasuh MRI mengucapkan dirgahayu kemerdekaan RI dengan harapan dan doa, semoga tema “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju” benar-benar dapat dihayati dan diimplementasikan oleh seluruh rakyat. Merdeka!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *