Obituari

RIMBAWAN PEJUANG WALMAN SINAGA

Oleh: Ir. Slamet Soedjono, M.B.A.

(Pengasuh Majalah Rimba Indonesia)

 

INDENTITAS PRIBADI DAN PEKERJAAN

Nama Walman Sinaga bagi rimbawan generasi muda kemungkinan banyak yang tidak mengenalnya bahkan generasi sebelumnya kecuali yang pernah bertugas di bidang Perlindungan dan Pengawetan Alam (PPA) atau Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA). Pria pemberani, berjiwa pejuang, nasionalis dan cinta tanah air yang sangat mendalam  ini  seperti tersirat dan tersurat dalam namanya berasal dari Sumatra Utara. Untuk mengungkap secara lengkap tentang dirinya agak mengalami kesulitan disebabkan  tidak dapat diperoleh daftar riwayat hidupnya yang menurut info keluarganya ada di Museum Kehutanan Manggala Wana Bakti tetapi sudah dicari selama  hampir 3 minggu tidak dapat ditemukan. Penulis mencari dari beberapa dokumen yang bisa didapat tetapi datanya hanya sebagian-sebagian yang dapat direkam.

Almarhum   dilahirkan tahun 1923 berpendidikan Middlebare Bosbouw School (MBS) Madiun angkatan terakhir lulus tahun 1943 seangkatan dengan bapak Dr. Soedjarwo Menteri Kehutanan pertama. Mulai bekerja di Kehutanan di Jawa Timur di daerah Malang sewaktu zaman penjajahan Jepang tahun 1943, mengakhiri tugas pengabdiannya di Kehutanan pada tahun 1973 sebagai Kepala Dinas Perlindungan dan Pengawetan Alam Direktorat Pembinaan Hutan Direktorat Jenderal Kehutanan di Bogor kemudian berubah nama jabatannya menjadi Kepala Dinas Suaka Alam. Setelah pensiun tinggal menetap di kota ini hingga akhir hayatnya.

Hampir seluruh karya pengabdiannya di Kehutanan almarhum dengan setianya dan sifat kesederhanaannya menekuni bidang perlindungan dan pengawetan alam dengan pola kerjanya yang rajin, tekun, bertanggungjawab, loyal, menyenangi sepenuh hati tugasnya.

 

BERJUANG MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN RI

Di samping ketenarannya sebagai Rimbawan  yang sangat mencintai tugasnya di bidang Perlindungan dan Pengawetan Alam, almarhum dikenal pula sebagai salah seorang Rimbawan Pejuang yang menjadi salah satu Komandan Batalion Pasukan Wanara (Pasukan Tempur  Kehutanan) yang benar-benar terjun di medan perang melawan tentara Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia selama Perang Besar untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari tahun 1945-1949. Riwayat perjuangannya dapat digambarkan sebagai berikut.

Dengan jiwa dan semangat juang (patriotisme) serta sifat-sifat seperti yang diutarakan di atas maka begitu bangsa Indonesia memproklamasikan Kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 pemuda Walman Sinaga menyiapkan diri untuk ikut berjuang melawan musuh dari mana pun datangnya yang ingin menghancurkan atau menjajah kembali NKRI yang harus dibela sekuat tenaga hingga titik darah penghabisan. Maka di samping melaksanakan tugasnya sebagai pegawai kehutanan beliau mulai ikut bergabung dalam organisasi perjuangan.

Pada bulan November 1945 atas Instruksi Pemerintah Pusat agar di tiap Instansi/Lembaga/Perusahaan Negara dibentuk organisasi Angkatan Muda Perjuangan guna membantu perjuangan tentara resmi Pemerintah dan di Jawatan Kehutanan dibentuk Angkatan Muda Kehutanan baik yang berada di Kantor Pusat maupun di daerah-daerah maka Walman Sinaga langsung bergabung ke Organisasi Perjuangan Angkatan Muda Kehutanan di Malang.

Seperti diketahui tidak lama (sekitar 1,5 bulan) setelah Bangsa Indonesia memproklamasikan  kemerdekaannya pada tanggal  17-8-1945 yang menyatakan berdirinya Negara Republik Indonesia lepas dari penjajahan siapa pun, tentara Belanda yang selama Perang Dunia II bergabung dengan tentara Sekutu dengan keikutsertaannya dalam  Pasukan Sekutu untuk melucuti tawanan perang Jepang di Indonesia yang kalah perang melawan Sekutu; menggunakan kesempatan ini untuk berusaha merebut kembali bekas negara jajahannya (Hindia Belanda= Indonesia) yang sejak tahun 1942 direbut dan dijajah oleh Jepang.

Tentara Sekutu dengan persenjataan lengkap melakukan tugasnya /penyerbuan secara bertahap di beberapa kota besar Indonesia dimulai dari Jakarta pada pertengahan September 1945 selanjutnya diikuti dengan penyerbuan di kota-kota lain seperti Semarang, Surabaya, Medan, Padang, Palembang, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Kedatangan Pasukan Sekutu ini mendapat perlawanan hebat dari Rakyat dan Tentara Republik Indonesia hingga timbul perang besar yang menelan banyak korban di kedua pihak. Yang terbesar di Surabaya, pertempuran yang berlangsung selama hampir sebulan (akhir Oktober-November 1945) menimbulkan korban tewas di pihak Indonesia mencapai 6.000 orang tetapi ada yang menyebut 10.000 orang sedangkan di pihak musuh hanya sekitar 500 orang. Hal ini karena tidak imbangnya kekuatan dan persenjataan Pejuang Indonesia (Rakyat dan TNI) dibanding dengan pihak musuh yang bersenjata lengkap, modern disertai pengalaman tempur yang jauh lebih baik.

Akibatnya perjuangannya terdesak mundur dan bertahan di tempat terakhir di Jawa Barat hingga luar kota Bogor dan Bandung Utara, di Jawa Tengah sampai Ambarawa dan Surabaya sampai Krian. Ibu Kota Negara RI dipindah ke Yogyakarta pada tanggal 06-01-1946. Setelah di Yogya Pemerintah RI selain melakukan konsolidasi pemerintahan secara umum juga berusaha memperkuat sarana perjuangan dengan penertiban angkatan perangnya dan organisasi perjuangan rakyat seperti pembentukan kelaskaran perjuangan dari organisasi politik, organisasi masyarakat dan pelajar serta mahasiswa. Angkatan Muda Perjuangan Kehutanan dibentuk akhir tahun 1945.

Dalam menghadapi musuh Belanda selain dilakukan dengan bertempur secara fisik juga dilakukan dengan cara diplomasi. Untuk ini dipersiapkan Perundingan (Konferensi) dengan Belanda di Linggarjati Cirebon. Tetapi hasil konferensi tidak mencapai kesepakatan karena pihak Belanda lebih banyak memaksa Indonesia untuk menuruti keinginannya seperti Republik Indonesia dan Tentaranya harus tunduk kepada Belanda, Negara RI hanya akan dijadikan Negara Federal tentu saja Indonesia menolaknya.

Akhirya Belanda kecewa dan marah yang diikuti dengan tindakan penyerbuan besar-besaran ke wilayah RI yang oleh Belanda disebut sebagai Aksi Polisional tetapi Indonesia menamakannya sebagai  Agresi Militer I yang berlangsung dari tanggal 21 Juli – 5 Agustus 1947. Walaupun tentara dan para pejuang RI telah berusaha mati-matian menahan serbuan tersebut dengan berbagai cara akhirnya terdesak mundur ke persembunyian di desa-desa dan gunung.

Wilayah Indonesia terdesak hingga Pulau Jawa tinggal separuhnya dan di Sumatra tinggal 2/3 nya lainnya sudah di kuasai Belanda. Karena itu Indonesia harus lebih memperkuat pertahanan dan meningkatkan perjuangannya. Oleh sebab itu pada tanggal 24 Agustus 1947 dibentuk Pasukan Wanara yang siap tempur untuk melakukan perjuangan fisik membantu TNI di berbagai daerah terutama di Jawa Timur dan Jawa Barat dengan sistem perang gerilya.

Setelah Agresi Militer Kedua (1948) kota Malang diduduki Belanda, Komandan Batalion Walman Sinaga yang wilayahnya meliputi Keresidenan Malang, melakukan perang gerilya berpindah-pindah beserta keluarganya dari wilayah Malang Selatan (Dampit, Gondanglegi, Kepanjen, Sumberpucung) dilanjutkan ke Malang Barat (G. Kawi, Batu, Pujon, Ngantang). Dalam menjalani perjuangan   membela tanah air banyak sekali penderitaan lahir batin dan risiko yang dialami baik dalam mempertahankan kehidupannya bersama keluarga maupun dalam melakukan pertempuran yang perlengkapannya/logistiknya sederhana dan serba kekurangan jika dibandingkan dengan pihak lawan. Hanya semangat juang, keberanian dan rela berkorban untuk tanah air yang menyemangati dan tahan uji yang akhirnya bisa berhasil dengan baik mempertahankan Kemerdekaan RI.

 

KEMBALI BEKERJA DI KEHUTANAN

Setelah perang usai dan Negara serta Pemerintah tegak kembali para Rimbawan Pejuang kembali bekerja di instansi asalnya dengan semangat yang tinggi untuk membangun negaranya dengan kekuatan dan keringat sendiri. Dan untuk dapat mengembangkan kariernya selain harus bekerja baik juga harus mengikuti peningkatan pendidikannya melalui sekolah atau pelatihan yang disyaratkan. Entah apa sebabnya atau alasannya almarhum nampaknya tidak berkesempatan melanjutkan ke pendidikan Akademi Kehutanan di Bogor seperti banyak lulusan MBS dan SKMT yang lain hingga sedikit banyak membatasi lompatan jenjang kariernya.

Para bekas pejuang mendapat Penghargaan dari Pemerintah dalam berbagai bentuk Surat/Piagam  Penghargaan. Walman Siaga mendapat beberapa Surat/Piagam Penghargaan seperti berikut ini:

  1. Dari Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia Ir. Soekarno, dianugerahi Tanda Jasa Pahlawan Republik Indonesia atas jasanya dalam Perjuangan Gerilya Membela Kemerdekaan RI.
  2. Dari Menteri Pertahanan RI Ir. Djuanda, dianugerahi Satyalencana Keikutsertaannya Dalam Perang Kemerdekaan Kesatu (Agresi Militer Belanda Pertama 1947).
  3. Dari Menteri Pertahanan RI Ir. Djuanda, dianugerahi Satyalencana Keikutsertaannya dalam Perang Kemerdekaan Kedua (Agresi Militer Belanda Kedua 1948).
  4. Dari Menteri Pertahanan Laksamana Soedomo diberikan Surat Penghargaan atas Pengakuan, Pengesahan dan Penganugerahan Gelar Veteran Pejuang Kemerdekaan RI selama 4 th. 4 bulan.
  5. Dari Direktur Jenderal Kehutanan Dr. Soedjarwo diberikan Penghargaan atas Jasa-jasa dan Pengorbanannya dalam Tugas Mempertahankan Kemerdekaan RI serta Pengamanan Hutan dan Kehutanan pada waktu Revolusi Fisik Tahun1945-1949.

Selain dari itu istri bapak Walman Sinaga, Rustina Damara Pohan Sinaga juga mendapat Penghargaan dari Menteri Pertahanan RI berupa Surat Pengakuan, Pengesahan dan Penganugerahan Gelar Kehormatan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI selama 1 th. 9 bln.

Setelah kembali aktif bekerja di Kehutanan Walman Sinaga menekuni dengan sepenuh hati dan cintanya mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan Perlindungan dan Pengawetan Alam hingga akhir masa tugasnya. Beberapa karya tulis yang beliau tinggalkan di antaranya adalah:

  1. Cagar Alam (Natuur Monument) Tanggala di Sulawesi Utara
  2. Cagar Alam Napobalamo di Muna Sulawesi Selatan
  3. Cagar Alam G. Tangkoko di Batuangus
  4. Cagar Alam Bantar Bolang di Jawa Tengah
  5. Cagar Alam Sepakang di Jawa Tengah
  6. Cagar Alam Pring Ombo I dan Pring Ombo II di Jawa Tengah
  7. Cagar Alam Teluk Baroni di Jawa Tengah
  8. Cagar Alam G. Lokon di Sulawesi
  9. Beberapa Suaka Alam di eks Keresidenan Bogor.

 

PENUTUP

Selama hidupnya bapak Walman Sinaga hidup berkeluarga dengan dianugerahi 8 orang anak.

Demikian sekilas kenangan untuk memberikan  penghormatan dan penghargaan kepada almarhum berkaitan dengan peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *