MEMBANGUN KETAHANAN PANGAN MELALUI PENGEMBANGAN BIOPROSPEKSI PADA DESA PENYANGGA TAMAN NASIONAL UNTUK KEBERLANJUTAN SERAPAN CO2 (Studi Bioprospeksi Taman Nasional G. Ciremai, Kerinci Seblat, dan G. Rinjani)
Oleh: Hadi S. Alikodra 12 Bogor Natur Indonesia (BNGi), Wanda Kuswanda 23 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Asep Hidayat 34 Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Toni Anwar 44 Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Haidir Asyrofi 55 Taman Nasional Gunung Kerinci Seblat (TNKS), Yarman 66 Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Aris Munandar 77 Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan, Yayan Hendrayana 88 Fakultas Kehutanan UNIKU , Yani Silfariani 92 Bogor Natur Indonesia (BNGi), Hadisti Nur Aini 102 Bogor Natur Indonesia (BNGi), Alif Zikri Fadhali 112 Bogor Natur Indonesia (BNGi), Nazar Nauval Barra Lopa 122 Bogor Natur Indonesia (BNGi)
RINGKASAN
Taman Nasional Gunung Ciremai (TNG Ciremai), Taman Nasional Kerinci Seblat (TN Kerinci Seblat), dan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNG Rinjani) merupakan kawasan konservasi dengan keanekaragaman hayati (kehati) yang khas dan langka. Kawasan ini memiliki ekosistem unik serta menyimpan sumber plasma nutfah flora dan fauna penting bagi pengembangan obat-obatan, bahan pangan, kosmetik, dan produk pertanian. Selain itu, ketiga taman nasional (TN) tersebut berfungsi sebagai “tangki air” alam berskala besar. Hutan-hutannya juga berperan penting dalam menyerap emisi CO₂ dan menjaga stabilitas iklim. Namun demikian, desa-desa di sekitar kawasan TN masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan akses pangan, masih adanya kemiskinan, hasil panen rendah, serta minimnya pemahaman mengenai konservasi serta lingkungan hidup. Kondisi ini kerap memicu terjadinya kerusakan hutan dan lahan pertanian. Sementara itu, potensi bioprospeksi yang sangat menjanjikan bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kegiatan penelitian dan pengembangan bioprospeksi pada tahun anggaran 2024 dan 2025 yang didanai melalui proyek FOLU Net Sink NC1 dari BPDLH telah dan sedang dilaksanakan di TNG Ciremai, TN Kerinci Seblat, dan TNG Rinjani. Hasil awal menunjukkan prospek positif, antara lain berupa produk PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria), serta bahan baku untuk obat anti-cancer, anti diabetes dan anti penuaan. Hasil riset tersebut perlu dikembangkan dalam bentuk prototipe dan desain produk sampai komersialisasi sebagai tahap akhir bioprospeksi. Ini sangat penting mendorong peningkatan nilai ekonomi sumber daya alam, ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat dan sekaligus meningkatkan kapasitas ekonomi desa penyangga TN, peningkatan serapan CO₂, serta kontribusi terhadap perekonomian nasional.
A. LATAR BELAKANG
Bioprospeksi adalah kegiatan mencari dan memanfaatkan sumber daya hayati (tumbuhan, hewan, mikroorganisme) secara sistematis untuk tujuan komersial dan penelitian, dengan harapan dapat menghasilkan produk yang bermanfaat bagi manusia, seperti obat-obatan, kosmetik, ataupun produk pertanian (Reid et al., 1993). Bioprospeksi yang berasal dari kata biodiversitas dan prospeksi, merupakan upaya untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi (added value). Dalam Peraturan Menteri LHK Nomor: P.02/MenLHK/Setjen/Kum.1/1/2018 disebutkan bioprospeksi yaitu kegiatan eksplorasi, ekstraksi, dan penapisan sumber daya alam hayati untuk pemanfaatan secara komersial baik dari sumber daya genetik, spesies dan atau biokimia beserta turunannya. Bioprospeksi merupakan percontohan bahwa sumber daya genetik (SDG) dapat tersedia untuk menyejahterakan masyarakat tanpa merusak “modal pokok” di kawasan lindung, di antaranya yang tersimpan di taman-taman nasional, ataupun SDG yang tersimpan di ekosistem masyarakat adat termasuk pengetahuan yang dimiliknya (Dwiartama et al. dalam Alikodra dan Sudarmonowati, 2022). Prinsip kehati-hatian adalah pilihan tepat, sehingga perlu disiapkan berbagai hal, seperti kerangka bisnis dan mekanisme kerja, peraturan nasional dan peraturan daerah hingga peraturan desa, laboratorium, infrastruktur dan teknologi terbangun, aspek legal yang berhubungan dengan kontraktual formal, serta dukungannya terhadap R & D (research and development).
TNG Ciremai, TN Kerinci Seblat, dan TNG Rinjani memiliki potensi obat-obatan bagi kesehatan, sumber pangan, kosmetik ataupun anti penuan, termasuk bagi pengembangan produk pertanian. Namun belum dimanfaatkan secara komersial dengan dukungan peraturan perundangan, mekanisme dan capacity building yang kuat, sehingga berdampak sering terjadi biopiracy dan Indonesia masih terus mengimpor obat-obatan dari berbagai negara. Menurut catatan di Kementerian LHK, terdapat ratusan SDG yang sudah dimanfaatkan oleh masyarakat lokal. Mulai tahun 2024 hingga tahun 2025 melalui dukungan pendanaan FOLU Net Sink 2030 dilakukan penelitian yang lebih mendalam untuk pengembangan bioprospeksi oleh Tim Bogor Natur Indonesia (BNGi) bekerja sama dengan Balai Taman TNG Ciremai, TN Kerinci Seblat, dan TNG Rinjani, BRIN, Pemerintahan Daerah Kabupaten Kuningan, IPB University, dan UNIKU (Universitas Kuningan) (BNGi, 2025).
Ketiga TN tersebut di atas juga merupakan daerah tangkapan air yang menjadi sumber penghidupan Masyarakat di wilayah Kabupaten ataupun desa sekitarnya yang telah dimanfaatkan bagi pertanian, pariwisata, industri, permukiman, hotel dan restoran. TNG Ciremai merupakan sumber air utama bagi kawasan Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, sebagian Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu. Terdapat beberapa sumber air utama di TNGC, yaitu mata air dan sungai yang melintasi kawasan TNG Ciremai (BTNGC, 2020). TN Kerinci Seblat sumber air utama bagi kawasan Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Bengkulu. Sumber air utama yang berada di kawasan TNKS adalah sungai besar dan kecil yang hulunya berada di kawasan TN Kerinci Seblat (Silalahi & Harahap, 2016). TNG Rinjani merupakan sumber air utama bagi sebagian besar wilayah Pulau Lombok, terutama wilayah-wilayah di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Utara. Terdapat beberapa sumber air utama yang berada pada kawasan TNG Rinjani, yaitu: puluhan mata air, hulu sungai besar dan kecil, dan danau Segara Anakan (Lestari & Aryadi, 2020). Di samping itu, ketiga TN tersebut memiliki spesies satwa dan tumbuhan khas dan langka yang wajib dilindungi dan dilestarikan karena kekhasan, kelangkaan, bahkan tingkat endemisme di masing-masing TN. Misalnya Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di TNG Ciremai, Taksus (Taxus sumatrana) dan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di TN Kerinci Seblat, ekosistem segara anak dan Jamur Morel (Morchella rinjaniensis) di TNG Rinjani.
Masing-masing TN juga memiliki kekhasan ekosistem dan lanskap yang sangat mendukung pengembangan bioprospeksi dan pariwisata nusantara dan manca negara. Beberapa ekosistem khas yang menjadi daya tarik wisata adalah Segara Anak dan Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep di TNG Rinjani, Kawah Ganda, Kawah Burung, Mata Air Cibulan dan Curug Putri di TNG Ciremai, serta Air Terjun Telun Berasap dan Danau Gunung Tujuh di TN Kerinci Seblat. Berbagai daya tarik wisata ini jika dikelola dengan tepat maka secara nasional akan tumbuh menjadi pusat-pusat wilayah pembangunan ekonomi yang sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan ekonomi nasional, serta berpotensi menjadi kekuatan ekonomi dan sekaligus meningkatkan nilai indeks kebahagiaan desa-desa penyangga TN.
Desa penyangga TN adalah desa-desa yang berada di sekitar kawasan TN yang berperan penting dalam menjaga kelestarian kehati. Melalui program pengembangan bioprospeksi yang dilaksanakan oleh BNGi di tahun 2024-2025 telah berhasil dibangun demplot dan kelompok tani bioprospeksi, di TNG Ciremai terdapat empat desa penyangga yang menjadi demplot kegiatan pengembangan bioprospeksi (Desa Bandorasa Kulon, Desa Pajambon, Desa Cikaracak dan Desa Argamukti), di TN Kerinci Seblat terdapat tiga desa penyangga (Desa Nagari Lolo, Desa Telun Berasap dan Desa Giri Mulyo), dan di TNG Rinjani satu desa penyangga (Tanak Tioq). Pembangunan demplot ini diharapkan menjadi sumber ekonomi masyarakat ke depannya dan masyarakat desa penyangga akan menjadi garda terdepan dalam upaya konservasi TN, baik secara langsung maupun tidak langsung. Fungsi desa penyangga adalah melindung TN dari berbagai ancaman dan gangguan, seperti perambahan hutan, perburuan satwa liar, kebakaran hutan, bencana erosi dan tanah longsor, dan dari semua praktik pemanfaatan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan.
Masyarakat desa terlibat dalam berbagai kegiatan perlindungan hutan, pemulihan ekosistem, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan, seperti yang dilakukan oleh masyarakat di Segara Anak di TNG Rinjani, Kawah Ganda dan Kawah Burung di TNG Ciremai, serta Trekking Puncak Merapi dan Gunung Tujuh di TN Kerinci Seblat. Namun, Masyarakat desa-desa penyangga TN seringkali menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan, kondisi kesejahteraan masyarakatnya belum merata bahkan banyak keluarga yang relatif miskin (Data BPS 2024: Persentase Penduduk Miskin (P0) Menurut Provinsi dan Daerah: Sumatra Barat: 6,79%; Jawa Barat: 8,85%, Nusa Tenggara Barat: 12,21%).
Dampak dari kondisi terebut membuat sebagian dari mereka seringkali melakukan kegiatan ilegal, seperti merusak kehati TN, merusak hutan, berburu satwa liar, mengambil madu, hingga membuka hutan, seperti yang dilakukan masyarakat desa penyangga di Kabupaten Kuningan sebelum kawasannya ditetapkan sebagai TN. Kerusakan hutan ini berakibat menurunnya kemampuan penyerapan CO2. Sehingga diperlukan penguatan ketahanan pangan dan kecukupan kesehatan, serta ekonomi yang baik agar mereka membantu program pengamanan dan pemulihan ekosistem dan mencegah serta memadamkan kebakaran hutan. Kegiatan pemulihan ekosistem hutan yang dilaksanakan di TNG Ciremai dapat dilihat pada Gambar 1.
![]()
Gambar 1. Kegiatan pemulihan ekosistem hutan dengan penanaman pohon kayu keras (a) Demplot Kuningan dan (b) Demplot Majalengka
B. STRATEGI MEMBANGUN KETAHANAN PANGAN DESA PENYANGGA
Strategi adalah taktik untuk mencapai tujuan, sehingga proses kegiatannya melibatkan penggunaan sumber daya termasuk sumber daya manusia (SDM) dan pranata sosial/ekonomi yang ada dengan cara yang efektif dan efisien. Dalam konteks yang lebih luas, strategi juga bisa berarti mencakup seni atau ilmu dalam mengelola sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ukuran ketahanan pangan berkelanjutan desa penyangga TN adalah mencakup kepastian ketersediaan, keterjangkauan, kemanfaatan dan aksesibilitas terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi tinggi bagi seluruh masyarakat, baik saat ini maupun di masa depan, dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan secara sosial, ekonomi, dan teknis.
Tujuan pembangunan desa penyangga TN adalah untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan, sehingga dapat berkontribusi pada peningkatan indeks kebahagiaan masyarakat. Desa-desa penyangga tersebut secara bertahap dibina dan dikembangkan agar mampu berperan aktif dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam mendukung pencapaian tujuan seperti mengakhiri kelaparan, meningkatkan ketahanan pangan dan gizi, serta mendorong praktik pertanian berkelanjutan sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2. Secara umum, kondisi sosial ekonomi masyarakat di beberapa desa penyangga TN menunjukkan tingkat kecukupan yang relatif baik dalam aspek pangan, kesehatan, dan pendidikan.
Gambar 2. Diagram Alir Program Bioprospeksi TN dalam Kerangka Mencapai Indeks Kebahagiaan
Berdasarkan uraian di atas, strategi membangun ketahanan pangan masyarakat desa penyangga TN adalah rancangan tindakan untuk mencapai tujuan meningkatkan indeks kebahagiaan, mencakup lima hal, yaitu:
- Mengembangkan komersialisasi jasa lingkungan (bioprospeksi, wisata dan carbon trade), sehingga terbangun kekuatan ekonomi desa, kesehatan, dan pertanian;
- Membangun sarana dan prasarana pertanian, pengairan, kesehatan, termasuk pendidikan, penelitian, dan pengembangan;
- Membangun kelompok tani termasuk membangun koperasi desa, meningkatkan kapasitas organisasi dan kapasitas SDM (struktur, tupoksi, dan training ataupun studi banding bahkan ikut jenjang pendidikan program diploma dan sarjana, dan kapasitas bisnis, teknik budidaya, penyiapan/pengolahan lahan, pengepakan, dan pemasaran;
- Melindungi dan melestarikan kehati TN sebagai modal pokok, baik ekosistem, jenis, maupun genetik, termasuk lanskap, kawah, air terjun; dan
- Meningkatkan kapasitas jejaring kerja Balai TN, Pemerintah Daerah, Pengusaha Filantrofi, LSM/Masyarakat, dan Media Massa.
Secara keseluruhan pembangunan daerah penyangga adalah untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama tujuan mengakhiri kelaparan dan kemiskinan peningkatan ketahanan pangan dan peningkatan gizi, dengan cara mendorong tercapainya pertanian berkelanjutan. Beberapa tujuan spesifik dari pembangunan ketahanan pangan antara lain:
- Meningkatkan ketersediaan pangan: Memastikan bahwa ada cukup pasokan pangan yang dihasilkan secara lokal dan dari sumber domestik untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk. Pemenuhan kebutuhan ini dapat dicukupi dari kegiatan pertanian di luar kawasan dengan berbagai jenis komoditas pertanian baik hortikultura maupun komoditas tanaman buah. Selain itu pemenuhan kebutuhan pangan bisa dilakukan di dalam kawasan dengan melakukan penanaman tanaman kayu keras yang menghasilkan buah yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, seperti aren;
- Memastikan keterjangkauan pangan: Menjadikan harga pangan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berpenghasilan rendah;
- Meningkatkan aksesibilitas pangan: Memastikan bahwa semua orang, termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil atau rentan, memiliki akses terhadap pangan yang cukup dan bergizi;
- Mendorong diversifikasi pangan: Meningkatkan konsumsi pangan yang beragam dan bergizi seimbang, berbasis pada potensi sumber daya lokal, untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas;
- Meningkatkan keamanan pangan: Menjamin bahwa pangan yang diproduksi dan dikonsumsi aman dan bebas dari kontaminasi, serta memenuhi standar mutu yang berlaku;
- Meningkatkan kesejahteraan petani: Memberikan dukungan dan insentif kepada petani agar dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan mereka secara berkelanjutan;
- Melindungi lingkungan: Menerapkan praktik pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, yang tidak merusak sumber daya alam seperti tanah dan air;
- Memperkuat sistem pangan: Mengembangkan sistem pangan yang tangguh dan efisien, mulai dari produksi hingga distribusi, untuk mengantisipasi berbagai tantangan seperti perubahan iklim dan bencana alam;
- Mendukung pertumbuhan dan stabilitas sosial-ekonomi: Menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha di sektor pertanian dan pangan, meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi kesenjangan sosial dan mendorong pembangunan wilayah perdesaan; dan
- Menjamin keberlanjutan produksi pangan melalui pengembangan pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan serta meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan, air, dan input pertanian.
Untuk mendorong peningkatan ketahanan pangan di daerah pedesaan BNGi telah membuat dan memberdayakan demplot kelompok tani, dengan rincian seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Daftar Demplot Kelompok Tani dan Luasannya di Setiap TN
| No. | Taman Nasional | Kelompok Tani | Resort | Luas Demplot (ha) | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
1 | Gunung Ciremai | Bakti Mandiri | Kuningan | 1 | ||||
| Seda Pasir | Kuningan | 1 | ||||||
| Lembah Ciremai | Majalengka | 1 | ||||||
| Mekar Tanjung | Majalengka | 1 | ||||||
2 | Gunung Kerinci | Telun Berasap | Kerinci | 1.5 | ||||
| Nagari Lolo | Solok Selatan | 1.5 | ||||||
| Girih Mulyo | Kerinci | 1 | ||||||
| 3 | Gunung Rinjani | Tanak Tioq | Torean | 0.25 |
Kegiatan penelitian membangun bioprospeksi dalam rangka proses menuju ketahanan pangan desa penyangga TNG Ciremai, TN Kerinci Seblat, dan TNG Rinjani meliputi enam komponen sebagai berikut:
1. Pengembangan Bioprospeksi
Ketiga TN, TNG Ciremai, TN Kerinci Seblat, dan TNG Rinjani, memiliki potensi untuk menjadi model pengembangan ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat desa penyangga, serta berkontribusi pada pengentasan kemiskinan. Hal ini dapat dicapai oleh ketiga Balai TN apabila pembangunan bioprospeksi dirancang, dibangun, dan dikembangkan secara tepat, terintegrasi, dan berkelanjutan. Beberapa potensi bioprospeksi yang layak untuk dikembangkan antara lain:
1.1. Mikroba Lysinibacillus fusiformis dari TNG Ciremai, dapat meningkatkan pertumbuhan, menyehatkan tanaman, dan meningkatkan produktivitas tanaman pertanian. Merupakan temuan pertama di Indonesia dan di dunia, bermanfaat untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan pestisida;
1.2. Jamur morel (Morchella rinjaniensis), sebagai jamur yang dapat dikonsumsi, hidangan mewah dengan cita rasa yang khas, memiliki harga yang mahal dan super premium. Jamur ini kaya akan nutrisi, polisakarida, serat, vitamin dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh, seperti anti-oksidan, anti-inflamasi, menjaga fungsi imun dan pencernaan; dan
1.3. Taxus sumatrana atau cemara Sumatera, berkhasiat untuk menghambat pertumbuhan sel cancer karena mengandung senyawa anti-cancer, anti diabetes, anti oksidan ditemukan di TN Kerinci Seblat.
2. Pengembangan Pertanian Berkelanjutan
Strategi prioritas pembangunan desa penyangga TN yaitu mengoptimalkan peran lembaga desa dengan memanfaatkan stakeholders dalam memberikan pengetahuan pertanian, konservasi, lingkungan hidup, etika dan moral, serta aspek hukum. Tujuan utama membangun ketahanan pangan dalam kerangka pertanian berkelanjutan yaitu memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk semua orang, sekarang dan di masa depan, dengan cara yang ramah lingkungan dan adil. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, Dinas Lingkungan Hidup, Universitas setempat, media massa dan LSM telah bekerja sama dengan baik bagi tercapainya ketahanan pangan dan SDGs.
Upaya peningkatan ketahanan pangan masyarakat desa penyangga TN meliputi penguatan produksi pangan lokal, sistem logistik, penurunan tingkat kerawanan pangan, serta peningkatan kesadaran gizi. Di desa penyangga TNG Ciremai, komoditas hortikultura secara rutin memasok pasar sayur di wilayah Cirebon. Secara khusus, Desa Bandorasa Kulon TNG Ciremai dikenal sebagai sentra peternakan kambing. Desa-desa penyangga TN Kerinci Seblat dikenal sebagai penghasil kayu manis dengan kualitas tinggi. Sementara itu di wilayah penyangga TNG Rinjani, terkenal dengan produksi buah-buahan (durian, alpukat dan anggur), tanaman holtikultura dan ternak sapi Bali. Penerapan praktik pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan, seperti pengurangan penggunaan pupuk kimia, sistem terasering, dan pembuatan guludan, diperlukan untuk meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan.
3. Peningkatan Diversifikasi Pangan
Diversifikasi pangan di desa penyangga menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis komoditas. Diversifikasi pangan adalah upaya untuk memperluas jenis makanan yang dikonsumsi masyarakat menjadi tidak hanya bergantung pada satu jenis makanan pokok seperti beras dan sagu. Tujuannya adalah untuk meningkatkan ketersediaan, akses, konsumsi, dan bioefikasi (kemampuan organisme, terutama tumbuhan, untuk menyerap, mengubah, dan memanfaatkan suatu zat) pangan yang kaya mikronutrien, serta mengurangi ketergantungan pada satu jenis makanan pokok. Diversifikasi pangan melibatkan berbagai intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan, akses, konsumsi, dan bioefikasi pangan kaya mikronutrien. Ini berarti mendorong masyarakat untuk mengonsumsi berbagai jenis makanan, termasuk pangan lokal yang beragam, bukan hanya bergantung pada satu jenis makanan pokok seperti beras.
Salah satu contoh diversifikasi pangan adalah dengan mengonsumsi umbi-umbian (singkong, ubi jalar, talas) sebagai pengganti nasi. Diversifikasi pangan dapat mendorong pemanfaatan potensi pangan lokal yang beragam, seperti sagu, jagung, singkong, dan ubi jalar, yang memiliki nilai gizi tinggi. Pemanfaatan potensi lokal sebagai bahan pangan alternatif merupakan bentuk adaptasi masyarakat terhadap keterbatasan akses pangan pokok, seperti dengan cara: mengonsumsi umbi-umbian (singkong, ubi jalar, talas) sebagai pengganti nasi, mengolah jagung, sagu, atau sorgum menjadi berbagai produk makanan alternatif nasi, mengonsumsi berbagai jenis ikan, sayuran, dan buah-buahan lokal dan mengembangkan produk olahan pangan lokal menjadi produk yang menarik dan mudah dikonsumsi.
Diversifikasi pangan dapat mengurangi risiko jika terjadi gagal panen pada satu jenis tanaman tertentu, karena ketersediaan pangan menjadi lebih beragam. Pola makan yang beragam dapat membantu mencegah berbagai penyakit terkait kekurangan gizi dan mendukung kesehatan yang lebih baik. Dengan mengonsumsi berbagai jenis makanan, kebutuhan gizi masyarakat dapat terpenuhi secara lebih baik, termasuk mikronutrien yang penting untuk kesehatan. Diversifikasi pangan dapat mengurangi ketergantungan pada impor pangan dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
4. Pengembangan Sistem Penyimpanan Pangan dan Sistem Koperasi Desa
Pada masa lampau, banyak desa di Indonesia memiliki lumbung padi tradisional yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pengeringan padi pascapanen. Hingga kini, masyarakat adat Badui di Banten masih mempertahankan praktik penyimpanan tersebut sebagai bagian dari kearifan lokal dalam sistem ketahanan pangan komunitas. Sesuai dengan kemajuan teknologi maka lumbung-lumbung ini sudah menjadi sistem “ATM” masyarakat desa, mungkin sebaiknya dikelola dalam sistem koperasi UMKM. Sistem penyimpanan hasil pertanian di desa kawasan penyangga TNG Ciremai, TNG Kerinci Seblat, dan TNG Rinjani umumnya melibatkan kombinasi metode tradisional dan modern untuk menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen. Hasil panen sayuran dari Desa Penyangga TNG Ciremai langsung dijual ke pasar sayur Cirebon. Hasil panen sayuran di Desa Penyangga TNG Kerinci Seblat langsung dijual ke Pasar Tanjung Bajure di Sungai Penuh dan Pasar Raya Padang. Hasil panen sayuran di Desa Penyangga TNG Rinjani dijual langsung di pasar Sembalun, Bayan, dan Senaru.
Lumbung padi dan gudang sederhana masih banyak digunakan, namun inovasi untuk membuat lumbung atau gudang penyimpanan hasil panen sayuran seperti gudang berventilasi, sistem pendingin, dan kemasan yang dimodifikasi harus mulai diterapkan untuk memperpanjang umur simpan dan mengurangi kerugian pasca panen. Sehingga lumbung atau gudang tersebut dapat berfungsi sebagai bangunan sistem penyimpanan pangan yang efektif untuk mengurangi kehilangan pangan dan meningkatkan ketersediaan pangan yang dikelola dalam sistem koperasi.
5. Peningkatan Kapasitas Masyarakat
Meningkatkan kapasitas masyarakat desa penyangga dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk peningkatan kapasitas ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan infrastruktur, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas masyarakat desa penyangga TN dalam mengelola sumber daya alam dan mengembangkan usaha pertanian berkelanjutan sebagai proses membangun bagi terwujudnya desa penyangga berkelanjutan.
Untuk meningkatkan kapasitas petani desa, beberapa strategi dapat diterapkan, termasuk peningkatan fungsi kelompok tani, akses informasi dan teknologi, serta pelatihan dan pendidikan. Selain itu, penting juga untuk memperkuat kelembagaan petani, manajemen pengetahuan, dan akses ke pasar serta permodalan. Dalam rangka mewujudkan pembangunan desa yang inklusif dan berkelanjutan, penguatan kelembagaan dan kapasitas masyarakat menjadi hal yang esensial. Upaya tersebut meliputi: pembangunan koperasi desa, peningkatan kapasitas organisasi dan sumber daya manusia (meliputi struktur, tugas dan fungsi, pelatihan, studi banding, hingga akses ke jenjang pendidikan diploma dan sarjana), serta penguatan kapasitas bisnis masyarakat desa, termasuk dalam aspek teknik budidaya, pengolahan lahan, pengepakan, dan pemasaran hasil pertanian.
C. MANFAAT KETAHANAN PANGAN DESA PENYENGGA TAMAN NASIONAL
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa desa penyangga diperkuat dengan semakin mapannya ketahanan pangan, dicirikan dengan terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga, baik secara kuantitas maupun kualitas, serta aman, merata, dan terjangkau. Hal ini mencakup ketersediaan pangan yang cukup, akses yang mudah, serta pemanfaatan pangan yang optimal untuk mendukung kehidupan yang sehat dan produktif. Saat ini dikenal indeks kebahagiaan, yaitu ukuran subjektif bagi kesejahteraan masyarakat berdasarkan tingkat kebahagiaan yang dirasakan. Secara umum, indeks ini mengukur kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup individu. Hal ini mulai dirasakan oleh kelompok tani baik di TNG Ciremai maupun TN Kerinci Seblat, TNG Rinjani, di mana masyarakat pada umumnya merasa aman dan bahagia (sehat, cukup pangan, dan cukup energi).
Indeks kebahagiaan adalah parameter untuk mengukur kesejahteraan masyarakat, bukan hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga dari aspek psikologis dan sosial. Oleh karenanya indeks kebahagiaan masyarakat desa penyangga diharapkan dapat memberikan gambaran tentang kesejahteraan masyarakat dan menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan pembangunan, termasuk dampaknya terhadap TN. Kegiatan yang dilakukan pada masyarakat desa penyangga untuk tahun anggaran 2024-2025 baru tahap pengenalan dengan membangun demplot kelompok-kelompok tani, untuk selanjutnya dalam tahun anggaran 2026-2028 sedang dirancang pengembangan dengan pendekatan yang lebih luas yaitu unit desa, sehingga visi membangun daerah penyangga berkelanjutan adalah meningkatnya indeks kebahagiaan desa.
Sesuai dengan kondisi geografinya maka kelompok tani di desa penyangga TNG Ciremai, TN Kerinci Seblat, dan TNG Rinjani bertani holtikultur dan tanaman buah yaitu alpukat. Selain itu di TNG Ciremai, TN Kerinci Seblat, serta TNG Rinjani telah berkembang wisata outdoor dalam bentuk aktivitas pendakian, bahkan untuk TNG Rinjani sudah menjadi geopark dan destinasi wisata mancanegara. Masyarakat di tiga kawasan TN tetap terlindungi dengan pola bertani diversifikasi pangan, yaitu untuk meningkatkan ketahanan pangan, memenuhi kebutuhan gizi, mendukung kemandirian pangan, meningkatkan kesehatan, dan memanfaatkan potensi pangan lokal. Ciri khas dari ketiga TN ini terus dikembangkan untuk menarik pengunjung baik nusantara maupun mancanegara.
Tabel 2. Jenis Tanaman Hortikultura di Desa Penyangga Ketiga Taman Nasional
| No. | Taman Nasional/Desa | Jenis Komoditas | Rata-rata Hasil Panen (ton/ha/tahun) |
|---|---|---|---|
1 | Gunung Ciremai: Cikaracak, Argamukti, Bandorasa Kulon, Pajambon | Bawang Merah | ± 7,86 |
| Ubi Putih | ± 20 | ||
| Tomat | ± 133,91 | ||
| Cabai | ± 6,07 | ||
| Kol | ± 93,57 | ||
| Wortel | ± 133,21 | ||
2 | Gunung Kerinci: Lolo, Telun Berasap, Giri Mulyo | Kopi | ± 1,7 |
| Cabai | ± 12,8 | ||
| Bawang Merah | ± 2,64 | ||
3 | Gunung Rinjani: Desa Torean*) | Tomat | 57,0 |
| Wortel | 45,5 | ||
| Bawang putih | 4,3 | ||
| Bawang merah | 3,9 | ||
| Cabai besar | 3,8 |
*) Sumber BPS, 2024. Kecamatan Sembalum dalam Angka, diambil 5 komiditi dengan produksi terbanyak
Pentingnya diversifikasi pangan di desa penyangga TN didasarkan pada potensi pangan lokal yang dimilikinya. Di TNG Ciremai, terdapat potensi komoditas umbi-umbian (ketela pohon, ketela rambat), jagung, dan sayuran yang sangat beragam, namun pada umumnya sumber pangan utama masyarakat umumnya masih didominasi oleh beras. TN Kerinci Seblat memiliki potensi pengembangan pertanian pada komoditas hortikultura, kopi, kayu manis, dan cabai yang berkualitas. Sementara itu, di TNG Rinjani terdapat beberapa jenis potensi komoditas seperti kopi, jagung, pisang dan tanaman buah lainnya seperti mangga dan alpukat. Diversifikasi pangan menjadi sangat penting untuk:
- Mengurangi ketergantungan pada beras: Diversifikasi pangan dapat mengurangi ketergantungan pada beras sebagai makanan pokok, sehingga cadangan beras nasional dapat lebih terjaga;
- Meningkatkan kesehatan masyarakat: Diversifikasi pangan dapat membantu masyarakat mendapatkan nutrisi yang lebih lengkap dan seimbang;
- Mendukung ekonomi lokal: Pengembangan pangan lokal dapat mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah (UMKM) di sektor pangan; dan
- Memperkuat ketahanan pangan nasional: Diversifikasi pangan merupakan salah satu pilar penting dalam mencapai ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.
Pencapaian diversifikasi pangan akan memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan yang berdampak pada peningkatan kesehatan, kesejahteraan, dan kemandirian masyarakat; menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang; serta turut melindungi TNG Ciremai, TNG Rinjani, dan TN Kerinci Seblat. Kelompok tani yang telah dibina melalui kerja sama antara BNGi dan balai TN pada demplot di tiga TN dengan dukungan anggaran tahun 2024/2025 perlu dikembangkan menjadi kelompok tani desa penyangga berkelanjutan. Upaya ini dapat dilakukan melalui pengembangan bioprospeksi, peningkatan kapasitas masyarakat desa melalui penguatan kelembagaan kelompok tani, serta pembentukan koperasi desa. Tujuan utamanya adalah mengurangi perambahan hutan, sehingga dapat menekan potensi kerusakan hutan dan meningkatkan serapan emisi CO₂.
- Pengembangan Bioprospeksi
Pengembangan bioprospeksi merupakan salah satu cara terbaik dalam meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat desa melalui pertanian sehat berkelanjutan. Kegiatan pengembangan bioprospeksi dapat memenuhi ketiga kriteria dari indeks kebahagiaan yang diturunkan dari SDGs yaitu masyarakat bisa tercukupi pangan, kesehatan, dan kebutuhan energi dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga parameter tersebut sudah dikonfirmasi langsung oleh para petani binaan di demplot yang ada di TNG Ciremai, hal ini disampaikan langsung oleh beberapa petani saat dilakukan monitoring dan evaluasi oleh tim FOLU dan tim BPDLH. Hasil kegiatan pengembangan bioprospeksi PGPR C71 di TNG Ciremai menunjukkan keberhasilan yang baik karena para petani saat ini sudah mengurangi penggunaan pupuk kimia sampai dengan 80% sehingga biaya dari proses pertanian yang dilakukan menjadi lebih rendah dan hasil panen yang didapatkan menunjukkan peningkatan sebesar 30% dari perhitungan yang dilakukan oleh masyarakat. Pengembangan lanjutan dari kegiatan bioprospeksi kolaborasi antara BNGi dan TNG Ciremai saat ini sedang melakukan penelitian dan pengujian kandidat baru PGPR dari tanaman kaliandra dan biopestisida dari tanaman kirinyuh dan kipahit yang dikerjakan di laboratorium PT SRI saat ini sampai tahap uji evektifitas lapangan.
Pengembangan budi daya taksus di demplot yang berada di TN Kerinci Seblat dilakukan dengan kegiatan penanaman yang dilakukan secara tumpang sari dengan tanaman hortikultura dan kehutanan dan menggunakan pupuk organik hayati dan PGPR. Perkembangan tanaman taksus yang dilakukan menunjukkan pertumbuhan tanaman yang baik (keberhasilan pertumbuhan taksus mencapai 98%) dan akan terus dilakukan perawatan secara berkala. Kelompok tani binaan telah memiliki harapan tinggi akan sumber pendapatan baru dengan nilai ekonomi tinggi dari hasil panen taksus, tersedianya sumber obat-obatan secara mandiri dan telah terbantunya unit usaha untuk pemasaran hasil panen yang lebih baik melalui pembentukan koperasi produsen untuk pemasaran hasil panen taksus. Mereka juga telah mampu membuat Pupuk Organik Hayati yang merupakan mikroba pemacu pertumbuhan tanaman (PGPR) dan pengendali terhadap serangan hama dan penyakit sehingga dapat meningkatkan hasil panen tanaman palawija mencapai 30-40% setiap musimnya dan tentunya dpat mengurangi pemnggunaan pupuk kimia yang mencapai 40-50% dan hal tersebut juga sudah disampaikan oleh Utami et al. (2017). Hingga saat ini jumlah demplot dari pengembangan taksus sudah mencampai tiga demplot pada tiga desa penyangga, dimana demplot ketiga baru mulai dilakukan penanaman taksus pada bulan Juli 2025. Perkembangan tanaman taksus dapat dilihat pada Gambar 3 (a).
Gambar 3. (a) Perkembangan Pertumbuhan Tanaman Taksus dan (b) Perkembangan Pertumbuhan Jamur Morel di Kubung
Perkembangan kegiatan bioprospeksi yang dilakukan di TNGR Rinjani masih dalam tahap penelitian lebih lanjut untuk kegiatan budidaya jamur morel, di mana berdasarkan analisis genetik yang dilakukan sudah dapat dipastikan bahwa jamur morel TNG Rinjani merupakan jamur morel jenis baru sekaligus jamur morel tropis pertama di dunia dan telah diberi nama Morchella rinjaniensis (Retnowati et al., 2025). Selain itu berdasarkan penelitian karaketristik tempat tumbuh dan uji coba budidaya jamur Morel Rinjani (Morchella rinjaniensis) secara in-situ, juga sudah didapatkan data faktor-faktor lingkungan yang merupakan pendukung pertumbuhan jamur morel. Hasil dari penelitian ini akan menjadi dasar dalam pengembangan budidaya jamur morel yang nantinya diharapkan bisa diterapkan di masyarakat. Kegiatan budidaya jamur morel dapat dilihat pada Gambar 3 (b).
- Membangun Kelompok Tani Kapasitas Masyarakat Desa
Pengembangan bioprospeksi dari setiap TN tentunya akan sampai pada tahap komersialisasi yang akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dengan cangkupan yang lebih luas, namun saat ini kegiatan bioprospeksi masih dalam lingkup demplot yang harapannya bisa dikembangkan menjadi desa percontohan. Maka dari itu perlu dilakukan dorongan kepada kelompok tani baik dalam hal input pengetahuan, permodalan, akses pasar, dan teknologi yang memadai dalam cangkupan desa sehingga tujuan dari kegiatan pengembangan bioprospeksi yaitu masyarakat yang cukup pangan, kesehatan, dan energi bisa tercapai pada jumlah masyarakat yang lebih luas. Tentunya dalam pengembangan ini terus dilakukan pembinaan dan capacity building dalam bentuk pelatihan dan studi banding bagi kelompok tani. Kegiatan ini dilakukan di ketiga demplot di TNG Ciremai, TN Kerinci Seblat, dan TNG Rinjani pada setiap kelompok tani. Kelompok-kelompok tani yang terbentuk dan mendapatkan pembinaan ini nantinya akan menjadi pelopor dan menjadi kelompok tani percontohan untuk melakukan pengembangan desa berkelanjutan di desa penyangga TN di seluruh Indonesia. Peningkatan kapasitas yang telah dilakukan, contohnya seperti di TN Kerinci Seblat di antaranya adalah pelatihan pembuatan bibit taksus secara vegetatif, budidaya taksus dan pembuatan pupuk organik hayati (POH) sampai masyarakat kelompok tani bisa melakukannya secara mandiri.
- Mengembangkan Koperasi
Kelompok tani yang sudah terbentuk di TNG Ciremai dan TN Kerinci seblat akan memperkuat kegiatan bioprospeksi. Perlu dilakukan pendampingan hingga koperasi yang dibentuk bisa berjalan dengan baik dan mandiri. Dalam pemasaran hasil dari kegiatan bioprospeksi, koperasi yang dibentuk perlu didampingi dalam pengurusan izin tangkar dan izin edar. Selain itu diperlukan wadah yang bisa menjamin dalam hal penyaluran produk hasil bioprospeksi kepada masyarakat mulai dari penyediaan bahan baku, proses pengemasan, serta proses pendistribusian dengan harga jual yang baik.
![]()
Gambar 4. (a) Kelompok tani Nagari Lolo dan (b) Kelompok tani Desa Telun Berasap
Pengembangan koperasi yang dilakukan nantinya akan bertahap hingga proses supply chain yang dilakukan dapat berjalan dengan lancar. Selain itu perlu dibentuk koperasi produsen yang akan menjadi wadah untuk menampung hasil budi daya dari pengembangan bioprospeksi, yaitu: hasil perbanyakan PGPR dan biopestisida serta hasil panen tanaman holtikultura di TNG Ciremai, hasil budi daya taksus di TN Kerinci Seblat dan jamur morel di TNG Rinjani untuk disalurkan ke masyarakat yang lebih luas. Koperasi yang dibentuk di desa penyangga akan menjadi sebuah unit bisnis produksi bahan baku berupa PGPR dan biopestisida, taksus, serta jamur morel kering yang bisa meningkatkan pendapatan dari para petani. Pembuatan koperasi ini sudah mulai dilakukan di TNG Kerinci Seblat dengan dua lokasi yaitu di Nagari Lolo dengan nama Koperasi Maju Bersama Taksus (KOMBAT) dan di Desa Telun Berasap dengan nama Koperasi Kelompok Pelestari Taksus sumatrana (KOPASUSS). Kedua koperasi ini telah memiliki akta pendirian koperasi dan telah terdaftar di Kementerian Hukum dengan jenis Koperasi Produsen.
- Mengurangi Kerusakan Hutan dan Meningkatkan Penyerapan CO2
Peningkatan ketahanan pangan di desa penyangga TN dapat mengurangi tekanan terhadap hutan, karena masyarakat tidak lagi bergantung pada aktivitas perambahan. Dengan demikian, kelestarian hutan terjaga dan kemampuan hutan dalam menyerap emisi CO₂ meningkat, yang berdampak positif terhadap mitigasi perubahan iklim. Luas hutan TNG Ciremai, TN Kerinci Seblat, dan TNG Rinjani masing-masing adalah 14.841,30 ha, 1.375.349,867 ha, dan 41.330 ha memiliki peran penting dalam menyerap emisi CO2. Perkiraan masing-masing hutan TN secara potensial dapat menyerap ± 8,5 juta ton karbon di TNG Ciremai (potensi simpanan karbon menurut Hendrayana dan Karyaningsih (2020) yaitu 100-250 ton C/ha); ±1,02 miliar ton karbon di TN Kerinci Seblat (potensi simpanan karbon menurut Simarmata (2015) yaitu 150-250 ton C/ha), dan ± 24,3 ton/ha karbon di TNG Rinjani (potensi simpanan karbon menurut Subagio (2015) yaitu 120-200 ton C/ha).
Oleh karena itu, kelestarian kawasan TN nasional harus dijaga. Selain berperan penting dalam menyerap karbon, hutan di TNG Ciremai, TN Kerinci Seblat, dan TNG Rinjani saat ini masih menghadapi ancaman utama berupa kebakaran hutan dan lahan, pemburuan liar dan penebangan liar (illegal logging) juga masih terjadi. Desa-desa penyangga TN diharapkan dapat berperan aktif dalam upaya pemadaman jika terjadi kebakaran hutan dan juga berperan aktif dalam menanggulangi perburuan dan penebangan liar. Kelestarian hutan TN juga memiliki nilai ekonomi melalui skema kredit karbon, yaitu izin atau sertifikat yang mewakili pengurangan atau penghapusan emisi gas rumah kaca (GRK) dari atmosfer. Satu kredit karbon umumnya setara dengan satu ton CO₂ yang berhasil dikurangi atau dihilangkan.
- Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Kelompok tani Lembah Ciremai di Desa Cikaracak dan Kelompok tani Bandorasa kulon di TNG Ciremai, telah merasakan secara langsung manfaat demplot kegiatan bioprospeksi, yaitu mengurangi biaya yang dikeluarkan karena berkurangnya penggunaan pupuk kimia sampai 80% dan meningkatkanya produktivitas tanaman hortikultur ubi jalar, bawang merah, bawang daun, kentang, kol, wortel sebesar 30%. Pupuk kimia yang biasanya digunakan dalam jumlah satu ton untuk satu ha lahan sekarang hanya menggunakan tiga kwintal pupuk untuk satu ha lahan dengan penggunaan PGPR.
Pak Yono petani dari Desa Cikaracak menyekolahkan anaknya sampai perguruan tingggi di UIN Cirebon, rumah mereka permanen, menggunakan penerangan listrik sehingga anak-anak bisa belajar dengan baik. Pemasaran hasil panen tergolong lancar, di mana petani biasanya memasarkan hasil panen tanaman hortikultura mereka di pasar sayur Cirebon. Secara bertahap diharapkan dalam jangka pembangunan lima tahun (2026-2031) desa binaan di wilayah penyangga TN dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan dasar, kesehatan, pendidikan, dan kenyamanan serta menghilangkan kemiskinan sehingga masyarakat bisa meningkat indeks kebahagiaannya.
Kelompok tani Desa Bandorasa Kulon TNG Ciremai, di samping bercocok tanam hortikultur ubi jalar, bawang merah, dan bawang daun juga sangat profesional beternak kambing. Bantuan pembangunan demplot dan pembentukan kelompok tani sangat mendorong semangat para petani untuk meningkatkan kapasitasnya dengan berencana mengembangkan usaha melalui koperasi dan unit usaha desa, sehingga mereka mendukung rencana pengembangan demplot yang berhasil di tahun 2024-2025 menjadi desa percontohan untuk pengembangan desa penyangga berkelanjutan. Para petani di Desa Bandorasa Kulon merasa bahagia karena kecukupan pangan, akses kesehatan, akses sumber energi, jaringan jalan, dukungan pemerintah (Balai TNGC, Pemerintah Daerah, Universitas Kuningan) yang di koordinasikan oleh pemerintah daerah dan balai taman TN.
Kelompok tani Desa Lolo, Telun Berasap, dan Giri Mulyo di TN Kerinci Seblat juga sudah mulai merasakan manfaat dari keberhasilan budi daya Taksus yang mereka lakukan. Mereka juga semakin bersemangat dalam mengembangkan dan membudidayakan tanaman taksus di lahan mereka yang terus dilakukan pendampingan oleh tim BNGi dan tin TN Kerinci Seblat, karena taksus memiliki banyak khasiat yang sangat baik untuk menyembuhkan beberapa penyakit seperti cancer, asam urat, diabetes, struk dan lainnya. Sehingga, selain masyarakat mendapatkan penghasilan dari kegiatan pertanian dengan komoditas hortikultura, kayu manis, dan cabai, yang dipasarkan ke Sumatera Barat dan Jambi, saat ini para petani sudah mulai mengembangkan tanaman taksus untuk nantinya bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi kelompok tani.
D. KESIMPULAN DAN SARAN
- Kesimpulan
1.1. Membangun ketahanan pangan desa penyangga TN, merupakan proses meningkatkan indeks kebahagiaan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan (SDGs), yang berkorelasi signifikan dengan semakin meningkatnya keberhasilan program perlindungan dan pelestarian TN.
1.2. Capaian ketahanan pangan, indeks kebahagiaan dan SDGs masyarakat desa, dicirikan dengan semakin miningkatnya value deep ecology, ditunjukkan dengan rendahnya kerusakan hutan dan tingginya partisisipasi masyarakat melindungi dan melestarikan kehati secara tulus.
- Saran
Perlu mengembangkan lebih lanjut desa penyangga TN berkelanjutan dengan melakukan core bisnis terintegrasi di antara kegiatan bioprospeksi, ekowisata, dan perdagangan karbon dalam kesatuan tata ruang wilayah pembangunan daerah dengan intinya TN. Keberhasilannya dicirikan dengan semakin meningkatnya serapan CO2, serta membangun kekuatan dan stabilitas ekonomi nasional dalam rangka mencapai Indonesia emas 2045.
———–
1 Makalah untuk dimuat di “Majalah Rimba Indonesia”
2 Bogor Natur Indonesia (BNGi)
3 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
4 Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC)
5 Taman Nasional Gunung Kerinci Seblat (TNKS)
6 Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR)
7 Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan
8 Fakultas Kehutanan UNIKU
Daftar Pustaka
Alikodra, H. S., 2020. Era Baru Konservasi SDAL: Membumikan Ekosofi bagi Keberlanjutan Umat. IPB Press. Bogor.
Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC). 2020. Laporan Tahunan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai 2020. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
[BNGi] Bogor Natur Indonesia. 2024. Laporan Tahunan Pengembangan Bioprospeksi dari Kawasan Konservasi: Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Gunung Ciremai Tahun 2024. Sekretariat Bogor Natur Indonesia (BNGi).
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2024. Persentase Penduduk Miskin (P0) Menurut Provinsi dan Daerah (Persen). [diakses 22 Juli]. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTkyIzI=/persentasependuduk-miskin–p0–menurut-provinsi-dan-daerah.html.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2024. Kecamatan Sembalun Dalam Angka. BPS Kabupaten Lombok Timur. Lombok.
Dwiartama, A., Purnamaharti, R.R., Pramudya, A.D., Megawanto, R., Nalang, V.S., Sumedi, P. (2022).
Analisis Pengembangan Kebijakan Internasional dan Nasional Bioprospeksi. Dalam Alikodra, H.S. & Sudarmonowati, E. (Ed), Potensi Bioprospeksi Indonesia bagi Pembangunan Ekonomi NKRI (hal 217- 242). Penerbit IPB Press.
Hendrayana, Y., & Karyaningsih, I. 2020. Pendugaan Karbon Tumbuhan Bawah di Tegakan Pinus Bumi Perkemahan Pasirbatang Taman Nasional Gunung Ciremai. BioEksakta: Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed, 2, 376-381.
Lestari, D., & Aryadi, I. W. (2020). Peran Taman Nasional Gunung Rinjani terhadap Ketersediaan Air di Pulau Lombok. Prosiding Seminar Nasional Kehutanan. Fakultas Kehutanan IPB.
Reid WV, SA Laird, R Gamez, A Sittenfeld, DH Janzen, MA Gollin, C Juma. 1993. Biodiversity Prospecting. WRI.
Retnowati, A., Faulina, S. A., Helbert, H., Riffiani, R., Saskiawan, I., Hidayat, A., Nurlhida, F. A. H. (2025). Morchella rinjaniensis: A Novel Species of Tropical Morchella (Ascomycota, Pezizales, and Morchellaceae) Discovered in UNESCO Rinjani-Lombok Biosphere Reserve, Indonesia. Mycobiology, 53(4), 367–378. doi: 10.1080/12298093.2025.2505301.
Silalahi, M., & Harahap, F. (2016). Peran Taman Nasional Kerinci Seblat dalam pengelolaan sumber daya air. Jurnal Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, 1(2), 45–52.
Simarmata, N. 2015. Pemanfaatan Alos Palsar Untuk Estimasi Kandungan Biomassa Atas Permukaan Dan Karbon Tegakan Hutan Berdasarkan Habitat Di Sebagian Taman Nasional Kerinci Seblat Provinsi Sumatera Barat [tesis]. Universitas Gadjah Mada.
Subagio, S. (2015). Analisis Vegetasi Hutan Taman Nasional Gunung Rinjani Resort Joben Kabupaten Lombok Timur. Prisma Sains: Jurnal Pengkajian Ilmu dan Pembelajaran Matematika dan IPA IKIP Mataram, 3(1), 34-43.
Utami, C. D., Sitawati, S., & Nihayati, E. (2017). Aplikasi plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) sebagai sebuah upaya pengurangan pupuk anorganik pada tanaman krisan potong (Chrysanthemum sp.). Biotropika: Journal of Tropical Biology, 5(3), 68-72.
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3