PEMIMPIN DALAM MASA SULIT

Oleh: Ir, Suhariyanto, MM, IPU
Ketua Dewan Redaksi MRI

Struktur sosial apapun yang melembaga, baik yang formal maupun yang non formal, pasti ada pemimpin dan ada yang dipimpin.   Jarang atau bahkan tidak ada seseorang itu di setiap strata dari yang tertinggi (terbesar) sampai dengan yang terendah (terkecil) selalu jadi pemimpin. Bisa saja disuatu tempat jadi pemimpin dan ditempat lain jadi yang dipimpin. Masa sulit yang dimaksud adalah seperti keadaan sekarang ini –hidup dalam pandemi Covid-19 yang tidak jelas kapan berakhirnya.  Kehidupan yang dicekam kepanikan, kekhawatiran, kegelisahan.  Pandemi ini menyebabkan krisis di semua lembaga, apakah itu lembaga pemerintah, bisnis, komunitas, dan lain sebagainya. Langkah penting dan mendesak oleh pemimpin lembaga tersebut tentu menyelamatkan (aktivitas) lembaganya. Hal-hal negatif itu tidak saja melanda pihak yang dipimpin atau karyawan, tetapi juga pada pihak yang dilayani apakah mereka itu konsumen atau masyarakat. Semangat pihak yang dipimpin sontak merosot ketika mendengar/mendapatkan informasi seperti lonjakan kematian akibat Covid-19. Ditambah mereka juga dikepung berita bohong yang semakin masif. Saat bekerja di rumah pun mereka menghadapi sejumlah masalah yang semakin menumpuk. Mereka lalu menjadi paranoid. Bahkan kesehatan mental mereka pun menjadi terganggu. Penyediaan alat pelindung diri dalam bekerja dan berinteraksi adalah salah satu cara mengurangi kecemasan. Namun, tidak dipungkiri kecemasan toh masih terjadi –tetap muncul. Apalagi sejumlah lembaga mulai kembali beroperasi dengan ketentuan baru dan pelaksanaan ketat protokol kesehatan. Persoalan ini sering disepelekan. Disinilah panggilan sebagai pemimpin (Chief Political Officer, Chief Executive Officer, Chief Spiritual Officer) dituntut tampil eksis dan berperan nyata.

Pihak yang dipimpin perlu mendapat penjelasan –terus menerus tidak ada jemunya– soal berbagai hal baru dalam bekerja atau beraktivitas.   Mereka harus memahami posisi baru di tengah pandemi.   Obrolan yang kerap dilakukan terkait dengan langkah lembaga dan protokol kesehatan juga bisa mengurangi kecemasan. Demikian pula, dengan melibatkan mereka dalam pelaksanaan protokol membuat mereka lebih nyaman.  Dalil atau premis baku ini harus jadi harga mati, di tengah kepanikan, pemimpin tidak boleh panik. Situasi akan menjadi lebih buruk bila dalil itu tidak dipegang.  Pihak yang dipimpin melihat respons pemimpin ketika krisis melanda. Covid-19 menular, kepanikan juga bisa menular.  Sebaliknya, jika pemimpin tenang, pihak yang dipimpin juga ikut tenang.   Pengertian tenang disini adalah mampu mengendalikan emosi dan tidak terlibat dalam menyebarkan gosip. Untuk menjawab pertanyaan pihak yang dipimpin, sediakan saja ahlinya. Disini ada tujuan edukatif, yaitu mengajari pihak yang dipimpin agar bisa membedakan antara fakta dan mitos seputar persoalan Covid-19.  Apakah dengan upaya itu sudah cukup? Belum.   Mendengarkan persoalan yang dihadapi pihak yang dipimpin adalah penting.   Jangan hanya mengandalkan komunikasi formal semata. Kirim email seakan masalah selesai.  Jangan.  Kenapa tidak ditilpun? Pemimpin adalah manusia dan yang dipimpin adalah manusia juga.  Menjadi manusia artinya punya kemampuan untuk mendengarkan dan merasakan pengalaman dari pihak yang dipimpin.   Kepemimpinan bukan hanya soal kemampuan menyelesaikan berbagai pekerjaan, melainkan juga memberi perhatian kepada mereka yang selama ini ikut suka dan duka dalam bekerja.

Selamat bagi para pemimpin dalam krisis ini.