BANJIR BESAR KABUPATEN DEMAK

Oleh : Ir. Slamet Soedjono, M.BA

(Pengasuh Majalah Rimba Indonesia)

Beberapa hari terakhir ini cukup sering diberitakan melalui media umum maupun media sosial tentang terjadinya banjir besar di Kabupaten Demak dan sebagian wilayah Kabupaten/Kota tetangganya Kudus dan Semarang.  Sebagian  masyarakat tidak terlalu hirau/peduli dengan berita terjadinya banjir di daerah tersebut karena dianggapnya suatu hal yang biasa telah bertahun-tahun (puluhan tahun) banjir di daerah itu sering terjadi.  Tetapi sebagian masyarakat yang lain menaruh perhatian besar dan ikut merasakan keprihatinannya yang cukup mendalam terutama setelah melihat/menyaksikan besarnya dan beratnya dampak yang ditimbulkan dari banjir tersebut yang membawa penderitaan rakyat setempat yang tinggal di wilayah tersebut maupun masyarakat umum yang melintasi atau menggunakan prasarana umum di wilayah  yang dilaluinya.

Sebagai ilustrasi/gambaran atas besarnya dampak dari banjir besar tersebut oleh pejabat/sumber yang berkompeten  dan masyarakat yang terdampak dilaporkan bahwa banjir besar tersebut melanda seluruh wilayah Kabupaten Demak meliputi 11 kecamatan  88 desa (hanya satu desa yang tak terdampak), banyak rumah yang terbenam air sampai atap rumah bahkan ada yang melebihi, terbenamnya cukup lama karena hujan terus menerus lebih dari seminggu lamanya, isi rumah berantakan, bangunan rumah dan perabot rumah pada rusak, kesulitan menjalankan kehidupan sehari-hari, berbagai aktivitas  terganggu termasuk dalam menjalankan ibadah puasa, kekurangan  makan minum, terganggunya kesehatan, jumlah orang yang terdampak sekitar 95.000 dan yang harus diungsikan (pengungsi) mencapai 24.346 orang namun belum ada laporan orang yang meninggal akibat banjir tersebut.  Prasarana umum yang terganggu adalah terbenamnya jalan angkutan utama Semarang-Demak-Kudus hingga 1,5 m setinggi bak truk, perjalanan lumpuh total, transportasi dan penyaluran logistik terhambat. . Jalan protokol dalam kota, masjid dan alun-alun tergenang air hingga mengganggu aktivitas ekonomi.  Demikian juga jalan-jalan Kabupaten dan Desa sehingga menghambat transportasi.  Pada tahun 1973-1978 ketika penulis bertugas di Cepu sering melakukan perjalanan darat Cepu-Semarang atau sebaliknya baik melalui jalur utara Demak-Kudus-Pati-Rembang-Blora maupun melalui Blora-Purwodadi-Gubug termasuk dimusim penghujan.  Waktu itu meskipun beberapa kali mengalami terjebak banjir di jalan tetapi ketinggin air hanya sekitar 20-25 cm paling dalam 35-40 cm di wilayah Genuk-Sayung-Demak atau di wilayah Godong-Gubug jika lewat Purwodadi, di sini ketinggian air di atas jalan lebih rendah lagi. Walaupun begitu banjir akan cepat berlalu.  Pada hal saat itu waduk Kedungombo di wilayah KPH Telawa belum selesai dibangun.

Banjir besar Kabupaten Demak kali ini merupakan banjir besar kedua selama musim penghujan.  Pertama terjadi sekitar satu setengah bulan yang lalu di awal musim penghujan tahun ini meskipun tidak separah dan selama banjir besar yang kedua ini.

Mengapa Demak dari dulu hingga sekarang sering terlanda banjir sebabnya antara lain, karena konfigurasi wilayah Demak sebagian terbesar merupakan dataran rendah yang luas terutama bagian tengah hingga wilayah pesisir laut Jawa di bagian utara Demak bahkan mungkin terendah di seluruh pantai utara Jawa Tengah.  Selain itu terdapat tidak kurang dari enam sungai besar kecil yang bermuara di pesisir laut Jawa, Demak diantaranya yang besar adalah S. Jratun, S. Serang, S. Lusi, S. Tuntang dan S. Wulan.

Lalu apa gerangan yang menjadi penyebab terjadinya banjir besar ini?  Beberapa penjelasan yang disampaikan melalui media massa dapat dicatat sebagai berikut:

  1. Menurut Pejabat Badan Riset Inovasi Naional (BRIN) Erma Yulihastin dan dari Pemda dinyatakan karena jebolnya tanggul-tanggul sungai di 7 lokasi disebabkan oleh deras dan besarnya aliran air dan ketidaktahanan tanggul-tanggul sungai yang ada yang sebagian besar dibangun sejak zaman kolonial Belanda guna menahan derasnya aliran sungai yang ekstrim.  Pejabat BRIN tersebut juga meyakini bahwa hujan ekstrim selama 10 hari disebabkan oleh fenomena “Squall line” atau “jalan tol hujan” di wilayah pantai utara Jawa.
  1. Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Andri Ramdhani menyatakan bahwa cuaca ekstrim yang terjadi lebih karena naiknya suhu global yang sudah atau akan sering terjadi, karena itu penting untuk melakukan perencanaan usaha memitigasi potensi cuaca ekstrim tersebut dengan sebaik-baiknya,
  2. Juga karena naiknya /pasangnya air laut yang menghambat aliran air sungai yang besar.
  3. Presiden Jokowi dalam berita TV tanggal 22 Maret 2024 menyatakan bahwa salah satu penyebab banjir besar tersebut juga karena adanya pembalakan liar atas hutan-hutan penyangga daerah aliran sungai di bagian hulu dan sekitarnya.  Pernyataan ini tentunya berdasarkan atas data dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.  Dari informasi ini penulis mencoba membuka peta  Jawa Tengah dan peta kewilayahan hutan untuk melihat  aliran-aliran sungai dan mata airnya yang masuk ke wilayah Demak serta wilayah hutan yang menjadi penyangganya.  Ternyata wilayah aliran sungai yang masuk ke wilayah Demak cukup luas hingga masuk jauh ke pedalaman sampai di wilayah perbukitan dan pegunungan.

Kalau dimulai dari bagian Barat Demak daerah hutan yang menjadi penyangga aliran sungai adalah:

  1. Di wilayah KPH Semarang meliputi Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Penggaron (Susukan), BKPH Jembolo Utara (Karangawen), BKPH Jembolo Selatan (Candirejo), BKPH Tanggung (Kedungjati), BKPH Kedungjati, BKPH Manggar (Kedungjati) dan BKPH Padas (Kedungjati).
  2. Di wilayah KPH Telawa meliputi BKPH Kedungcumpleng (Kemusu), BKPH Gemolong (Kemusu), BKPH Karangrayung (Grobogan), dan BKPH Ketawar
  3. Di wilayah KPH Gundih meliputi BKPH Gundih (Toroh-Grobogan), BKPH Jambon, BKPH Panunggalan.
  4. Di wilayah KPH Purwodadi meliputi BKPH Pojok (Tawangrejo), BKPH Karangasem (Wirosari), BKPH Bandung (Wonosari), BKPH Linduk (Grobogan).
  5. Di wilayah KPH Blora meliputi BKPH Ngawenombo (Ngawen), BKPH Kalisari (Kalisari) dan BKPH Kalonan.

Informsi ini tentunya perlu menjadi bahan kajian lebih lanjut bagi para pimpinan Pemangku Kehutanan dan Yang Terkait tentang kebenaran terjadinya pembalakan liar atas hutan-hutan yang menjadi penyangga bahaya banjir Demak yang terus menerus, bagaimana upaya penanggulangannya bersama aparat lain, segera membangun kembli hutan-hutan yang rusak, pembuatan kebijakan yang tepat dan akurat untuk menghindari terjadinya pembalakan liar/perusakan hutan jangan sampai malah memperbesar kerusakan hutan.  Manfaat kesejahteraan hutan bagi masyarakat tidak hanya untuk masyarakat yang berada di dalam dan di sekitar hutan tetapi juga bagi yang jauh dari hutan khususnya dalam mencegah dan meminimalisasikan bahaya banjir.  Pejabat-pejabat tersebut dan masyarakat sekitar hutan mestinya memiliki tanggung jawab moril yang tinggi untuk ikut mencegah terjadinya banjir besar di daerah yang lebih rendah jauh dari hutan yang menimbulkan penderitaan banyak orang dan kerusakan infrastruktur yang besar.  Demikian juga para pembalak liar sendiri dan pemain-pemain di belakangnya agar menyadari betapa besar akibat dari perusakan hutan.  Semoga berhasil.

Untuk perbaikan dan peningkatan kualitas infrastruktur pencegahan banjir Kabupaten Demak Presiden Jokowi telah memerintahkan Kementerian PUPR untuk melaksanakannya.

Ribuan rumah terendam air akibat banjir,
Sumber foto: Antara