Obituari

Bapak Ir. SARWONO KUSUMAATMADJA

Oleh: Dr. (H.C.) Ir. Wahjudi Wardojo, M.Sc.

Penasehat Senior Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN)

Bapak Ir. Sarwono Kusumaatmadja atau sering penulis sebut Pak SK, adalah salah seorang tokoh nasional yang sangat unik.  Unik karena tidak hanya nilai nilai kehidupannya atau values nya, tetapi juga Tindakan-tindakan beliau yang sesungguhnya jarang dilakukan oleh seorang seusia beliau di zaman Orde Baru dan setelahnya, bahkan bagi yang lebih muda sekalipun.  Sebagai yuniornya penulis  merasa sangat beruntung dan bersyukur karena sejak tahun 1993 berkenalan dengan beliau dan kemudian sering berkomunikasi dan berinteraksi, sampai beberapa hari sebelum beliau berangkat ke Pulau Pinang, Malaysia untuk berobat, dan kemudian wafat pada tanggal 26 Mei 2023.

Berdasarkan dari buku Memoar beliau yang berjudul “Menapak Koridor Tengah” (2018), Pak SK lahir pada tanggal 24 Juli 1943, di Jakarta dari pasangan bapak Muhammad Taslim dengan ibu Sulmini Surawisastra. Ayah berprofesi sebagai seorang Asisten Apoteker, berasal dari Tasikmalaya, dari lingkungan keluarga birokrat perdesaan (klein ambtenaar). Sedang ibu berasal dari Cirebon berprofesi sebagai guru dan berasal dari keluarga Pesantren Balerante di Palimanan Cirebon. Pasangan ini berputra tiga orang, dua laki-laki dan yang bungsu perempuan. Pak SK adalah putra nomor 2. Kakak sulung Pak SK adalah Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, mantan Menteri Kehakiman dan kemudian Menteri Luar Negeri RI untuk dua periode, serta Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Beliau adalah tokoh nasional dalam negosiasi global, termasuk berhasil memperjuangkan ‘Wawasan Nusantara’ sebagai bentuk kedaulatan Republik Indonesia yang utuh yang terdiri dari ribuan pulau, akhirnya diakui oleh dunia (PBB) dalam sidang United Nations Convention on the Law of Sea (UNCLOS) tahun 1982. Karena jasa jasa beliau, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja pada tanggal 10 Nopember 2025 memperoleh anugerah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dari Presiden Prabowo Subianto.

Latar belakang ayah, ibu, serta saudara tersebut yang melatarbelakangi sifat dan values pak SK sejak kecil, dewasa sampai menjadi tokoh nasional Indonesia yang banyak teman, dan disegani oleh semua orang.

Kalau kita mengenal lebih dekat, Pak SK adalah seorang dengan kemampuan berbahasa Inggris bisa dikatakan excellent, baik dalam ucapan -termasuk bernegosiasi- maupun tulisan. Hal ini disebabkan karena sewaktu kecil, tingkat SMP (Junior High School) beliau pernah sekolah di Inggris, tepatnya di King’s School, Gloucestershire, kota yang terkenal dengan budaya dan sejarahnya, terletak sekitar 160 km sebelah barat London.  Pak SK merasakan bahwa sekolah di King’s School melalui boarding school (di asrama) ini menjadi tonggak penempaan diri menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. Beliau di sekolahkan di sekolah yang termasuk elite tersebut oleh Dr. Soedarsono, adik ipar ibundanya, yang waktu itu menjabat sebagai Dubes RI untuk Yugoslavia (sebelum pecah menjadi beberapa negara seperti Kroasia, Serbia, Bosnia, dan lain lain). Beliau adalah ayahanda Prof. Yuwono Soedarsono (mantan Duta Besar dan beberapa jabatan Menteri termasuk Menteri Pertahanan dan Menteri Lingkungan Hidup RI).

Setelah lulus dari Tingkat SMP di Inggris tersebut, beliau pulang ke Jakarta dan bersekolah di SMA Kolese Kanisius Jakarta. Di sekolah ini beliau berkawan dan bersahabat dengan Wimar Witoelar.  Selanjutnya kuliah Tingkat S 1 di Fakultas Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung. Kemudian sebelum menyelesaikan kuliahnya, pada tahun 1970 beliau menikah dengan Nini Maramis, teman sesama Mahasiswa ITB Fakultas Teknik Sipil dari jurusan Planologi. Pasangan ini dikaruniai 2 putra dan 2 putri, yaitu Rezal Azhari, Nino Krisnan Kusmara, Devyandra, dan Keke Kendisan.

Di ITB Pak SK mulai menjejak kariernya sebagai aktivis mahasiswa sehingga pernah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa ITB periode 1967-1968 dan selanjutnya pada usia 28 tahun  menjadi anggota DPR RI hasil Pemilu tahun 1971 sampai dengan 1988 dari Partai Golkar, serta diangkat menjadi Sekretaris Fraksi Karya Pembangunan (FKP) di DPR RI. Pada Tahun 1983 diangkat menjadi Sekretaris Jenderal DPP Golkar, Partai terbesar saat itu.  Lima tahun kemudian (1988) beliau dilantik sebagai Menteri Negara Pendayagunan Aparatur Negara (Men PAN) dan selanjutnya pada tahun 1993 s.d. 1998 menjadi Menteri Negara Lingkungan Hidup pada Kabinet Pembangunan VI zaman Presiden Soeharto.  Setelah reformasi, dari tahun 1999 s.d. 2001 beliau menjabat sebagai Menteri Eksplorasi Kelautan di zaman Kabinet Persatuan Nasional di bawah Presiden Abdulrahman Wahid atau Gus Dur.

Ketika masih sebagai pegawai yunior di Departemen Kehutanan, penulis sudah mulai mengagumi beliau dengan sepak terjangnya sejak sebagai tokoh mahasiswa. Karena kekaguman penulis kepada beliau, maka setiap berita media masa tentang beliau selalu penulis baca dan ikuti, termasuk kebiasaan beliau mengajak putra-putrinya ke toko buku untuk memilih dan membeli buku yang mereka senangi atau yang penting untuk dibaca. Dalam setiap aktivitasnya, beliau senantiasa menunjukkan keramahan kepada siapa saja yang ditemui, tidak pandang jabatan atau posisi nya, tidak selalu dikawal dengan ajudan atau pengawal khusus ketika melakukan kegiatan yang bersifat pribadi. Di era orde baru, keadaan yang dilakukan oleh Pak SK, bisa dikatakan amat sangat jarang.  Umumnya seorang pejabat, apalagi pejabat tinggi, senantiasa ada ‘team’ pendampingnya, ke mana saja pejabat tersebut bepergian.

Waktu itu penulis berharap bisa langsung berguru dan beliau bisa langsung menjadi mentor saya.  Beberapa sahabat penulis berkomentar, katanya bagaimana mau jadi mentee, kalau tidak dikenal beliau? Apalagi tidak berada dalam satu Kementerian dengan beliau.  Alhamdulillaah permohonan penulis nampaknya dikabulkan oleh Allah SWT, dengan cara yang tidak pernah penulis bayangkan.

Pada tahun 1994, sebagai Kepala Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun, penulis memperoleh penugasan dari Departemen Kehutanan untuk menjadi anggota Delegasi Indonesia dalam sidang tahunan Asean Ministerial Meeting on Environment (AMME) di Brunei Darussalam. Ketua Delri adalah Bapak Sarwono Kusumaatmadja, selaku Menteri Lingkungan Hidup RI.  Pertemuan pertama langsung dengan beliau, makin meningkatkan kekaguman saya kepada beliau sebagai seorang pemimpin yang cerdas, tegas, cepat mengambil keputusan dan tidak mau memberi beban berat kepada anak buah pada hal-hal yang tidak perlu. Saat beliau mendarat di Brunei Darussalam, sudah sekitar jam 20.00.  Beliau langsung minta bertemu dengan semua anggota Delri untuk berkenalan sekaligus minta masukan serta komentar hasil sidang Senior Official Meeting (SOM) dari Ketua SOM Indonesia, yaitu Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat, yang lebih sering dipanggil sebagai Pak Naya. Membuka rapat di kamar tempat beliau menginap, beliau langsung mengenalkan Pak Naya sebagai sahabatnya sejak di ITB dan sebagai mahasiswa paling pandai di Angkatan beliau. Namun kemudian beliau menambahkan, yang jadi Menteri saya, dan Pak Naya jadi anak buah saya (Asisten Menteri – Eselon I).  Gurauan cerdas tingkat tinggi.

Selanjutnya beliau minta setiap anggota Delri yang mewakili Departemen/Kementerian di minta beri laporan dan saran untuk sambutan beliau di Pleno AMME.  Rapat yang sangat singkat, tidak lebih dari 1 jam, tetapi substansi langsung ditangkap dengan baik oleh beliau. Hari berikutnya, laporan dan masukan anggota Delri beliau rangkum dan disampaikan dengan sangat baik waktu sambutan arahan di sidang pleno, yang beberapa points tidak ada dalam teks pidato yang sudah disiapkan.  Beberapa anggota delegasi dari negara anggota ASEAN mengakui keynote speech tersebut sangat bagus.

Esoknya, selesai Sidang Pleno para Menteri, beliau mengajak penulis untuk mendampingi berkunjung ke Kampung Laut (komunitas masyarakat yang tinggal di laut di pinggir kota Brunei Darussalam – mirip suku Bajo kalau di Indonesia), dan kemudian berkunjung ke hutan wisata alam di pingggir Kota Brunei Darussalam. Dalam perjalanan tersebut beliau mengajak diskusi terkait dengan berbagai isu, tidak hanya masalah hutan dan lingkungan hidup, namun juga isu terkait masyarakat. Diskusi nya penulis rasakan lumayan berat, tapi barangkali cara beliau untuk menjajagi kemampuan dan pemahaman penulis terkait isu-isu yang didiskusikan.

Beberapa bulan setelah pertemuan di Brunei Darussalam tersebut, staf KLH menelpon penulis yang sedang di kantor TN Gede Pangrango, Cibodas, menyampaikan kalau Pak SK ingin bicara langsung.  Dari pembicaraan telepon, beliau mengatakan akan berkunjung dengan seluruh pejabat dan staf di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, akan ajak hiking sampai ke air terjun Cibeureum (sekitar 3 km), sekaligus untuk test anak buahnya apakah mereka kuat atau tidak (beliau sambil tertawa di telepon).  Di tambah dengan pesan khusus, jangan informasikan ke pejabat Pemda, Kodim, maupun Polres. Beliau percayakan semua bisa ditangani oleh Staf Taman Nasional beserta Jagawana (Polhut)-nya.  Alhamdulillah, acara berjalan dengan sukses, dan beliau merasa puas. Apalagi tidak ada pejabat KLH yang tertinggal dalam acara hiking tersebut.

Sejak saat itu, komunikasi dan interaksi penulis dengan Pak SK berjalan terus, termasuk ketika penulis menjadi Atase Kehutanan di KBRI Tokyo, beliau memasukan penulis sebagai anggota Delri di CoP ke 3 UNFC on Climate Change di Kyoto tahun 1997. Kemudian melakukan diskusi dan memberi arahan serta saran-saran kepada penulis secara intensif di setiap jabatan penulis lalui, yaitu sewaktu sebagai Staf Ahli Menteri Kehutanan Perkebunan, sebagai Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, sebagai Sekretaris Jenderal Kehutanan, dan sebagai Kepala Badan Litbang Kehutanan.  Puncak interaksi kami dimulai sejak tahun 2015 ketika oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pak SK ditunjuk sebagai Ketua Panitia Seleksi Pejabat Tinggi Madya (Eselon 1) dan Pejabat Tinggi Pratama (Eselon 2), dan penulis sebagai salah seorang anggota (merangkap Wakil Ketua) Panitia tersebut.  Tugas yang sebenarnya berat karena memilih kader-kader terbaik untuk menjabat pada posisi yang tepat.  Ratusan pejabat eselon 1 dan eselon 2 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah terpilih melalui proses Panitia Seleksi ini. Tugas tersebut berlanjut terus sampai beliau sakit dan dirawat di Rumah Sakit.

Dari komunikasi dan interaksi yang intensif tersebut, penulis sering menyebut pak SK sebagai seorang dengan kepribadian unik (termasuk langka di Indonesia) yang bisa menjadi inspirasi dan panutan bagi generasi penerus karena nilai nilai kehidupan (values) nya yang kuat. yang tak lekang oleh waktu.  Menurut pengamatan penulis ada lima nilai-nilai kehidupan atau values penting  pak SK, yang merupakan legacy beliau yang luar biasa yaitu:

  1. Egaliter, sebagai pejabat tinggi dengan berbagai jabatan yang diembannya. Beliau tidak pernah membedakan diri dengan siapa saja. Apakah dengan seorang sopir, satpam, atau pegawai pegawai maupun aktivis-aktivis muda dari berbagai kalangan. Beliau juga seorang yang sangat menghargai keberagaman Pak SK adalah contoh nyata sebagai seorang pemimpin yang rendah hati, terbuka, dan pemimpin yang dekat dengan anak buah, dan tidak membangun jarak dengan siapa saja. Saat ini pemimpin seperti ini dikenal sebagai humble leader. Tipe pemimpin seperti ini yang disarankan oleh berbagai ahli kepemimpinan. Di zaman Orde Baru, amat sangat jarang kita menemukan seorang pemimpin yang seperti ini, sehingga bisa disebut sebagai pribadi sangat langka.
  2. Berintegritas tanpa cela (Integrity beyond reproach). Sebagai mantan pejabat tinggi, tiga kali menjabat sebagai Menteri, plus jabatan politik berpuluh tahun yang beliau emban, orang akan berfikir bahwa beliau tentu mempunyai harta yang berlimpah, rumah mewah dan kendaraan mewah yang banyak. Apalagi waktu itu belum ada Undang Undang KPK yang melarang gratifikasi bagi pejabat. Kenyataannya adalah tidak. Beliau tetap hidup sederhana. Mobil yang beliau gunakan sehari hari untuk beraktivitas adalah mobil produk awal tahun 2000-an.  Rumah sebagai kediaman beliau sehari-hari adalah rumah milik salah seorang putranya. Beliau pernah bercerita kepada penulis, ketika sebagai Menteri Lingkungan Hidup, beliau sebenarnya dapat ‘jatah’ rumah ex Pertamina di daerah Kuningan Jakarta yang diperuntukan bagi Menteri, namun beliau menolaknya.

Beberapa kali penulis melihat sendiri, betapa beliau dengan lugas dan tegas menolak pemberian dari orang lain yang tidak terkait dengan tugas atau pekerjaan beliau. Namun demikian beliau adalah sosok yang dermawan. Penulis mengetahui bila setiap bulan beliau di awal bulan (tanggal muda) senantiasa ke bank, yang kebetulan di bangunan yang sama dengan kantor penulis. Selesai transfer sumbangan atau bantuan ke berbagai pihak, beliau selalu mampir ke ruang penulis dan ngobrol berbagai hal dengan penulis. Beliau menyebut sumbangan yang dibagikan adalah hak mereka untuk menerima sebagian dari rezeki yang saya terima.

  1. Committed and confident. Pak SK menunjukkan komitment tinggi ketika beliau sudah menyampaikan bahwa beliau bersedia untuk menjalankan tugas, apalagi bagi negara. Beliau juga pribadi yang sangat percaya diri (confident), tidak pernah terlihat ragu-ragu ketika harus bicara di forum apa saja, dan dengan siapa saja. Tidak mengherankan apabila ketika masih muda, berusia 40 tahun sudah ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Partai Golongan Karya, Partai terbesar waktu itu.
  2. Kreatif dan inovatif. Beliau senantiasa muncul dengan hal-hal yang baru yang bersifat inovasi atas pemikiran yang kreatif beliau. Berfikir kritis dan selalu holistik. Tidak ada rumus menyerah pada masalah atau tantangan yang dihadapi.  Beliau senantiasa optimistis menghadapi tantangan yang ada, sehingga memberi nuansa bersemangat bagi orang yang bekerja bersama beliau.
  3. Sangat teliti. Bisa dikatakan bekerja dengan beliau harus siap dengan prinsip zero error tidak boleh ada kesalahan walaupun amat sedikit. Istilahnya, kalau buat konsep surat, jangan sampai ada titik atau koma yang tidak tepat.  Beliau akan berubah roman mukanya kalau ada anggota teamnya ceroboh soal satu ini. Ini barangkali sudah terbiasa beliau lakukan sejak muda, sehingga dipercaya sebagai Sekretaris Fraksi di DPR RI dan selanjutnya sebagai Sekretaris Jenderal dari Partai yang berkuasa saat itu.  Namun demikian, pak SK juga tidak pernah lupa dengan humor-humor cerdasnya yang membuat team di bawah beliau senantiasa senang dan bersemangat.

Bagi penulis secara pribadi, pak SK adalah seorang mentor, guru, maupun teman diskusi yang sangat luar biasa.  Ketika beliau sebagai Anggota Dewan Pengawas Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dimohon untuk memberikan sambutan pembukaan Bedah Buku  penulis yang berjudul ‘Inspirasi dari Gunung Gede Pangrango’ 10 Desember 2020, beliau  menyampaikan bahwa beliau dengan penulis telah membangun ‘Konspirasi Hati Nurani’.  Luar biasa.  Penulis senantiasa terharu bila membuka rekaman sambutan beliau tersebut, yang bisa diunggah dari Youtube di seri ‘Conservation Talk’.

Foto bawah: Penulis (tanda panah merah) sedang berbincang dengan Bapak Sarwono Kusumaatmadja    

Sumber:

  1. Kusumaatmadja, Sarwono. 2018. Memoar Sarwono Kusumaatmadja: Menapak Koridor Tengah. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.
  2. Personal Communication and interaction 1993-2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *