Sekilas Info

BINCANG-BINCANG SANTAI BERSAMA RIMBAWAN SENIOR Ir. H. HENDARSUN SANUSI PUTRA: “HIDUP HARUS DISYUKURI”

Oleh: Dr. Ir. Tjipta Purwita, M.B.A., IPU, ASEAN Eng.

(Pengasuh Majalah Rimba Indonesia)

Pribadi yang teguh dan keras, namun tetap tawadhu’

Alhamdulillah, pada hari Sabtu pagi yang cerah, saya berkesempatan untuk bersilaturahmi dengan Bapak H. Hendarsun Sanusiputra di kediaman beliau yang sederhana namun sejuk dan asri, di perumahan Taman Bona Indah, Cilandak, Jakarta Selatan. Sungguh sebuah anugerah dan kehormatan bagi saya bisa bertemu kembali dengan Bapak Hendarsun, karena sudah cukup lama saya tidak bersilaturahmi secara langsung dengan beliau.

Foto Koleksi Pribadi: Bapak Hendarsun Sanusiputra dalam usianya yang relatif sudah uzur masih terlihat gagah dan sehat

Mengenakan kemeja coklat muda lengan panjang, topi haji dan sarung motif kotak-kotak, Bapak Hendarsun menerima kami (saya dan istri) di ruang tamu dan melakukan perbincangan santai seputar riwayat pribadi, pengalaman beliau selaku rimbawan (forester) senior, maupun hal-hal ringan yang penuh dengan canda dan tawa-ria. Bapak Ir. H. Hendarsun Sanusiputra yang lahir di Pangandaran, tanggal 6 April 1939, dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin, teguh memegang prinsip dan keras dalam pendirian, berintegritas tinggi, dan sangat agamis. Sebagai penganut agama Islam yang taat, beliau sangat disiplin dalam beribadah namun beliau juga rendah hati (tawadhu). Pernah suatu ketika, beliau berkata kepada saya, bahwa “Alhamdulillah saya sangat bersyukur masih dikaruniai usia hingga setua ini, karena sebetulnya saya hanyalah ibarat „mayat hidup” yang tinggal menunggu giliran mati (dipanggil oleh Allah SWT) saja”. Masya Allah.

Bapak Hendarsun memiliki 1 orang istri yang telah mendahului menghadap Allah SWT (almarhumah) dan dikaruniai 3 orang anak (anak tertua laki-laki, anak kedua perempuan, dan anak bungsulaki-laki) serta 7 orang cucu. Beliau tinggal sendiri di rumah, ditemani oleh seorang pramuwisma yang pulang-pergi (tidak tinggal menetap).  Dalam usianya yang telah menginjak 86 tahun lebih, alhamdulillah kondisi fisik beliau masih sangat sehat, serta mampu berbicara secara runtut dan jelas.

Beliau menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Jurusan Kehutanan dan berbagai pendidikan/pelatihan lanjutan, seperti Advanced Professional Training di Jerman, serta sebagai Pejabat/Birokrat yang telah mencapai puncak karier, beliau berkesempatan pula mengikuti Kursus Lemhanas (Lembaga Pertahanan Nasional) KRA (Kursus Reguler Angkatan) XXII.

Pengalaman tugas/karier yang beliau emban sangat lengkap, baik sebagai pejabat puncak BUMN maupun birokrasi pemerintahan di Departemen Kehutanan. Beliau beberapa kali menjadi Administratur di Perum Perhutani, Kepala Biro Pemasaran Perum Perhutani, Dirut PT Inhutani IV, Dirut Perum Perhutani, Dirjen Pengusahan Hutan (PH) dan Dirjen Reboisasi & Rehabilitasi Lahan (RRL) Departemen Kehutanan.

PENGALAMAN HEROIK SEBAGAI RIMBAWAN

Sebagai seorang rimbawan senior, Bapak Hendarsun Sanusiputra memiliki asam-garam perjalanan hidup yang sangat menginspirasi bagi generasi penerus. Ternyata beliau menempuh jalan hidup sebagai rimbawan berawal dari kecintaannya semenjak bangku Sekolah Dasar (SD) sebagai Pramuka yang sering melakukan lintas alam, naik-turun gunung dan menjelajahi hutan-hutan. Karena itu pada akhirnya beliau konsisten memilih Fakultas Pertanian di Bogor yang ada Jurusan Kehutanan-nya sebagai tempat menimba ilmu di perguruan tinggi. Bahkan ketika merintis karier sebagai pejabat di Perum Perhutani, pada setiap tanggal 17 Agustus dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI, Bapak Hendarsun selalu mengadakan lomba lintas alam yang dinamai GIRI WANA RALLY hasil ciptaan beliau sendiri yang di kemudian hari menjadi embrio lahirnya kegiatan out-bound Perhutani.

Pengalaman tugas heroik yang mengesankan dan sulit dilupakan sepanjang hayat adalah ketika beliau bertugas selaku pemangku kawasan hutan yang harus melakukan tanggung jawab pengamananhutan, terutama di wilayah pangkuan hutan yang rawan pencurian kayunya. Untuk memperkuat diri dan menjaga keamanan pribadi, maka Bapak Hendarsun melengkapi dirinya dengan kemampuan beladiri, yaitu karate. Dengan memilih beladiri karate, maka beliau merasa lebih “pede” (percaya-diri) dalam bertugas mengamankan hutan sekalipun tidak membawa senjata api (senapan laras panjang) maupun pistol.
Anak buah mulai dari Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) ke atas harus mampu menjaga diri waktu melakukan patroli, meskipun hanya 2 orangyang sering kali harus menghadapi pencuri berjumlah
5 orang atau lebih dan membawa senjata tajam berupa kapak.

Ketika menjadi Administratur/Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KKPH) Mantingan di Rembang yang sekaligus juga merangkap sebagai Administratur/Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KKPH) Blora (karena pejabatnya sedang bertugas ke Jepang), beliau memperoleh informasi dari seorang hakim yangterpercaya (yang mendukung beliau), bahwa di Kota Blora banyak beredar kayu jati curian. Benar saja, dengan dibantu oleh Polsus KPH Mantingan, beliau menemukan banyak kayu curian yang ditanam di belakang rumah Kades (Kepala Desa) maupun aparat desa lainnya. Maka semua kayu-kayu curian itu disita oleh beliau dan dikumpulkan di Kantor KPH Blora.

 

Foto Koleksi Pribadi: Bapak Hendarsun Sanusiputra (berbaju gamis dan berkopiah hitam) berada di tengah-tengah keluarga besar beliau yang sangat bersahaja

Kemudian ternyata ada lagi sebuah Toko Emas yang di dalamnya juga banyak tersimpan kayu curian. Semua kayu-kayu tersebut disita walaupun ada beking yang mengancam keselamatan jiwa beliau. Walhasil, kayu-kayu curian di wilayah KPH Blora, menjadi terkumpul sangat banyak. Apa risikonya? Beliau mendapat banyak sekali ancaman. Ketika beliau mengendarai mobil dinas pinjaman dari KPH Rembang, mobil tersebut distop di tengah jalan dan bahkan mau ditabrak oleh sebuah truk dari pelaku pencurian kayu. Beruntung beliau berhenti di belakang sebuah pohon besar, sehingga terhindar dari tabrakan dengan truk. Kemudian beliau mengeluarkan pistol dan menembak pengemudi truk, tetapi meleset karena mobil truk tersebut sudah lari kencang menjauh.

Pada kesempatan lain, suatu ketika beliau menginap di rumah TPK (Tempat Pengumpulan Kayu). Pada malam hari sekitar pukul 20:00 WIB, beliau menangkap truk yang membawa kayu tidak disertai dengan surat-surat angkutan. Ketika kayu-kayunya disita, sang sopir memberi uang kepada beliau, maka beliau serta-merta langsung menolaknya, bahkan uang tadi dirobek-robek dan dibuang. Besoknya beliau dilaporkan kepada Polisi, dengan ancaman bahwa merobek uang itu sebagai penghinaan dan tindakan pidana. Beliau segera bersilaturahmi ke Kepala Polisi (Dan Tares, belakangan menjadi Kapolwil, sebelum
akhirnya dibubarkan) di Pati. Dan Tares menjamin, bahwa beliau tidak usah khawatir dengan ancaman itu. Maka setiap malam beliau menunaikan salat tahajud. Beliau berdoa dan selalu ingat akan Surat Al
Baqarah ayat 45, yang menyatakan bahwa “Mintalah pertolongan kepada Allah SWT dengan sabar dan salat”. Alhamdulillah Allah SWT memberi jalan yang sangat indah kepada beliau, yaitu beliau malahan mendapat promosi dipindah menjadi Adm/KKPH Randublatung yang merupakan KPH terbesar di Perhutani (yaitu meliputi 12 Asper BKPH, unit Penggergajian mesin terbesar, dengan output-nya digunakan menjadi produk kayu olahan dengan tujuan ekspor). “Alhamdulillah, orang-orang yang memusuhi saya dengan seizin Allah SWT akhirnya menjadi teman”,  kata Bapak Hendarsun mengenang peristiwa yang
sangat berisiko dalam menunaikan tugas. Akhirnya terbukti, bahwa yang tadinya musuh kini menjadi teman.

Foto: Bapak Hendarsun Sanusiputra (berkopiah putih) berkenan menerima Pengasuh MRI dalam perbincangan yang sangat santai

Di KPH Randublatung, ada ancaman kebakaran hutan yang tinggi. Namun alhamdulillah kebakaran hutan tersebut dapat dikendalikan dengan mendidik tenaga-tenaga mandor dan para KRPH yang cakap
untuk mengatasinya. Selanjutnya, beliau banyak melakukan penanaman hutan dengan memperbanyak sabuk tanaman di lereng-lereng/jurang dengan menanam tanaman jenis lamtoro (kemlandingan)
untuk meminimalisasi erosi tanah. Setiap tahun dilakukan lomba keberhasilan penanaman di kalangan para Asper (Asisten Perhutani) dan Mandor. Baik Mandor maupun Asper yang berhasil menjadi juara
penanaman reboisasi, diberikan hadiah berupa sepeda.

BEKERJA KERAS MENINGKATKAN MUTU SILATURAHMI

Ketika Ibu Tien Soeharto sedang membangun Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Bapak Hendarsun mendapat tugas untuk menyiapkan pohon jati besar dengan diameter rata-rata di atas 80 cm yang utuh
dan tidak berlubang, dengan panjang 10 meter ke atas. Papan-papan untuk ukiran dibuat oleh Bapak Agung Bunakur (menantu bapak Jenderal Sudirman). Contoh ukiran kayu-kayu jati tersebut hingga kini masih dapat dilihat di Auditorium gedung Manggala Wanabakti, Kementerian Kehutanan RI di Jakarta.

Sebagai rimbawan senior dan mantan Direktur Utama Perum Perhutani, beliau menginginkan agar Perum Perhutani dapat terus menjadi entitas bisnis/usaha kehutanan yang maju dan terkemuka di Indonesia bahkan menjadi perusahaan terkemuka di dunia (worldclass-company). Dengan kapasitas sumber daya manusia yang handal dan fasilitas penelitiannya yang memadai, terutama Pusat Riset dan
Pengembangan Cepu, diharapkan Perum Perhutani dapat menjadi pusat pemuliaan pohon jati, pinus, dan minyak kayu putih yang berdaya saing tinggi. Jati yang dimuliakan, tingkat pertumbuhannya bisa menjadi 5 kali lipat dari jati yang konvensional, sehingga dapat meningkatkan penghasilan (revenue) perusahaan, di samping mampu menyejahterakan karyawannya.

Di masa purna tugasnya, kini Bapak Hendarsun Sanusiputra lebih banyak memanfaatkan waktunya untuk melakukan ibadah dan dakwah keagamaan. Beliau berdakwah hingga ke Pakistan, negaranegara
Timur Tengah, bahkan hingga Afrika Selatan. Kesukaannya menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, kini sudah jarang dilakukan. Terlebih setelah fasilitas laptop beliau rusak karena sudah berumur tua.

Bapak Hendarsun Sanusiputra menikmati hidup dengan penuh sikap “qoanah” (menerima dengan sepenuh-hati apa pun pemberian Allah SWT) dan selalu mensyukuri nikmat Allah. Beliau rimbawan
senior mantan birokrat dan petinggi BUMN yang menduduki posisi puncak, namun beliau menjalani hidup penuh dengan kesederhanaan. Motto dan semboyan hidup Bapak Hendarsun Sanusiputra adalah
memanfaatkan waktu yang tersisa untuk bekerja keras membangun mutu silaturahmi. Sambil mengakhiri bincang-bincang, dengan nada gurau beliau mengutip sebuah ceramah agama (da’wah) di negara Suriname yang disampaikan dengan logat bahasa Banyumasan sebagai-berikut :

“Para sedherek sing dimulia-ken Allah ta’ngala, nek panjenengan wis mati kabeh, omahe neng endi ?” (“Saudara-saudara yang dimuliakan oleh Allah SWT, apabila Saudara meninggal, rumahnya ada di mana ?”)

“Ya, neng kuburan” (“Ya, di kuburan/makam”).

“Neng kuburan, ora akeh sing digawa” (“Di kuburan, tidak banyak yang dibawa”)

“Gedong magrong-magrong ora digawa” (“Gedung/rumah yang mewah, tidak dibawa”)

“Montore sing kinclong-kinclong ora digawa” (“Mobilnya yang mengkilat, juga tidak dibawa”)

“Bojone sing moblong-moblong ya ora digawa” (“Istrinya yang cantik jelita pun tidak akan dibawa pula”).

Ceramah di Suriname di atas mengingatkan, bahwa orang setelah meninggal-dunia tidak akan membawa materi apa pun. Karena itu mumpung masih hidup di dunia, maka manfaatkanlah waktu yang
tersisa dengan sebaik-baiknya untuk bekerja keras membantu sesama. Inilah sekelumit teladan yang patut dicontoh dari seorang Hendarsun Sanusiputra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *